Benny Likumahuwa, Sosok Musisi Jazz Legendaris Indonesia yang Paling Berdedikasi

Spread the love
  •  
  •  
  •  
Foto: Google

Compusiciannews.com – Indonesia kembali kehilangan sosok legendaris dari dunia musik, setelah sebelumnya Glenn Fredly dan Didi Kempot meninggal dunia pada bulan April dan Mei lalu, kini, awal juni 2020, musisi legendaris nasional,  Benny Likumahuwa telah berpulang ke Sang Khalik, Selasa (09/06/2020) lalu akibat penyakit komplikasi.

Kelahiran Kediri, 18 Juni 1946, Benny dikenal sebagai musisi jazz senior Indonesia. Bakat bermusiknya yang mengalir di darahnya membuat Benny belajar musik sejak berusia 8 tahun. Karena sang ibu sudah mengenal musik sebelumnya, Benny tidak mengalami kesulitan saat belajar musik. Bahkan notasi musik bisa dia pelajari secara otodidak.

Berbagai alat musik ia taklukan, mulai dari alat musik tiup, seperti klarinet, saksofon, maupun trombone. Penguasaan alat musik tiup ini dia gandrungi saat dia mulai tertarik dengan musik jazz. Pada tahun 1966, Benny bergabung  dengan Cresendo Band dari Bandung, dua tahun kemudian, tepatnya tahun 1968, Benny bergabung dengan The Rollies yang juga mempertemukan dirinya dengan Alm Gito Rollies.

Dia juga sempat melakukan rekaman untuk sebuah label musik asal Amerika Serikat, Polygram di Singapura serta melakukan tur keliling Indonesia. Kepiawaiannya dalam bermain musik yang beragam,  tidak hanya instrument tiup saja namun juga bass, membuat dirinya semakin dikenal, tidak hanya dalam negeri saja, namun hingga luar negeri.

Benny pernah juga tampil di klub-klub malam kota Bangkok, Thailand, kemudian dia membentuk band The Augresindo dan bermain keliling Asia. Sekembalinya ke Tanah Air, ia bergabung dengan The Jazz Raiders, Jack Lesmana Combo dan Trio ABC, yang terdiri dari Abadi Soesman,  dirinya dan Candra Darusman. Kemudian pada tahun 1980, Benny bergabung lagi bersama Ireng Maulana All Star serta bermain freelance dengan kelompok jazz lainnya.

Benny banyak tampil di festival-festival jazz internasional yang bergengsi, seperto The Singapore Jazz Festival (1986), The Jakarta Jazz Festival (1988), The North Sea Jazz Festival Belanda  (1990), The ASEAN Jazz Festival (1992) di Kuala Lumpur, Malaysia dan Malaysia Jazz Festival (1994).

Tahun 1996, Benny membentuk Benny Likumahuwa Big Band dan sering bermain di Jakarta, Surabaya dan Bali, kemudian rekaman untuk ketiga kalinya di tahun 1999 di The Lion Studio-S’pore untuk Sangaji Music Co. Sebelumnya di tahun 1997, dirinya pernah tampil di The International Dixie Land Festival di Dresden, Jerman, The North Sea Jazz Festival dan masih banyak projek dan festival yang dia ikuti, baik skala nasional dan internasional.

Karena begitu besar dedikasinya pada dunia musik, pada tahun 1985 silam, ia bersama rekannya sesama musisi jazz, Jack Lesmana mendirikan sekolah musik yang dikenal dengan nama Sekolah Musik Farabi. 31 tahun kemudian, dirinya bersama Todung Padjaitan, Gilang Ramadhan, Donny Suhendra, Krisna Prameswara dan Annette Frambach membentuk tim perencana Gladiresik Music Lab dan dirinya berperan sebagai Academic Consultant  hingga saat ini. Hal ini dilakukan sebagai  bentuk dirinya bisa melakukan regenerasi musik jazz kepaada musisi-musisi muda, seperti yang dia sudah lakukan kepada anaknya, Barry Likumahuwa yang juga seorang basis ternama Indonesia

Benny juga pernah mendapatkan penghargaan sebagai The Most Dedicated Indonesian Jazz Artist oleh Java Jazz Festival. Sampai sebelum meniggal,Benny masih aktif bermusik, salah satunya dengan menjadi guru musik di Sekolah Musik Farabi yang dia dirikan bersama Jack Lesmana

Sebelum meninggal dunia, Benny sebenarnya punya satu permintaan untuk bisa menggarap semi orketra band, namun permintaan ini belum bisa diwujudkan lantaran sang legendaris sudah dipanggil Yang Maha Kuasa terlebih dahulu

Facebook Comments