Badan Ekonomi Kreatif: Perlukah?

 

Compusiciannews.com -Isu Terkini- Belakangan tersiar kabar bahwa Pemerintah Indonesia telah meresmikan Badan Ekonomi Kreatif. Pada sisi obyektif harus dihargai, tetapi di sisi lain itu terlambat. Maka jangan dipuji dulu kecuali “di-uji” seiring waktu.

Perubahan dunia beserta sumber daya manusianya selalu diciptakan oleh orang-orang kreatif, bukan oleh para pejabat. Ilmuwan dan para Seniman-lah yang dianggap paling memenuhi syarat untuk menciptakan sesuatu yang sebelumnya dianggap tak penting, menjadi penting dan bernilai sejarah.

Pemerintah Indonesia masih menganggap seniman dan ilmuwan sebagai generasi angin-anginan. Maka dari itu, ilmuwan ampuh tidak mendapat tempat, tapi lebih dihargai di luar negeri. Ilmuwan dengan ide brilian “ditutup” karena akan mengganggu industri massif. Giliran sektor lain seperti politik dan institusi negara mengalami konflik dan saling curang-curangan, kini sektor kreativitas mendapat bidikan. Ini agak kurang fair, karena atas masalah ini, dari dulu Pemerintah Indonesia tidak benar-benar berpikir tentang kebudayaan, sebagai landasan pacu bagi ekonomi kreatif. Karena senyata-nyatanya, kebudayaan tak pernah berhubungan dengan ekonomi, kecuali pariwisata.

Opini ini hanya sekadar oto-kritik, untuk melihat kembali sejarah bangsa kita, yang senyata-nyatanya selalu gagal dalam berpolitik, selalu penuh ketidakjujuran, dan nyaris sulit untuk mengupayakan kemurnian pikiran demi kebenaran dan keindahan. Ya, seni masih dianggap belum memiliki posisi signifikan untuk hal ini. Aspek ketrampilan skill dan imajinatif dari para seniman kita masih hanya dipandang sebagai produk selingan, tak berfungsi nyata dalam pengejawantahan nilai humanisme masyarakat.

Badan Ekonomi Kreatif menjadi tidak perlu apabila masih diletakkan dalam koridor pariwisata, karena kreativitas itu kebudayaan. Kebudayaan adalah jangka panjang, bukan pariwisata yang musiman. Tetapi apakah ekonomi, yang jika kita memandangnya dalam konteks industri, selalu berhubungan dengan nilai komersial dan proyek, mampu menjawab kegelisahan ini?

Pengusaha batik yang masih getol memproduksi batik tulis dengan harga cukup mahal karena memang bikinnya susah, hanya tinggal sebagian yang bertahan. Lalu para pengrajin kelas kecil-menengah, mereka bekerja dengan cara swadaya/ko-operatif di tengah arus industri besar yang lintas kepentingan. Orang-orang gunung yang terampil membuat kerajinan dari batu sungguh merupakan orang-orang ajaib yang mewarisi para leluhur yang menciptakan candi, tetapi keberadaannya belum dianggap penting, karena batu masih dianggap hiasan.

Menurut berita yang tersiar di beberapa sumber, Badan Ekonomi Kreatif ini menganggarkan 1 triliun rupiah untuk dioptimalkan pada berbagai sisi. Ketuanya,Triawan Munaf, masih belum membeberkan semua hal yang akan dikerjakan pada wilayah ini, selain masih menunggu Keppres karena ini terkait kebijakan tertinggi, juga masih terlalu dini untuk memberitakannya kepada publik.

Namun, 6 Deputi yang akan bekerja untuk BEK ini sudah diumumkan, Yakni Deputi Riset Edukasi dan Pengembangan, Deputi Akses Permodalan, Deputi Infrastruktur, Deputi Pemasaran, Deputi Fasilitasi Hak Kekayaan Intelektual (HAKI), Deputi Hubungan dan Pengembangan antar Wilayah.

Pertanyaannya: apa watak yang sebenarnya dari ekonomi kreatif ini? Menurut beberapa musisi, salah-satunya Gugun “Bus Shelter”, yang mengatakan bahwa keberadaan badan ini dinilai menguntungkan musisi. Misalnya tentang perlindungan atas Hak Cipta, atau Hak Kekayaan Intelektual, meskipun pada faktanya, masyarakat Indonesia adalah masyarakat yang doyan gratisan dan kelatahan tersebut sulit dibendung.

Apapun itu, jika Badan Ekonomi Kreatif memang dianggap oleh banyak kalangan merupakan kebutuhan, ya mari kita bekerja bersama-sama. Tetapi yang harus diingat, kreativitas itu naluri, ketrampilan itu dorongan yang tak pernah bisa selesai, dan ekonomi hanya semata-mata mengikuti dari apa yang telah kita lakukan secara terus menerus, intens, dan mandiri tanpa bergantung siapa-siapa, kecuali pikiran dan ketulusan kita.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *