Fakta! 84% Sofware yang Dipakai di Indonesia Adalah Bajakan

 

Compusiciannews.com – Software – Apakah Anda adalah salah satu pengguna software? Jika ada yang ditanya demikian, pasti mayoritas akan menjawab, “ Iya, tentu saja.”. Memang tidak dapat dipungkiri, perkembangan teknologi mengharuskan kita untuk senantiasa berhubungan dengan gadget, yang tidak bisa dipergunakan tanpa adanya software. 

Namun, berapa banyak dari para pengguna software tersebut, yang secara legal diijinkan untuk menggunakan fasiltias yang ditawarkan? Berdasarkan laporan dari Business Software Alliance di tahun 2015, sebanyak 84 persen software yang digunakan di Indonesia adalah software bajakan, atau tidak legal. Apabila dikonversi ke dalam bentuk mata uang, diperkirakan kerugian finansial akibat pembajakan software adalah senilai 1,1 miliar dollar Amerika Serikat (AS) atau setara Rp 14,4 triliun.  Di tahun 2016 ini, nilai tersebut mungkin saja berubah lebih besar.

Padahal, memakai software bajakan sebenarnya bukan tindakan yang tanpa risiko. Memang, menggunakan software bajakan membuat pengguna dapat menikmati fasilitas yang menyerupai aslinya dengan biaya yang lebih sedikit. Namun, selain melanggar hak cipta, tindakan menggunakan software bajakan juga membuat Anda riskan terhadap serangan virus. Masih menurut lembaga yang sama, Business Software Alliance, software bajakan dapat membuat perangkat Anda terjangkiti virus atau program jahat, yang kadang disusupkan di dalam program bajakan.

Padahal, hal itu jelas-jelas sangat membahayakan. Dari 35 persen kasus, malware dapat membuat perangkat menjadi lebih lambat, 20 persen menemukan program yang tidak diinginkan tiba-tiba muncul di dalam perangkatnya. Terakhir, 30 persen mengaku sering dibanjiri iklan yang tidak dinginkan, karena malware mengarahkan pengguna untuk mengunjungi situs-situs tertentu. Selain itu, yang lebih berbahaya, malware juga dapat membuat perubahan di dalam browser tanpa sepengetahuan pengguna, melakukan pencurian data pribadi, melakukan like atau share di media sosial tanpa izin,  bahkan peretasan webcam.

Selain Indonesia, lembaga ini juga meneliti berbagai Negara di dunia. Terdapat tiga Negara dengan nilai pembajakan yang sangat tinggi. Posisi pertama diduduki oleh Amerika Serikat, dengan tingkat kerugian akibat pembajakan mencapai 9,1 miliar dollar AS. Nilai tersebut setara dengan Rp 129,8 triliun. Sementara, rata-rata software bajakan yang terpasang di sana malah hanya 17 persen, tergolong rendah memang.

Setelah AS, dua negara dari Asia ini, China dan India, sama-sama mencatatkan nilai pembajakan yang tinggi. China menduduki peringkat kedua, dengan nilai komersial mencapai 8,7 miliar dollar atau setara Rp 114,1 triliun. Di China, rata-rata software bajakan yang terpasang adalah 70 persen. Sementara itu, di peringkat ketiga, ada India engan rata-rata software bajakan yang dipasang sebesar 58 persen. Angka yang relatif tinggi. Sementara, nilai komersial pembajakannya adalah 2,7 miliar dollar AS atau setara Rp 35,4 triliun.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *