Benyamin Suaeb, Fenomena Industri Musik Tanah Air

 

CompusicianNews.com – Industri – Siapa tak kenal seniman legendaris Benyamin Suaeb. Sebagian mungkin mengenal Benyamin sebagai bintang film atau pelawak. Namun, tak bisa dipungkiri bahwa Benyamin adalah fenomena bagi Industri musik Indonesia.

Pasalnya, karya-karya Benyamin dalam bentuk kaset terbukti tidak pernah ‘meledak’, namun justru lagu-lagunya luar biasa ‘meledak’. Hal inilah yang kemudian membuat kaset-kaset Benyamin terus dirilis dengan judul-judul baru sekalipun berisi lagu-lagu yang sama.

Di tahun 1970-an, jauh sebelum Iwan Fals muncul, Benyamin sudah menciptakan lagu berjudul “Digusur” yang merupakan bentuk protesnya pada pemerintah. Ada pula lagu berjudul “Pungli” yang bahkan mendapat penghargaan dari Kopkamtib, karena dianggap mendukung program Operasi Tertib yang digalakkan pemerintah di tahun 1977.

Dibalik sukses Benyamin tersebut, Bing Slamet adalah orang yang punya andil besar. Setelah merekam lagu “Nonton Bioskop” ciptaan Benyamin, Bing Slamet justru menyarankan pria kelahiran Kemayoran tersebut untuk menyanyikan sendiri karyanya.

Ya, sebelum dikenal public sebagai penyanyi khas lagu-lagu Betawi, Benyamin sudah memulai karirnya sebagai penyanyi pop bersama musisi Jack Lesmana, Bill Saragih, dan Rachmat Kartolo. Musik pop membawa Benyamin bernyanyi di klub-klub malam dengan lagu-lagu Barat. Namun, ia pun mengalami masa pencekalan dan dilarang manggung ketika gempar Manifesto Politik yang dikeluarkan Presiden Soekarno.

Menyiasati kondisi politik di dalam negeri, Benyamin pun tetap bermusik dengan membawakan lagu-lagu khas Betawi bersama grup gambang kromong Naga Mustika. Benyamin menciptakan sejumlah lagu untuk duetnya bersama Ida Royani yang rata-rata mengisahkan gambaran kehidupan masyarakat Betawi seperti Ondel – Ondel, Kompor Meleduk, Layar Tancep, dan Pulang Kerje.

Selain dikenal piawai mengolah lagu-lagu Sunda ke dalam nuansa Betawi, ia juga mampu menciptakan lirik lagu yang unik, mudah diingat, dan terkesan nakal. Benyamin dinilai melegenda karena mampu menggambarkan masanya ke dalam lagu.

Kebiasaan Benyamin dalam mencipta lagu memang terkesan sembarangan. Lihat saja judul lagu-lagu ciptaannya seperti Brang Breng Brong, Cong Cong Balicong, Kompal Kampil, dan Abakikik Abakikuk. Menurut pengamat dan sastrawan, SM Ardan, kebiasaan itu disebut senggakan, yaitu teriakan atau kata-kata yang muncul secara spontan. Sama halnya seperti dialog para pemain lenong yang muncul spontan di atas panggung.

Selama hidupnya, Benyamin merekam sekitar 300 lagu baik dibawakan secara solo maupun duet. Lagu-lagunya masih terus direkam ulang dan tetap laku dijual sekalipun ia telah tiada. Begitu pula dengan dengan berbagai merchandise berbau Benyamin, seperti t-shirt dan poster.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *