Melawan Lupa, Musisi “Nyentrik” Ini Pernah Plesetkan Lagu “Garuda Pancasila” Sebagai Tanda Kritik

Spread the love
  •  
  •  
  •  
Foto : Google (Izbio)

Compusiciannews.com – Hari Pancasila adalah perayaan lahirnya falsafah bangsa Indonesia pada tanggal 1 Juni 1945 silam. Ditentukannya tanggal ini merupakan hasil pidato oleh Ir Soekarno pada tanggal yang sama dengan didahului dengan diadakannya sidang pertama Dokuritsu Junbi Cosakai atau Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) pada 28 Mei hingga 1 Juni 1945. Sidang itu digelar di Gedung Chuo Sang In yang sekarang dikenal dengan nama Gedung Pancasila

Sebelum Hari Lahir Pancasila ditetapkan sebagai Hari Libur Nasional, Sekolah dan Instansi Pemeritah biasanya menggelar upacara pada 1 Oktober, yaitu Hari Kesaktian Pancasila yang merupakan hari dimana ideologi bangsa tetap berdiri teguh dari pengaruh ideologi asing, dan tak lupa lagu “Garuda Pancasila” karangan Sudharnoto selalu dikumandangkan [Baca artikel “Sudharnoto, Sosok Dibalik Mars “Garuda Pancasila” yang “Hiperaktif” di Dunia Musik”]

Namun melawan lupa, ideologi  bangsa ini sempat mendapatkan kritikan tajam dari musisi dan seniman. Seperti yang diketahui bahwa pada tahun 2001 silam, tepatnya pada perayaan Hari Kemerdekaan RI, 17 Agustus 1945 yang ke 53, musisi dan seniman nyentrik Harry Roesli menyanyikan lirik lagu “Garunda Pancasila” dengan mengganti liriknya dengan kata-kata kritikan, berikut ini lirik lagu nasional itu versi Harry Roesli

/Garuda Pancasila/Aku lelah mendukungmu/Sejak Proklamasi/Selalu berkorban untukmu/Pancasila dasarnya apa?/Rakyat adil makmurnya kapan?/Pribadi bangsaku/Tidak maju..maju?Tidak maju..maju/

Lagu “Garuda Pancasila” versi plesetan ini dia nyanyikan tepat didepan kediaman mantan Presiden Republik Indonesia Abdurrahman Wahid. Karena hal itu,  dirinya sempat terancam hukuman, pasalnya, seniman asal Bandung ini diduga melanggar Undang-Undang KUHP Pasal  154 tentang tindakan mengujar kebencian, hasutan dan penghinaan terhadap ideologi  bangsa.

Melangsir situs tempo.co, Harry yang dikenal dengan seniman dan musisi kritis itu mengaku bersalah dan kilaf serta meminta maaf atas tindakan memlesetkan lirik lagu “Garuda Pancasila”. Hal itu dia lakukan sebagai bentuk kritik kepada pemerintah yang belum dapat merealisasikan prinsip-prinsip yang ada pada lima sila Pancasila itu.

Dia juga meminta maaf kepada keluarga Sudharnoto karena telah merusak karya kebagsaan yang diciptakan oleh musisi kebanggaan bangsa itu dan pihak keluarga Sudharnoto juga sudah mengabulkan permintaan maaf. Musisi dengan nama asli Djauhar Zaharsjah Fachruddin Roesli itu juga mengajukan penangguhan penyelidikan, namun seiring berjalannya waktu, isu ini menghilang dengan sendirinya dan tidak ada investigasi lebih lanjut

Harry Roesli meninggal pada tahun 2004 (usia 53 tahun) akibat serangan jantung. Dia meninggalkan banyak karya musik, salah satu diantaranya adalah terpilihnya lagu “Malaria” dari album “Philosophy Gang” sebagai “Lagu Terbaik Indonesia yang ke 44” versi majalah Rolling Stone Indonesia pada tahun 2009 silam.

Hari Kelahiran Pancasila sendiri secara resmi ditetapkan sebagai Hari Libur Nasional oleh Presiden Joko Widodo melalui Keputusan Presiden Nomor 24 Tahun 2016. Jokowi menyampaikan keputusan ini melalui pidato pada peringatan Pidato Bung Karno 1 Juni 1945, di Gedung Merdeka, Bandung pada 1 Juni 2016.

Facebook Comments