Apakah Semua Anak Bisa Menjadi Joey Alexander? Sebuah Batas Antara Bakat dan Usaha Keras

 

Compusiciannews.com -Sosial Budaya-  Heboh Joey Alexander (12 tahun) yang mendapatkan 2 kandidat Grammy 2016 telah berhasil membangkitkan semangat para musisi, pegiat, pendidik, sampai penyuka musik jazz.  Kursus-kursus musik  yang fokus di aliran musik ini mendapat berkah tersendiri dari melejitnya Joey. 

Sebelum Joey Alexander muncul, seorang pemuda lulusan Berklee College of Music, Nial Djuliarso kelahiran 1981 sempat digadang-gadang sebagai icon jazz Indonesia setelah Indra Lesmana.  Berbeda dari Joey, Nial benar-benar mengenyam pendidikan formal dari dua sekolah musik terbaik dunia, Berklee (Boston) dan Julliard (New York).  

Jangan lupa Indonesia memiliki Indra Lesmana putra jazzer legendaris Jack Lesmana yang di masanya disebut pula anak ajaib. Belum lagi alamarhum Bubi Chen yang sempat dinobatkan menjadi 10 pianis terbaik dunia, dan mampu melahirkan pianis-pianis jazz Indonesia seperti Andi Wiriantono yang sekarang fokus menjadi pendidik jazz terkemuka Indonesia.

Intinya, Ibu Pertiwi dari masa kemasa selalu melahirkan putra-putri terbaik di bidang musik yang bernafaskan improvisasi ini. Yang menjadi pertanyaan, apakah kita harus menunggu kelahiran-kelahiran bayi-bayi ajaib ini dari generasi ke generasi?  Tidak bisakah kita menciptakan “rahim musisi jazz” dan mulai mendidik anak-anak Indonesia musik jazz dengan benar dan melahirkan lebih banyak dan lebih cepat Joey, Nial, Indra, Bubi, Andi, yang lain?

***

Pendidikan musik di Indonesia masih sangat bergantung dengan kursus-kursus di luar sekolah. Sekolah formal masih belum begitu memperhatikan musik sebagai bagian penting dari pendidikan anak secara holistik. Jadi bisa dibayangkan, pendidikan musik jazz semakin jauh dibelakang lagi prioritasnya. 

Tapi menariknya, kursus-kursus musik yang didenominasi oleh aliran musik klasik yang notabene secara kurikulum lebih jelas karena musik klasik sangat bergantung dengan musik yang tertulis, bukan oral, mulai melirik musik jazz sebagai alternatif untuk di tawarkan sebagai jurusan.

Hampir sama dengan musik klasik, repertoire musik jazz sudah sangat pakem.  Dalam jazz biasanya dikenal Real Book yang berisi lagu-lagu standard jazz.  Karena reportoire yang relatif tidak berubah-ubah, maka pedagogi klasik dan jazz bisa dikembangkan secara lebih sistematis.

Gampangnya, Minuet in G di Indonesia dan di Amerika akan selalu sama dengan di negara lain diseluruh dunia.  Demikian juga, Giant Steps di seluruh dunia juga tidak berubah.  Tapi, kasusnya akan lain ketika kita membandingkan lagu pop “Sakitnya Tuh Disini”, dengan lagu pop “The Greatest Love of All”, dan lagu-lagu pop di negara-negara lain. Artinya, pedagogi musik populer menjadi berbeda pendekatan dari musik klasik dan jazz.

***

Pendidikan formal pada dasarnya mencoba secara sistematis menolong anak didik untuk mencapai tujuan tertentuh (outcome). Apabila belajar secara otodidak, hasil yang didapat adalah unintentional (tidak sengaja), dalam pendidikan yang sistematis melalui kurikulum hasil yang didapat itu diukur (assessment) dan semua anak dibantu sampai tujuan itu tercapai (scaffolding)

Kasus keajaiban Joey adalah karunia Tuhan. Berkiblat dari sejarah Indra Lesmana dan Nial Djuliarso yang bakat dan kemampuannya tidak bisa dikatakan kalah dari Joey, momentum Joey Alexander justru bisa membuka mata pemerintah, swasta, dan masyarakat pentingnya pendidikan musik yang terarah dan tersistem bahkan terintegrasi dengan bisnis.

Keinginan Bekraf (Badan Ekonomi Kreatif) Indonesia yang mencoba menemukan Jokowi dengan Joey adalah hal bagus. Tapi, itupun akan menjadi eforia yang para pelaku jazz di Indonesia tidak mendapatkan manfaatnya.  

Bakat itu dari Tuhan, tapi bagian kita adalah kerja keras.  Mengharapkan Joey-Joey yang lain lahir setiap 10-20 tahun adalah tindakan yang naif. Justru ini waktunya “menghasilkan” Joey-Joey yang baru dengan sistem pendidikan musik yang lebih terarah, dan sistematis.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *