Rabu, 22 November 2017

Music Technology Lifestyle

Gambang Kromong, Instrumen Pribumi Betawi, Kolaborasi Budaya Lokal dan Tiongkok

Penulis :
Selasa, 17/10/2017 12:03:58 | Dibaca: 159




Gambang Kromong, Instrumen Pribumi Betawi, Kolaborasi Budaya Lokal dan Tiongkok

Negeriku Indonesia


Compusiciannews.com -Sosial Budaya- Melalui pelantikan Anies Baswedan dan Sandiaga Uno sebagai Gubernur dan Wakil Gubernur DKI Jakarta periode 2017-2022 melahirkan sebuah trend frase Pribumi, yang dilontarkan oleh Anies Baswedan saat pidato pelantikannya pada hari Senin (16/10) di gedung Istana Negara.

Sontak kata Pribumi ini langsung membuat para netizen bereaksi dan mengeluarkan suara mereka di akun sosial media. Pasalnya, cukup ambigu seorang pemimpin daerah mengucapkan kata yang sebenarnya cukup sensitif didengar, apalagi Anies Baswedan sendiri bukanlah warga asli Jakarta.

Berbicara mengenai Pribumi, menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), adalah penghuni asli, yang lahir dan tumbuh di daerah yang bersangkutan. Dalam hal ini pengertian Pribumi mengacu pada domisili, bukan yang berhubungan dengan etnis, suku maupun agama.

Jadi apapun latar belakang seseorang, baik itu dari segi suku, agama dan rasnya, selama dia lahir dan bertumbuh dan memiliki identitas resmi sebagai penghuni daerah itu, sudah disebut sebagai Pribumi.

Pribumi tidak melihat suku, ras dan agama sebuah kelompok, berarti dengan melihat pengertian KBBI sendiri, pribumi juga terdiri dari keberagaman budaya. Seperti pada alamt musik Gambang Kromong, yang merupakan salah satu musik tradisional perpaduan unsur budaya lokal Jawa dan Tiongkok

Sebutan Gambang Kromong sendiri sebenarnya berasal dari dua buah alat perkusi yaitu gambang dan kromong. Bilahan gambang terdiri dari 18 buah biasanya dibuat dari kayu suangking, huru baru, atau kayu jenis lainnya yang empuk bunyinya bila dipukul. Sedang kromong yang berjumlah 10 buah (pencon) terbuat dari perunggu atau besi.

Kaitannya secara fisik, unsur Tiongkok tampak pada alat musik geseknya, yaitu tehyan, kohangyang, dan sukong. Disisi lain unsur budaya lokal terdapat pada alat musik gambang, kromong, gendang, kecrek, dan gong.

Pada awalnya Orkes ini adalah perkembangan dari Orkes Yang Khim dengan peralatan musik yang terdiri atas yag khim, sukong, thehian, kongahian, hosiang, sambian, sulingpan, dan ningnong, yang dibawa ke Nusantara oleh para keturunan Tiong Hoa.

Karena tidak semua alat-alat musik tersebut bisa didapatkan di Nusantara, maka alat musik pengiring mulai diganti dengan gambang yang larasnya disesuaikan dengan notasi yang diciptakan orang-orang Hokian. Perkembangan Orkes Yang Khim kemudian disebut Orkes Gambang.

Sebelum berkembang dan berakulturasi dengan budaya lokal, Orkes-orkes tersebut hanya sering dimainkan oleh para peranakan saja. Lagu-lagu yang seing dibawakan pun merupakan lagu-lagu Tiongkok, sehingga acapkali disebut sebagai Gambang Tiongkok.

Baru pada 1880 atas usaha Tang Wangwe serta dukungan dari (Wijkmeester) Pasar Senen, Teng Tjoe, Orkes Gambang diengkapi peralatan musik setempat, seperti keromong kempul, gendang, dan gong. Lagu-lagunya pun berakulturasi dengan lagu daerah seperti lagu-lagu Sunda populer.

 

loading...




nilai



Berita Terkait :

Komentar Anda