Les Musik Online

CompusicianNew.com – Isu Terkini – Virus Corona atau kita kenal dengan Covid19 sudah 2 bulan terakhir melanda Indonesia, bahkan selama 5 bulan di tahun 2020 sudah merata kedunia. Sampai tulisan ini ditayangkan, worldometers.info web yang terus memperbaharui data Covid19, mempublikasikan 213 negara dari semua benua sudah terkena virus ini (sumber).

Masalah pandemi ini telah bergerak dengan cepat menjadi masalah ekonomi dan sosial, karena ekonomi boleh dikatakan lumpuh.  Tidak terkecuali, bisnis pendidikan terkena dampak yang signifikan. Meskipun demikian, harus diakui bahwa normal baru (new normal) yang terjadi, yaitu belajar daring (belajar secara onlen), mampu memberikan harapan bagi para pelaku bisnis pendidikan.

Bagaimana Dengan Les Musik?

3 kategori besar bisnis les ada 3 besar, yaitu: bimbel (pelajaran sekolah), bahasa Inggris, dan musik. Les-les yang lain mungkin ada, tapi pangsa pasar yang ada tidak sebesar ketiga kategori itu. Mungkin yang akan segera menyusul adalah kategori programming.  Karena Covid19 memaksa semua pelanggan maupun calon pelanggan akan “migrasi” ke dunia digital, tidak ada cara lain.

Les musik online menjadi alternatif yang tak terelakkan. Bahkan sebelum Covid19, sekolah musik kesohor sepert Berklee College of Music sudah mengantisipasi dengan Berklee Online (online.berklee.edu) dan konon mampu meraup pendapatan yang tidak kalah dengan tradisional.  Perubahan prilaku yang sangat menarik, khususnya dalam pendidikan musik yang sangat menekankan kepada experiential learning (pembelajaran pengalaman)

Ada banyak isu seputar pembelajaran online atau daring ini, terutama dalam pembelajaran musik. Les musik onlen ini benar-benar menjadi fenomena baru, bahkan mungkin menjadi normal baru.

Dengan koneksi internet yang lebih mapan, dan teknologi digital yang semakin mumpuni, dan perilaku baru generasi milineal, apakah ada kemungkinan akan mematikan les musik tradisional?

Sebuah perilaku baru akan terbentuk dalam waktu yang cukup sehingga otak kita menyerap sebagai sebuah kenormalan. Jadi, jawaban pertanyaan ini sangat tergantung dengan berapa lama Covid19 akan selesai, dan semua ekosistem pendidikan berjalan normal kembali.

Saya katakan ekosistem, karena pendidikan tidak bisa berdiri sendiri. Meskipun les musik sudah dibuka offline, tapi kemudian tidak ada tempat untuk kita berekspresi seperti di mall, resto, atau hotel misalnya, maka perilaku yang terbentuk juga berbeda.

Belum lagi, melambatnya ekonomi akan membuat pelanggan akan memprioritaskan kebutuhan primer, sekunder, bahkan sampai yang ke tersier.  Termasuk dimanakah les musik online? Diantara sekunder dan tersier, dan mungkin bagi yang benar-benar “terpanggil” dimusik akan masuk ke primer (untuk cari makan).

Jadi, prediksi yang terbaik saat ini adalah terbentuknya perilaku pembelajaran onlen paska Covid19 adalah keniscayaan.  Dan itu termasuk les musik onlen.  Apakah les musik onlen akan membunuh les musik tradisional, mungkin tidak, tapi akan terjadi keseimbangan baru.

Kesempatan Baru Musik Digital

SMI (Sekolah Musik Indonesia) adalah salah satu sekolah musik yang sejak kehadirannya 1 dekade yang lalu 2010 mensegmentasikan diri kepada Music Technology Education (Pendidikan Musik Teknologi). Sebagai perintis, saya masih hangat dalam ingatan, memperkenalkan kepada orang tua MTL (Multimedia Technology Lab) adalah sesuatu yang sangat sulit.

Belajar musik mengapa harus belajar software-software segala? 10 tahun pertanyaan itu menghantui bukan hanya pelanggan, tapi juga guru, manajemen, bahkan investor.  10 tahun sudah berlalu dan sekarang platform Youtube, Spotify, Apple Music, dan agregator-agregator musik sudah menjadi kanal-kanal utama dunia musik.

Covid19 membuat musik digital semakin menemukan jati dirinya, les musik melalui video, bahkan instajam yang dilakukan Indra Lesmana, dan sekarang online-online konser yang dilakukan para artis dunia membuat kesempatan-kesempatan baru di dunia digital semakin besar.

Bagi saya pribadi, sebuah kebahagiaan tersendiri melihat semua thesis pemikiran saya selama 10 tahun terakhir sedang terjadi. Belajar musik tidak lagi hanya belajar instrumen, tapi harus mengerti tool-tool yang benar. Software-softare DAW (Digital Audio Workstation), notasi, sampai learning apps seperti Band-In-A-Box sudah seharusnya menjadi seperti Microsoft Word, dan Excel, Photoshop, Camtasia, Premier, dan sebagainya.

Dan bagi orang tua yang menyadari lebih dalam, Content Creator Industry (industri membuat konten), adalah industri masa kini dan masa depan. Artinya, les musik yang tidak sekedar mengajarkan “bisa main lagu”, tapi benar-benar mengerti  konsep musik bisa menjadi investasi bagi anak-anak kita.

Bayangkan, dikelas privat anak kita belajar memainkan instrumen, dikelas grup dia mampu bermain bersama yang lain, dan dikelas MTL (Multimedia Technology Lab) dia belajar software-software yang dibutuhkan untuk berproduksi, dan mendistribusikan hasil karya secara digital.  Meskipun nantinya dia tidak menjadi pemain musik profesional, tapi semua bisnis apapun akan membutuhkan pemasaran digital, dan disana ada audio, video, copywriting, dan programming.   Apakah kita percaya sekarang?  

Hanny Setiawan, MBA
Founder SMI
Sekolah Musik Indonesia
Developing People is Our Business

Facebook Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *