Nyanyi Lagu Barat Dipenjara di Era Orde Lama, Kok Bisa?

Spread the love
  •  
  •  
  •  
Foto : Google

Compusiciannews.com – Akhir-akhir ini, ajang pencarian bakat bernyanyi, banyak menyuguhkan lagu-lagu barat dalam kompetisi setiap minggunya. Komposisi lagu barat bisa terhitung hampir 90% dari daftar lagu pilihan kontestan. Indonesian Idol contohnya, semenjak keterlibatan musisi Ahmad Dhani menjadi salah satu juri di ajang pencarian bakat  itu di tahun 2012 silam, bisa dikatakan lagu-lagu Billboard atau lagu-lagu barat mendominasi daftar lagu pilihan kontestan

Selain itu, banyak juga YouTuber Indonesia yang menyanyikan ulang lagu-lagu barat yang memang sedang viral, seperti lagu “Payphone” dari Marroon 5, “Someone Like You” dari Adele dan lagu-lagu barat kekinian sekarang ini. Mereka dengan bebas membawakan lagu-lagu yang memiliki unsur kebarat-baratan itu.

Berbeda di era Orde Lama (1945-1965) yang berada dibawah rezim Presiden Soekarno yang menolak tegas musik-musik dengan unsur imperialisme barat atau yang saat itu dikenal sebagai musik Ngak-Ngik-Ngok, sebutan stereotype karena ada bunyi-bunyi instrumen gesek, tiup, dan instrumen-instrumen lainnya yang erat dengan musik yang kebarat-baratan

Koes Bersaudara adalah saksi hidup bagaimana tekanan Orde Lama menekan kebebasan berekspresi musisi Tanah Air kala itu. Band yang  yang fenomenal itu terpaksa harus menelan pil pahit dengan dijebloskan ke penjara tanpa melalui persidangan sehabis menyanyikan lagu dari The Beatles, “I Saw Her Standing There”, yang sangat popular di awal era 1960an dan baru bebas setelah G 30 S PKI.

Dikutip dari sebuah situs, Koes Bersaudara yang sebenarnya sudah mendapatkan empat kali peringatan untuk tidak menyuguhkan musik Ngak-Ngik –Ngok, tidak tahan untuk merespon permintaan Duta Besar Inggris dan Amerika Serikat untuk Indonesia di sebuah hajatan, untuk menyanyikan lagu The Beatles, imbasnya satu band Koes Bersaudara dijebloskan ke penjara yang ada di Glodok

Dilansir dari situs Tirto.id, Koes Bersaudara menjadi band yang pertama kali muncul dalam sejarah pidato Presiden Republik Indonesia pada peringatan Kemerdekaan RI, 17 Agustus 1959. Pasalnya, Koes Bersaudara dianggap kebarat-baratan, Presiden Soekarno pun memberi peringatan untuk berhenti bersikap seperti antek asing karena banyak lagu-lagu Indonesia yang juga viral saat itu.

Menurut Hesri Setiawan dalam buku yang berjudul Kamus Gestok (2003), musik Ngak-Ngik-Ngok dianggap sebagai gejala mencolok dari imperielsime barat, karena itulah kebudayaan Ngak-Ngik-Ngok adalah gejala sosial yang harus diganyang

Selain Koes Bersaudara, boneka karet yang dikenal dengan nama Dakocan, termasuk nyanyiannya yang menjadi populer melalui Alm. penyanyi Lilies Suryani pun dilarang dijual dan disiarkan. Bahkan larangan itu sempat menjalar ke musik jazz, seperti musik yang biasa dimainkan oleh kelompok musik pimpinan Hugeng Slamet Imam Santoso.

Facebook Comments