Kisah Pengalaman Shaggydog Setelah Tampil di Festival SXSW Amerika.

 

Compusiciannews.com -Sosial Budaya- Sebuah kesempatan yang istimewa bagi Shaggy Dog bisa perform di Festival SXSW yang merupakan salah satu festival musik yang cukup besar di Amerika.

SXSW adalah festival tahunan yang berisi konferensi film, media interaktif, dan musik yang selalu bertempat di Austin, Amerika. Festival SXSW ini juga memberi ruang bagi negara-negara untuk memamerkan kulturnya.

Ada banyak pengalaman yang dialami Shaggy Dog dalam festival ini. Dalam sebuah wawancara melalui sambungan telefon dengan sebuah media, Heru sang vokalis menceritakan pengalaman mereka selama di Austin.

“Satu kota Austin, Texas, dijadikan festival. Tiap sisi kota dijadikan stage. Bar, kafe, restoran dan di jalan-jalan semua jadi tempat main musik,” Heru mengawali kisahnya.

Difestival tersebut, Shaggy Dog tampil dua kali yaitu pada tanggal 17 Maret di panggung Flaminggo Cantino dan pada 19 Maret di Russian House.

Tapi Heru menjelaskan diantara kedua panggung dimana mereka perform, panggung Russian House lah yang lebih ramai.

“Russian House bagus, ramai. Antusiasnya bagus. Kita turun manggung dan beberapa event organizer internasional menghampiri kita. Mudahan-mudahan bisa main ke mana-mana lagi,” katanya.

Tak heran jika Shaggy Dog bertemu banyak sosok penting di festival ini. Di SXSW, kesempatan para musisi untuk bertemu dengan sosok-sosok penting sangatlah terbuka. Para musisi disini bisa bertemu dengan pelaku industri kreatif lain seperti produser, promotor, hingga pihak dari penyedia aplikasi digital selama ini juga ikut menunjang para musisi ini.

Heru juga menceritakan bagaimana di festival SXSW mereka bisa bertemu dengan produser dan DJ asal Amerika, Baauer, yang mempopulerkan Harlem Shake, bahkan sesampainya di Indonesia Baauer mengirim email ke Shaggy Dog. Selain itu Shaggy Dog juga bertemu dengan manajer band NOFX yang sempat meminta profile-kit Shaggydog.

Heru juga mengisahkan bagaimana dia bisa melihat berbagai macam negara mempromosikan budaya mereka dan berharap hal itu juga bisa dilakukan bagi Indonesia.

“Di sana ada Japan House, British Music Embassy. Jadi negara Jepang, pemerintahnya memberangkatkan band potensial dan buka booth di sana. Mungkin ini tugas BEKraf (Badan Ekonomi Kreatif). Kami juga berharap di Indonesia atau di Yogya ada festival seperti ini,” uangkapnya.

“Melihat band Indonesia yang ajaib-ajaib, bisa kita mendapat eksposur internasional. Melihat Joey Alexander bisa layak di sana, Burgerkill tampil di festival internasional, tinggal bagaimana kita memilihnya. Kalau seperti Japan House, yang dipamerkan bukan hanya musik tapi juga kuliner dan budaya,” urainya.

Tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan ini, Shaggy Dog juga menyempatkan diri untuk membuat video clip untuk salah satu lagu baru di album baru mereka. Perjalanan Shaggydog ke SXSW juga akan dibuat menjadi sebuah film dokumenter yang beberapa bulan lagi akan dirilis. Malaria House dipercaya sebagai pihak yang mendokumentasikan dan mengemas perjalanan mereka selama di Austin ini dalam bentuk film.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *