Intisari Kenduri Seni Malang: Antara Musik dan Ilmu

 

Compusiciannews.com -Sosial Budaya- Ternyata musik menimbulkan banyak pertanyaan. Jika tidak, tak mungkin ada pengetahuan, dan musik sangat mustahil menjadi ilmu. Melihat antusiasme anak-anak muda Malang (6/2), baik seniman maupun yang sedang belajar musik di universitas, terlihat jelas bukti dari apa yang telah disampaikan Amir Pasaribu di masa silam, yaitu tentang kebutuhan masyarakat akan pemahaman lebih dalam atas musik, beserta ilmunya.

Sangat bisa dipahami, kebutuhan main musik dan kebutuhan akan ilmunya, sebenarnya sebuah rantai yang terpisah, tidak paralel. Ilmu menyangkut pemahaman menyeluruh, sementara musik kadang-kadang hanya berhenti di wilayah teknis saja (tentang cara main/skill).

Seringkali saya berpikir, apakah bunyi mampu menimbulkan persepsi jika tidak didukung pengetahuannya? Persepsi sudah tentu lebih tinggi derajatnya dibanding selera. Selera sangat sulit dijelaskan, sementara ilmu membantu menjelaskan selera. Kalau komponisnya tidak mempunyai keahlian yang cukup, maka yang terjadi justru olok-olok, bunyi tak akan bisa menjawab penikmatnya untuk menemukan keistimewaan dari sebuah karya musik.

Musikologi lantas melahirkan sejarah, teori, dan analisa, untuk merubah kesan menjadi pandangan, untuk merubah persepsi menjadi ilmu pengetahuan, untuk memahami sesuatu yang tak bisa disampaikan bunyi, serta untuk membantu penghayatan dan peningkatan apresiasi kita terhadap musik, baik karya maupun penciptanya.

Kredo yang mengatakan “biarkan musik bicara sendiri” memang bisa dimaklumi, tetapi itu hanya ketika musik berbunyi. Sementara “sebelum dan sesudahnya”, orang perlu pemahaman (ilmu) untuk membuat dan mengapresiasinya, sehingga musik menjadi benar-benar terbuka secara menyeluruh, baik aspek prosesnya, hiburannya, maupun makna sesudahnya.

Di Malang, saya “dikepung” puluhan pertanyaan, baik yang berlangsung ketika diskusi, maupun pada saat informal. Mulai dari bagaimana cara untuk mendengarkan musik, musik untuk tuna-rungu, musik untuk anak-anak, klasifikasi musik, puncak dari pemahaman musik, musik untuk pendidikan, profesi dalam musik, dan seterusnya. Bagaimana mungkin menjawab itu semua tanpa pemahaman akan ilmunya? Dan apakah “tidak sah” jika saya mengatakan, bahwa (informasi) musik pada masa kini telah benar-benar menjadi kebutuhan? Setidaknya sebagai sarana untuk keseimbangan antara ketrampilan dan wawasan.

Sudah bisa dipastikan, bahwa musisi yang mudah mengeluh adalah musisi yang tak berwawasan. Ini mungkin semacam klaim yang cukup serius, tetapi fakta di lapangan telah membuktikan hal itu. Universitas tidak menjamin, dosen tidak menjamin, perpustakaan juga tidak menjamin, apalagi internet (sebuah dunia yang banyak godaan). Hanya niat dan ketekunan dari dalam diri kitalah yang akan membuktikan faedah-faedah musik.

Misalnya pertanyaan tentang tips mendengarkan musik dari seorang peserta. Jawaban intinya ada tiga: (1) lingkungan tempat kita mendengarkan, harus tenang, (2) kualitas media untuk mendengarkan, jika mendengar dengan speaker/headphone, harus sesuai dengan jangkauan frekuensi yang dimiliki oleh musik yang didengar, (3) penghayatan atas alur/struktur musik, sama seperti membaca novel, ada awal, tengah, akhir, setiap babak memiliki cerita dan konflik.

Bagi kita yang sudah paham atas tips diatas itu sudah tidak perlu dipersoalkan, tetapi bagi awam yang ingin tahu lebih dalam informasi di atas sangat diperlukan. Apakah Anda para komponis bisa “trima” kalau karya world-music atau musik kontemporer Anda (dengan tekstur yang kompleks) hanya didengarkan lewat speaker handphone atau headset dengan kualitas ecek-ecek/tidak bisa menjangkau spektrum bunyinya? Ha-ha-ha…

Disamping itu, pertanyaan tentang musik-musik untuk anak juga menarik perhatian banyak peserta yang hadir. Industri televisi berdosa besar, sudah tidak memberi tempat untuk musik anak, membunuh masa depan anak-anak. Maka fakta tersebut perlu dikritisi, dan para orang tua perlu jeli dalam melakukan tindakan preventif. Yang mengeluhkan hal ini adalah seorang ibu, dimana beliau merasa kesulitan untuk membantu anaknya menemukan musik yang pas baginya.  

Lalu tentang rejeki. Saya pribadi sangat menolak sebuah statement umum yang mengatakan: “kesulitan mencari rejeki”—dalam hal musik. Saya kembali bertanya kepada yang bertanya. “Lha sampai dimana keahlianmu, sampai dimana orang percaya padamu?” Bahwa yang terpenting menurut pendapat saya adalah bukan mencari rejeki, tapi tingkatkanlah keahlianmu, ketrampilanmu, perbanyaklah temanmu, dan seterusnya. Maka rejeki akan datang sendiri. Jadi lebih baik mencari rejeki diganti dengan menunggu rejeki, dengan syarat itu tadi.

Pada intinya musik telah berkembang sedemikian luas. Ada yang menganggapnya penting untuk hidup, ada yang tidak. Itu soal pilihan. Yang menganggapnya penting sudah dengan sendirinya akan timbul naluri untuk mempelajarinya lebih dalam lagi.

Musik sangat membuka peluang untuk meningkatkan kualitas hidup jika kita menyadari manfaatnya. Amin.

 

Terimakasih:

Museum Musik Indonesia

Lembaga Pendidikan Kesenian Dwipantara

 

Kontributor: Erie Setiawan

Editor : Yesaya Whisnu Wardhana

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *