Musik Era Orde Baru : Berjaya Saat Rezim Berkuasa

Spread the love
  •  
  •  
  •  

Foto: Google (Alinea.id)

Compusiciannews.com – Bergantinya masa Orde Lama ke Orde Baru menjadi awal kebangkitan industri musik nasional setelah selama lebih dari satu dekade, ekspresi para musisi Tanah Air dibatasi dari unsur-unsur yang berbau imperialisme asing. Jika pada masa kepemimpinan Presiden Soekarno melarang musik dan musisi yang berkiblat barat, berbeda dengan Presiden Soeharto yang justru memberlakukan sebaliknya.

Koes Bersaudara yang merupakan cikal bakal Koe dijebloskan ke penjara Glodok pada 29 Juni 1965 karena menyanyikan lagu dari The Beatles yang berjudul “I Saw Her Standing There” dalam sebuah hajatan di rumah seorang kolonel, akhirnya dibebaskan setelah dua bulan mendekam di penjara atas tindakan subversif yang tertulis dalam Garis-Haris Besar Haluan Negara (GBHN) pada kurun waktu 1959-1967

Soeharto pada masa pemerintahannya selepas Soekarno memberikan kebebasan kepada para musisi untuk berkreasi sepuas hati. Larangan mengedarkan album musik maupun membawakan segala jenis lagu-lagu pun dicabut. Alm Denny Sakrie dalam bukunya yang berjudul “100 Tahun Musik Indonesia”, terbitan Gagas Media menuliskan pernyataan manis yang ada pada halaman 84, yang berbunyi “Lembaran baru bagi dunia musik Indonesia telah terbuka” merupakan bentuk respon dari seorang pakar musik di era kebebasan yang diberikan pada era Orde Baru silam. 

Hasilnya terlihat dalam daftar “150 Album Indonesia Terbaik Sepanjang Masa” versi majalah Rolling Stone Indonesia (RSI) yang termuat dalam edisi 32, terbitan Desember 2007, dimana 15 daftar lagu terbaik sebagian besar adalah album-album yang dirilis sepanjang kurun tahun 1970-an. Album-album itu diantaranya ada “Badai Pasti Berlalu” (1977), “Api Asmara” (1975), “Ken Arok” (1977), “Begadang” (Rhoma Irama, 1978), “Yopie Item & Idris Sardi Live” (1977) dan “Musik Saya Adalah Saya” (1979).

Meskipun kebebasan bermusik diberikan di era Orde Baru, namun tetap ada larangan untuk beberapa jenis lagu tertentu dari pemerintah, seperti melarang lagu-lagu cengeng yang trend di era 80an, seperti lagu-lagu dari Betharia Sonata, Obbie Mesakh dan Nia Daniati. Menteri Penerangan saat itu, Harmoko, mengecam lagu-lagu jenis tersebut dengan melarang  penayangannya di stasiun televisi, TVRI.

Lagu-lagu cengeng itu menurut Harmoko tidak sesuai dengan derap pembangunan pemerintah Orde Baru. Hampir tak ada perlawanan atas pelarangan ini, juga tak ada represi dari penyanyi dan pencipta lagunya.

Selain lagu-lagu cengeng, lagu-lagu yang berbau kritikan juga dilarang. Tapi anehnya, Rhoma Irama, Iwan Fals, Doel Soembang dan beberapa penyanyi kritis lainnya tidak dikecam. Hal ini dimungkinkan karena penyanyi-penyanyi ini memiliki basis penggemar yang besar kala itu. Padahal pelarangan lagu-lagu yang bersifat kritis ini sudah ada sejak awal berdirinya Orde Baru.

Lagu-lagu berbahasa Mandarin juga  secara resmi dilarang saat itu melalui Surat Edaran Presidium Kabinet Ampera Nomor SE-06/Pred.Kab/6/1967 tanggal 28 Juni 196, diikuti dengan pelarangan perayaan Tahun Baru Imlek dan budaya-budaya Tiongkok lainnya. Hal ini sebagai bentuk filterisasi pemerintah pengaruh komunisme yang pernah  masuk ke Indonesia.  

Facebook Comments