TikTok Diisukan Lakukan Pengumpulan Data Berlebih, Pakar : ‘Jauhi Aplikasi Itu Sekarang!’

Spread the love
  •  
  •  
  •  
Foto : Google

Compusiciannews.com – Tahun lalu, platform media sosial terbesar Facebook mengalami kebocoran data penggunanya yang berjumlah lebih dari 260 juta dari 2,6 milyar pengguna keseluruhan. Kebocoran yang terjadi ini membuat data pribadi para  penggunanya terekspos luas secara daring. Dengan bocornya data ini, dapat menimbulkan tindakan cyber crime yang dikenal dengan phishing, oleh oknum-oknum yang tidak bertanggung jawab

Tindakan phishing ini bisa berupa pembajakan sistem operasi pada sebuah gadget, pengiriman email-smail sampah (spam )dari situs yang tidak jelas hingga melakukan kontak langsung dengan target korban. Dilansir dari situs extremetech.com, pihak Facebook menjelaskan bahwa kebocoran data ini diasumsikan terjadi sebelum saat perusahaan mengganti API (Application Programing Interface) tahun lalu. Namun pihak Facebook telah melakukan investigasi penuh dengan mengeluarkan dana ganti rugi atau perbaikan  sebesar US$ 3 Milyar atau setara dengan Rp 43 Triliun

Melihat fenomena kebocoran data pengguna yang terjadi pada platform besar seperti Facebook, asumsi kurangnya keamanan pada aplikasi media sosial serupa pun muncul. Salah satunya menimpa akun media sosial yang saat ini sedang booming, yaitu TikTok. Aplikasi buatan Tiongkok dengan basis pengguna lebih dari 100 juta ini sedang diisukan mengalami hal serupa seperti Facebook, dimana banyaknya data pengguna yang terekspos secara luas.

Isu ini muncul setelah seorang pakar anonim dengan inisial nama u/bangorlol melakukan rekayasa balik pada aplikasi ini dan menyebutkan TikTok melakukan pengumpulan data pengguna secara berlebihan. Sebelumnya, dilansir dari situs screenrant.com, aplikasi Tiongkok ini sudah masuk dalam radar investigasi pemerintah dan ahli teknologi, pasalnya tahun 2019 silam, sebuah sengketa diajukan di California dikarenakan isu pengiriman data biometrik pengguna ke pemerintahan Tiongkok yang berhasil diidentikfikasi.

Selain itu, TikTok juga dituduh menghapus konten-konten yang yang dianggap melawan pemerintah Tiongkok, namun isu-isu mengenai kasus #GeorgeFloyd dan #BlackLivesMatter yang merupakan cambukan besar bagi Amerika Serikat diangkat secara luas, hal itu menimbulkan kecurigaan yang semakin tinggi bahwa aplikasi ini merupakan media perang dingin Tiongkok untuk menumbangkan Amerika Serikat (mengingat kedua negara sedang dalam masa perang dagang besar).

Dia (pakar anonym) menjelaskan dalam tulisan panjang pada media Reddit, menggabarkan bagaimana dan informasi apa saja yang aplikasi ini kumpulkan, sementara aplikasi media sosial ini berjalan sebagaimana mestinya.

Sang pakar ini juga menjelaskan bahwa TikTok melacak  keberadaan pengguna yang merupakan bentuk pelanggaran privasi. Dia juga menduga bahwa proxy server yang diatur oleh aplikasi untuk media transcode dapat digunakan  atas tujuan penggumpulan data tambahan. Pakar anonim juga mengklaim bahwa sebagian besar data yang masuk aplikasi, dapat dikonfigurasi dari jarak jauh dengan perlindungan yang memadai, serta perlindungan lainnya untuk mencegah pengguna mengetahui apa yang terjadi di balik layar.

Klaim lainnya juga menyebutkan bahwa aplikasi TikTok tidak menggunakan HTTP (The Hypertext Transfer Protocol) sebagai protokol umum sebagai srana keamanan komunkasi di dunia digital dalam waktu yang lama dan hal ini yang menyebabkan data informasi pengguna tersebar secara luas. Lewat serangkaian klaimnya ini, sang pakar anonym  itu mengajak para pengguna TikTok untuk menjauhi aplikasi tersebut

Terlepas dari validitas isu ini dikarenakan sang pakar anonym itu tidak memberikan bukti konkrit bagaimana proses rekayasa balik dilakukan, beberapa analis dari beragam media menganjurkan aplikasi TikTok untuk melakukan penelitian lebih lanjut terkait isu yang sedang berkembang ini.

Dengan mempertimbangkan basis pengguna yang besar dan berharganya data itu nantinya, sudah semestinya penelitian lebioh lanjut menjadi perhatian besar, bukan hanya demi basis pengguna saja namun industri aplikasi mobile secara keseluruhan.

Facebook Comments