Terbeban Angkat Musik Daerah, Seorang Etnomusikolog Muda Lakukan Eksplorasi Daerah

Spread the love
  •  
  •  
  •  
Foto : Dokumentasi Luqmanul Chakim

Compusiciannews.com – Lahir 3 Februari 1994, Luqmanul Chakim (baca:Hakim) atau yang akrab disapa Luqman ini adalah salah satu peserta dari program HP Mentorship Project asal Wonosobo, Jawa Tengah,  yang diadakan oleh HP Inc Indonesia pada 18-19 Januari 2020 silam.

Tidak disangka-sangka, dirinya dengan bimbingan langsung dari pakar EDM (Electronic Dance Music) Indonesia, dirinya tidak hanya terpilih menjadi salah satu peserta di program bergengsi itu, namun juga muncul sebagai pemenang dengan karyanya yang resmi dia rilis di kanal YouTube pada 13 Juni 2020 silam, berjudul “Bunyi Sembunyi”

Luqman adalah lulusan Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta, jurusan Etnomusikologi. Meskipun dia akui awalnya salah mengambil jurusan, namun pada akhirnya, Luqman mendapatkan inspirasi untuk berkarya sebagai etnomusikolog di tahun terakhir kuliahnya yang dia tempuh selama 5 tahun. Dihubungi oleh CN, dirinya menyadari bahwa ada filosofi kuat di setiap instrumen daerah yang bisa dikembangkan.

Semenjak lulus dari ISI Surakarta pada 2017 silam, dirinya mulai melakukan eksplorasi dan penelitian untuk mencari bunyi-bunyi yang unik di berbagai daerah. daerah seperti Gule Gending dari Lombok, Trompet Ngomong dari Demak, Bindeng dari Wonosobo, Jemblung dari Banyumas.

Dengan dipadukan musik modern melalui software musik digital yang berkembang, dia menuangkan karyanya dalam komposisi musik yang ditampilkan di beberapa acara  termasuk “What is Bundengan” (2018 dan 2019), meng-aransemen 7 lagu daerah di ulang tahun Gramedia ke-50, hingga akhirnya menggandeng musisi lokal Wonosobo dalam sebuah karya bertajuk “Bunyi Sembunyi” (2020).

Sebelumnya, Luqman berkolaborasi dengan musisi Wonosobo dalam aransemen baru lagu Jawa “Lir-ilir” yang memadukan alat musik bundengan, gamelan, beat box dan EDM. Dalam kesehariannya, Luqman aktif memperkenalkan musik tradisional Indonesia lewat unggahan di media sosial dengan nama akun @luq_music (Instagram dan Twitter)

Banyak pengalaman unik yang dia lewati selama masa eksplorasinya yang berlangsung selama 3 tahun terakhir, seperti saat di Lombok untuk meneliti Gule Gending, ternyata musik itu sering digunakan oleh  penjual gulali, dan dari penelitiannya itu, dia menemukan bahwa musik daerah memiliki hubungan kuat  dengan food production di Lombok karena rata-rata penjual makanan disana rupaya banyak menggunakan musik daerah untuk menarik perhatian pembeli.

Selama masa eksplorasinya, Luqman mengaku banyak menghadapi rintangan, salah satunya mencari komunitas penggiat musik daerah di berbagai daerah, diakuinya sangat sulit karena musik yang dia cari itu rupaya hampir tidak ada yang mengenali, khususnya dari kalangan milenial.

“Anak-anak muda sudah tidak mengenali bunyi khas dari daerahnya, padahal itu kan asset besar yang bisa dikembangkan. Saat saya bisa bertemu langsung dengan komunitas penggiat musik daerahnya, seperti musik Jemblung, ternyata komunitasnya kebanyakan sudah lansia” ungkap Luqman kepada CN

Faktor ini juga yang mendorong pria yang juga pernah mengambil studi Jurnalisme dan Komunikasi Masa selama 1 semester di Thammasat University, Bangkok, Thailand (2015) ini untuk berkarya, mengembangkan bunyi-bunyi unik dari berbagai daerah yang bisa dikembangkan dan diperkenalkan ke masyarakat, dari kaum milenial di Indonesia hingga dunia. Tahun 2018, dirinya bersama musisi lokal Wonosobo, telah mementaskan musik Bundengan di Australia hingga akhirnya dia bisa berkolaborasi dengan komposer dari negeri kanguru itu dalam acara Mapping Melbourne 2018 dan The Sound of Shadow di Sidney dan Melbourne.

Melihat fenonema K-Pop saat ini yang sudah mewabah dimana-mana, Luqman yang juga fasih Bahasa Inggris dan Thai ini yakin dengan kolaborasi yang sinergis antar pemerintah, media dan komunitas seni dapat memperkuat eksistensi musik Indonesia semakin kuat di negeri sendiri, bahkan bisa bersaing dengan K-Pop di kancah musik dunia.

Dengan adanya fenomena “Lathi” yang dibuat oleh 3 pakar EDM di Indonesia, Weird Genius, dengan Eka Gustiwana sebagai salah satu personelnya, harapannya bisa menjadi awal dari bangkitnya musik Indonesia kedepannya. Luqman juga berharap bahwa kolaborasinya tidak hanya dengan musik EDM dipadukan dengan musik tradisional, tapi juga ada  kolaborasi dengan genre-genre musik  lainnya

“Saya sih berharap bisa kolaborasi dengan musik-musik lain, seperti musik afrika, musik eropa, dan musik-musik lainnya, jadi biar ada variasi.” Pungkas Luqman

Facebook Comments