Kenapa Google Susah Memberantas Pembajakan?

 

Compusiciannews.com -Industri- Keputusan Google untuk mengijinkan para penggunanya dengan mudah menghapus beberapa informasi pribadi dari hasil pencarian membuat geram industri musik dan film yang mengusulkan agar raksasa internet ini bertindak dengan tegas untuk membantu menghapus pembajakan digital.

Pada beberapa hari yang lalu Google tunduk pada putusan privasi Uni Eropa, yang aturan itu disebut “Hak Untuk Dilupakan”, dengan meluncurkan halaman web dimana warga Eropa dapat meminta tautan ke informasi tentang mereka dihapus dari hasil pencarian. Ini dimulai sehari setelah Google dikecam karena tidak cukup cakap dalam menangani pembajakan online  dalam laporan dari seorang intelektual dan penasehat property PM David Cameron, Mike Weatherley.

Beberapa kritik berkata bahwa Google “menarik kakinya” dalam tugasnya mengatasi situs-situs pembajakan dari hasil pencarian tapi hal yang dilakukan Google ini dengan memungkinkan pengguna memiliki “Hak untuk dilupakan” akan semakin memperparah pembajakan dan hal ini dapat ditangani secara serius jika terpaksa

“Ini adalah pengantar pelajaran ‘Jangan Jadi Jahat’,” kata ketua pelaksana badan industri musik, BPI. “Prinsip yang sedang dalam bahaya disini adalah saat anda tahu seseorang melakukan tindak illegal dan anda tidak melakukan apa-apa.”

Perusahaan seperti Rap Genius telah melihat “Pembunuhan Masal” akibat Google melanggar aturan pemasaran dalam pencariannya.

Sementara itu Taylor berkata industri musik semakin porak-poranda dengan lebih dari 1 Milyar unduh ilegan tahun lalu berharga lebih dari £300m. Berurusan dengan Google selalu menghadapi proses penuh, Taylor menambahkan dan website illegal kembali muncul dalam samara yang hampir sama dan sedikit berbeda.

BPI sendiri membuat permintaan sebanyak 4.6 juta untuk Google dalam menghapus situs-situs pembajakan dari data mereka dalam beberapa bulan lalu.

Beberapa laporan mengatakan  bahwa aktivitas pembajakan sebanyak sekitar 13% dimulai dari search engine dan Google termasuk didalamnya namun pihak Google lewat pembelanya menujukan bahwa pembajakan yang parah dilakukan oleh hardcore pengguna dimana 1,6 % akun pengguna internet di Inggris digunakan sebanyak 79% untuk kegiatan illegal, seperti pembajakan jadi tidak selalu pengguna menggunakan search engine seperti Google. “Meskipun Google menutup situs pembajakan, orang-orang akan tetap menemukan situs itu,” kata John Enser, partner Olswang.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *