Institut Musik Jalanan, Komunitas Musik Bagi Mereka yang Terpinggirkan

Spread the love
  •  
  •  
  •  

 

Compusiciannews.com – Komunitas – Perda Kota Depok No.16 tahun 2012 mengatur tentang larangan memberi uang kepada pengemis/pengamen atau anak jalanan sudah diperlakukan oleh pemerintah Kota Depok. Meski di satu sisi peraturan ini punya tujuan baik, di sisi lain ada nasib pengamen dan musisi jalanan ternyata dipertaruhkan.

Selain sumber penghasilan mereka yang terancam mati, ruang berkarya untuk pengamen dan musisi jalanan pun semakin terbatasi. Padahal, selama ini ruang berkarya bagi musisi jalanan terbilang sempit. Sulit bagi mereka untuk menembus indutsri musik lantaran berbagai keterbatasan.

Sama halnya yang terjadi pada anak-anak jalan, khususnya mereka yang memiliki talenta bermusik. Jalanan, perempatan lampu merah, hingga angkot dan bus kota sudah jadi ibarat panggung yang sayangnya akan semakin dibatasi.

Hal itulah yang kemudian digagas oleh 3 orang pemuda. Andi Malewa, pendiri rumah baca terminal Depok; Iksan Skuter, musisi dan music director; Frysto Gurning, entrepreneur. Berawal dari sebuah perbincangan sederhana di tahun 2013, ketiganya kemudian sepakat membentuk Institut Musik Jalanan.

Institut Musik Jalanan mewadahi para musisi jalanan untuk menghasilkan karya yang diharapkan bisa bersaing di industri musik modern. Institut Musik Jalanan memproses lagu dan mencetaknya karya-karya para musisi untuk kemudian dikemas dalam format CD agar bisa dipasarkan. Proses pemasarannya pun cenderung menggunakan cara-cara indie, yaitu direct selling di angkutan-angkutan umum.

Di Institut Musik Jalanan, para pengamen dan musisi jalanan dibimbing dan diarahkan agar bisa mematangkan karyanya. Mengaransemen lagu bahkan memprosesnya hingga tahap recording.

Institut Musik Jalanan sendiri menempati sebuah gedung di atas tanah seluas 300 meter persegi dengan status sewa. Selain menyediakan fasilitas rekaman gratis bagi pengamen dan musisi jalanan, Institut Musik Jalanan juga memiliki fasilitas penunjang lainnya seperti panggung dan ruang pembekalan kelas musik.

Untuk biaya operasional, Institut Musik Jalanan mengandalkan beberapa unit usaha yang memang digarap serius seperti kedai kopi hingga distro. Sementara untuk mempublikasikan karya dan kegiatan di Institut Musik Jalanana, sosial media menjadi sarana penunjang utamanya.

 

 

 

 

Facebook Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *