Dangdut Koplo; Musik yang Lahir dan Bangkit dari Sebuah Kontroversi Panas

Spread the love
  •  
  •  
  •  
Foto : Google

Compusiciannews.com – Mendengar alunan kendang dan instrumen musik tradisional lainnya dan kemudian digabungkan dengan musik modern seakan langsung terdorong untuk bergoyang  dan juga langsung teringat dengan penyanyi dangdut koplo yang sedang naik daun, Nella Kharisma dan Via Vallen. Dangdut koplo saat ini memang sedang digandrungi oleh kalangan milenial di Indonesia yang dibuktikan dengan popularitas 2 penyanyi cantik asal daerah tersebut dan juga Alm Didi Kempot yang dikenal dengan sebutan The Godfather of the Brokenheart lewat lagu-lagu patah hati berbahasa Jawa yang membuat hati bergejolak

Namun pernah nggak terpikirkan kapan sebenarnya eksistensi dangdut koplo muncul? Perlu kamu tahu bahwa dangdut koplo adalah sub aliran dari musik dangdut yang dikenal melalui alunan kendangnya yang membuat setiap orang yang mendengarkan ikut bergoyang. Melansir dari berbagai situs, dangdut koplo sendiri bermula di era awal millennium, dimana saat itu timbul kejenuhan akan musik dangdut yang cenderung monoton. Hingga akhirnya, komunitas musisi asal Jawa Timur mulai mengembangkan jenis musik dangdut baru yang disebut koplo.

Dangdut koplo  sendiri merupakan mutasi dari musik dangdut setelah era Congdut (Dangdut Campursari) yang kental dengan unsur tradisional ditambah dengan masuknya unsur seni musik kendang kempul  yang merupakan alat musik khas dari Banyuwangi, Jawa Timur serta irama tradisional lainnya, seperti jaranan dan gamelan. Dua tahun dari kemunculannya, dangdut koplo ini mengalami perkembangan yang pesat dengan mulai merambah hingga ke Jawa Tengah dan Yogyakarta.

Faktor yang membuat pesatnya aliran musik ini adalah keberadaan VCD bajakan yang  dengan mudah didapat dan harganyapun murah dengan kisaran harga saat itu antara Rp. 5 ribu dan Rp 10 ribu (Harga VCD orisinil saat itu kisaran Rp. 100 ribu per keping). Kesuksesan VCD bajakan tersebut juga dibarengi dengan fenomena munculnya si Ratu Ngebor, Inul Daratista yang akhirnya membuat fenomena dangdut koplo semakin meningkat ke level  nasional

Namun fenomena itu bukan berarti tidak ada halangan. Pada tahun 2003, aliran dangdut  koplo ini pernah dikecam habis-habisan oleh sang Raja Dangdut Rhoma Irama dan rekan-rekan PAMMI  (Persatuan Artis Musik Melayu Indonesia).  Saat itu pria yang akrab disapa bang haji itu menilai bahwa penampilan para penyanyi dangdut koplo, khususnya Inul Daratista yang dikenal dengan goyang ngebornya dinilai merusak citra musik dangdut lewat goyangan dan cara berpakaiannya yang dapat mengundang nafsu birahi

Kontroversi antara Rhoma Irama dan Inul Daratista ini menjadi bahwa pembicaraan media nasional dan internasional, hingga akhirnya munculah para simpatisan Inul Daratista dari beragam kalangan, baik itu musisi hingga pesinetron Indonesia yang habis-habisan membela penyanyi dengan nama asli Ainur Rokhimah itu. Bahkan dukungan juga datang dari masyarakat umum di seluruh penjuru Indonesia. Mereka menuntut Bang Haji untuk bertindak rasional dan adil dengan tidak terlalu memberi tekanan kepada Inul. Saat itu Inul sempat absen lama dari panggung hiburan, namun akhirnya karena dukungan dari berbagai pihak, pedangdut asal Pasuruan, Jawa Timur itu kembali bergoyang.

Pro dan kontra musik dangdut koplo yang meluas hingga berbagai lini akhirnya membuat dangdut koplo itu semakin populer di kalangan masyarakat. Beberapa tahun terakhir, mulai bermunculan penyanyi-penyanyi dangdut koplo, seperti Ayu Tung Ting, Siti Badriah, Zaskia Gotik, Trio Macan, Adella,  Wika Salim, Melinda, Nella Kharsima hingga Via Vallen. Masing-masing dari penyanyi ini memiliki ciri khas suara dan goyangan yang unik dan keberadaan mereka selalu menjadi viral di media sosial sekarang. Ditambah dengan bangkitnya lagu-lagu dari Alm Didi Kempot, seperti “Pamer Bojo,” “Sewu Kutha,” “Stasiun Balapan”  dan masih banyak lagi yang semakin fenomenal dengan senggakan berbau koplo “Cendol Dawet” yang diinisiatif oleh penyanyi asal Boyolali Abah Lala

Facebook Comments