Aktivis dan Penyanyi Kartika Jahja Masuk Dalam Daftar “BBC 100 Women”

 

Compusiciannews.com – Sosial Budaya – Kabar membanggakan dari salah satu musisi, penulis, aktivis, wiraswasta asal Indonesia, yaitu Kartika Jahja. Daftar “BBC 100 Women” yang dirilis bulan lalu turut mencantumkan nama Kartika Jahja. Setiap tahunnya memang BBC, selalu merilis daftar 100 perempuan yang dianggap sukses menginspirasi sekaligus membawa perubahan. Dalam rincian profil singkat, BBC menyebut Kartika sebagai penyanyi sekaligus aktivis kesetaraan gender di Indonesia. “Penyanyi sekaligus pencipta lagu yang memperjuangkan kesetaraan gender lewat lagu-lagunya,” tulis BBC.

 “Aku benar-benar nggak tahu apa-apa tentang BBC ini tadinya. Taunya itu pas aku jadi pembicara di acaranya The Guardian, aku diperkenalkan sebagai salah satu BBC 100 Women. Aku langsung mikirnya, wah aku salah nih diperkenalinnya. Eh tapi setelah acara itu, teman-teman aku yang lain ngasih selamat ke aku. Di situ aku baru tau oh ternyata aku masuk list itu ya, “ aku wanita yang akrab disapa Tika itu.

Kartika dikenal sebagai vokalis dan pencipta lagu di grup Tika & The Dissidents yang memang aktif menyuarakan isu gender dan seksualitas. Tika bersama Tika & The Dissidents meliris lagu berjudul Tubuhku Otoritasku yang dimuat di album Merah pada Maret lalu. Ia pun dipilih TEMPO menjadi Perempuan Penembus Batas dalam bidang seni dan budaya. Tika menulis album tersebut karena melihat banyaknya kekerasan seksual yang dialami perempuan Indonesia. Belum lagi soal aturan, stigma dan standar kecantikan yang dibebankan pada diri dan tubuh perempuan.

“Ketidaksetaraan gender itu sebenarnya udah kayak polusi. Ada tapi nggak berasa. Banyak wanita yang ketika berani bercerita bahwa ia dilecehkan, tapi bahkan komentar dari sesama wanita pun, malah menyalahkan si yang dilecehkan.”

Sejak 2013, Tika memang sudah bergabung dengan gerakan global anti kekerasan terhadap perempuan, One Billion Rising. Ia bersama aktivis dan seniman di Jakarta mengorganisir langsung One Billing Rising Indonesia. Mulai dari sinilah, ia fokus dengan segala isu perempuan dan kekerasan yang berbasis gender. Mulai tahun 2014, Tika menjadi pendamping sosial bagi perempuan-perempuan korban kekerasan. Ia kemudian mendirikan Yayasan Bersama Project pada tahun 2015 yang giat melakukan edukasi publik tentang kesetaraan gender melalui musik, seni, dan kultur pop. Tika juga tergabung dalam beberapa kolektif perempuan, di antaranya Kolektif Betina dan Mari Jeung Rebut Kembali. Dia juga merupakan penggagas kampanye tentang Yuyun, anak perempuan yang diperkosa beramai-ramai dan dibunuh di Bengkulu.

Pada 4 Desember lalu, Kartika dan teman-temannya sukses menggelar sebuah acara bertajuk “Embracing Positive Sisterhood” di Plaza Indonesia. Acara tersebut untuk meningkatkan kesadaran persamaan gender dan untuk para wanita agar selalu merasa nyaman dengan dirinya maupun tubuhnya.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *