Gelaran Malam Kedua, SIPA 2016 Suguhkan Kolaborasi Seni Suara Lintas Benua

 

Compusiciannews.com -Panggung- Gelaran SIPA (Solo International Performing Arts) 2016 malam kedua (09/09)  telah berlangsung meriah dengan menampilkan Manipuri Dance sebagai pembuka malam kedua, kelompok tari dari India yang di malam pertama pagelaran SIPA juga sudah tampil bersama Sruti Respati. Kelompok ini berasal dari bagian utara dan timur India dan telah tampil di berbagai acara nasional di negeri Bollywood itu. Selain di India, group tari ini juga sudah tampil di beberapa negara ASEAN dan pada malam itu mereka menampilkan tari-tarian tradisional seperti Pung Cholom dan Dol Cholom, Tari Klasik, Tarian Rakyat, Tarian Suku dan seni bela diri.

Penampil kedua ada Trodon dari Jakarta yang menampilkan karya yang terinspirasi dari suara angin yang meraung, meratap dan berteriak, bernyanyi menghembuskan suara raksasa yang sedang mendengkur dengan isian yang mengandung arti nyanyian cinta di hutan sumba Indonesia bagian timur. Kemudian ada pula penampilan dari mahasiswi jurusan seni Universitas Sumatra Utara yang tergabung dalam kelompok Keteng-Keteng Girls, menampilkan Beru Dayang Jile yang merupakan seni tradisional kebudayaan Batak Karo.

Adapula kelompok dari negeri tetangga NADI Singapura yang menampilkan karya-karya berbau budaya Melayu, salah satunya berjudul Bumi Tak Diam. Mereka menyapa penonton dalam Bahasa Jawa ‘Piye Kabare’ dan dijawab oleh para penonton ‘Apik Apik!!. Mereka terdiri dari 40 anggota namun saat tampil hanya ada beberapa saja yang tampil. Mereka mengusung seni tradisional Melayu yang menjadi bagian dari negeri singa itu.

Kemudian ada kolaborasi dari Neil Chua (Singapura ) dan Ruanatworks (Malaysia) yang menggabungkan seni musik tiongkok dengan melayu. Neil tampil dengan membawa gitar khas tiongkok dan Ruanatwork tampil dengan menggunakan kendang yang menjadi ciri khas seni melayu. Disusul dengan penampilan dari Rodrigo Parejo yang membawakan karya “Musim Semi Jawa” sebuah karya musik fantasi dalam yang diterjemahkan dalam suara. Karya ini terinspirasi dari keindahan alam Jawa dimana Parejo pernah tinggal di Solo cukup lama.

Kemudian disambung lagi dengan penampilan kolaborasi lintas benua antara Peni Candra Rini, maskot SIPA 2016, Rodrigo Parejo, Paul Gaultry, dan kelompok musik dari Zimbabwe, Blessing Cimangga, Neil Chua dan Ruanatzwork yang memadukan karya seni suara. Setelah itu ada penampilan dari Ubiet dan Dimawa dan ditutup dengan penampilan dari Komunitas Seni Tandulako dari Palu, Sulawesi Tengah menampilkan karya seni “Indoku Bumi Umaku Langi” yang berarti Ibuku Bumi, Ayahku Langit yang merupakan karya yang menyimbolkan penghargaan terhadap tanah kehidupan dan langit di kota Palu.

 

Ditemui oleh rekan-rekan media di sela-sela acara SIPA 2016, ketua dari SIPA Dra. RA Irawati Kusumoasri, M.Sn mengungkapkan rasa harunya kepada antusiasme para warga Solo dalam memeriahkan pagelaran SIPA yang ke-8 ini

“Melihat anak-anak muda yang lebih enjoy menikmati sajian kita ini. Mereka merasa krasan. Saya lihat banyak teman-teman  luar kota hadir khusus datang ke solo.” Begitu ungkap wanita yang akrab disapa Bunda Ira itu

“SIPA ke 8, setelah sewindu saatnya  dipasarkan ke penyelenggaraan festival yang lebih luas hingga luar negeri,  sekalian kita jadi pasar seni dunia. Tolak ukurnya  artis-artis yang datang ke SIPA nanti akan kita hadirkan kurator. Jadi kalo mereka terpilih, bararti mereka layak go international. Dan untuk penutupan  Sabtu (10/08)  akan lebih rame karena malam minggu dan akan ada penampilan dari Vicky Sianipar.”  Pungkasnya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *