Kemerdekaan Dan Industri Musik Tanah Air

 

CompusicianNews.com -Sosial Budaya- Hari kemerdekaan merupakan peringatan tahunan yang selalu dirayakan oleh setiap bangsa yang merdeka dan khususnya, Indonesia yang meperoleh kemerdekaan pada 17 Agustus 1945 silam. Berbagai acara dan lomba diadakan untuk menyambut hari paling bersejarah bagi bangsa Indonesia itu  dan tidak bisa dipungkiri bahwa musik menjadi sarana untuk merayakan kemerdekaan, seperti lagu “Hari Merdeka” yang dipakai sebagai lagu resmi kemerdekaan yang selalu dinyanyikan di setiap upacara bendera 17 Agustus. Serta di setiap acara malam kemerdekaan, atau yang kerap disebut sebagai Tirakatan, selalu menyuguhkan musik di setiap sela-sela acara. Selain itu juga, setiap stasiun televisipun menayangkan konser kemerdekaan yang menampilkan sejumlah penyanyi terkemuka di tanah air.

Peringatan kemerdekaan ini juga menginspirasi beberapa musisi Indonesia  untuk menciptakan sebuah lagu. Kelompok band musik seperti Tangga yang tahun lalu mengeluarkan hits lagu kemerdekaan yang berjudul “Satu Bendera,” kemudian ada kelompok penyanyi dan musisi yang menamakan diri mereka EFA Project, yang merupakan kolaborasi dari berbagai musisi dan penyanyi, seperti Glen Fredly, Mike Mohede, Eka Deli, Melanie Subono, Andi Riyanto, dll yang membawakan lagu bertema kebangsaan berjudul “We are ONE” dan juga kelompok band rock Netral yang mengaransemen lagu “Hari Merdeka” serta masih banyak lagi beberapa musisi yang juga telah mengeluarkan hits kemerdekaannya.

Dengan melihat kenyataan diatas, jika dilihat melalui kacamata industri, sebenarnya industri musik tanah air itu, maju-mundurnya tergantung musim apa yang sedang marak. Seperti halnya selama bulan Ramadan, para penyanyi dan musisi berlomba-lomba membuat album religi dan sama halnya seperti pada hari kemerdekaan ini.

Sebuah ‘musim’ menentukan inspirasi dan kreativitas para musisi dalam berkarya dan sudah seharusnya pemerintahan yang baru nanti harus mampu melindungi hak-hal para pelaku industri musik untuk terus berkarya tanpa ada kekhawatiran dan ketakutan yang timbul dari para pembajak yang “menjajah”

Seperti yang dilangsir di www.widiasmoro.com, pemerintah hendak memperbarui undang-undang hak cipta yang akan menggantikan UU No 19 Tahun 2002, dimana rancangan undang-undang hak cipta yang baru (RUU HAKI) akan lebih mengatur pendistribusian musik secara adil serta masa perlindungan terhadap para pelaku industri musik, dari yang hanya 50 tahun menjadi 70 tahun. Hal ini bisa menjadi jawaban sebuah kemerdekaan bagi para pelaku industri musik tanah air selama ini dan diharapkan, di dengan diterapkannya undang-undang yang baru ini di pemerintahan yang baru, industri musik tanah air bisa lebih maju dan para pelakunya tetap terus berkarya, menghasilkan karya-karya musik yang tidak kalah dengan musik barat.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *