Langkanya Buku Musik Kita

 

CompusicianNews.com -Isu Terkini- Anda akan sulit menemukan buku musik yang ilmiah, ilmiah-populer, wacana, bahkan sekadar kumpulan esai musik, apalagi tentang sejarah atau analisa-analisa musik. Artinya, buku musik berkadar ilmu pengetahuan hampir lenyap dari mata kita. Apakah ini menandakan bahwa ada kesenjangan yang besar antara musik dan ilmu pengetahuannya, tidak seperti bidang lain? Atau memang, tidak ada penulisnya? Faktanya, musik (agak) belum dipercayai sebagai ilmu pengetahuan, bahkan sains. Oleh sebagian besar kalangan, musik hanya hiburan, karena dentuman industri yang berlebihan di sini menyeret kita untuk melanggengkan image itu, dan sebab itu, tidak diperlukan bacaan-bacaan musik berkadar ilmu non-praktis. Itu semua dianggap hanya membuang waktu dan biaya saja.

Karena saking jengkelnya, dan daripada protes terus-menerus menyiksa pikiran, saya mengiklhaskan diri menjadi kolektor (pemburu) buku musik, yang lawas maupun baru, dan sesekali saya menulis dan menerbitkan buku musik walaupun untuk kalangan terbatas. Setidaknya, selama proses perburuan, saya memiliki koleksi buku musik yang beredar di Indonesia dari tahun 1960-an hingga sekarang. Rupanya menarik, dari sini saya bisa menarik kesimpulan singkat dari dugaan yang saya kemukakan di atas, bahwa ternyata, memang dunia musik kita sedang dalam kondisi stadium. Banyak konser dan album tapi minim pengetahuan. Aktivitas super, ilmunya nol. Ramai, tapi mlompong.

Apa pentingnya buku bagi para musisi? Saya seringkali bertanya kepada teman-teman dan kolega. Banyak dari mereka yang menjawab penting dengan alasan klasik: untuk menambah referensi. Kemudian mereka mengeluh, “tapi di Indonesia sulit mendapatkannya. Belum tentu setahun sekali terbit buku bagus, terutama yang mengasah otak dan meluaskan wawasan. Rata-rata buku how to yang itu-itu saja.” Kemudian saya merayu teman-teman saya supaya mau mampir ke bilik buku-buku musik saya. Alhasil, mereka nggumun bukan main. Alangkah tertegunnya mereka. Bukan karena saya punya cukup banyak koleksi, tetapi bagi mereka, ternyata dunia musik melebihi dari yang mereka kira selama ini. Musik bagaikan pintu Doraemon yang menuju ke mana saja, setiap kebudayaan punya, tidak hanya yang muncul secara membosankan di tivi-tivi.

Sebagai contoh, misalnya buku Analisis Musik Indonesia dan Musik dan Selingkar Wilajahnya (Amir Pasaribu). Ada pula Komponis, Pemain Musik dan Publik  (Sumaryo L.E.). Belum lagi Sastra Musik Perancis (J.A. Dungga). Rata-rata buku yang disebut terbit pada dekade 60-an dan 70-an, beberapa kurun sesudah Indonesia membangun beberapa sekolah musik (dan seni) seperti KOKAR (Konservatori Karawitan) maupun SMIND (Sekolah Musik Indonesia) pada decade 50-an, atas prakarsa antara lain beberapa tokoh penting seperti GPH. Soerio Hamidjojo, Sumaryo L.E., Amir Pasaribu, hingga Ki Hadjar Dewantara. Pasca sekolah tersebut berdiri, perkembangan ilmu pengetahuan musik melesat, dan mencapai puncaknya pada dekade 80-an. Sesudah itu hingga kini, pengetahuan musik kita angin-anginan, buku-buku musik yang berkualitas pun sulit kita temukan di rak toko buku.

Buku musik yang berkembang pada dekade 60 hingga 80-an rata-rata adalah buku-buku wacana, yang rata-rata isinya berisi dialektika dan doktrin-doktrin ideologi kebudayaan, bahwa dari situ kelihatan jelas perjuangan para tokoh di sebaliknya untuk mencari bentuk jati diri musik Indonesia dan soal-soal nasionalisme musik. Jauh sebelum akhirnya saat ini Indonesia kalah oleh hingar-bingar musik industri hiburan yang tumpah-ruah dan makin tidak jelas kualitasnya. Apabila Anda berminat menelusuri kepustakaan musik Indonesia setidaknya setengah abad terakhir, akan terlihat jelas betapa miskinnya literatur musik kita, betapa langkanya pemikiran musik yang berkembang di Indonesia ini. Jumlahnya tidak sampai 100 judul dalam waktu 60 tahun!

Pada dekade 90-an paruh pertama, saya pribadi merasa beruntung ketika, menyebut beberapa contoh penting, Karl. Edmund Prier, SJ menulis buku Sejarah Musik Jilid I dan II, dan dilanjutkan Dieter Mack dengan Sejarah Musik III dan IV, Ilmu Melodi, Apresiasi Musik Populer. Pada dekade 2000-an Djohan menulis bukunya Psikologi Musik dan Terapi Musik. Hampir bersamaan kemudian Suka Hardjana menulis Corat-Coret Musik Kontemporer maupun buku tentang Kritik Musik. Juga ada yang soal filsafat musik tulisan C. Teguh Budiarto, judulnya Musik Modern dan Ideologi Pasar, dan Sukatmi Susantina dengan Dialog Para Filsuf Tentang Musik. Triyono Bramtyo dengan Diseminasi Musik Barat di Timur. Baru-baru ini ada buku Victor Ganap berjudul Krontjong Toegoe. Oh, ada angin segar yang lewat.

Sudah tentu masih banyak lagi buku-buku musik istimewa yang berkadar ilmu pengetahuan yang ingin saya sebut, tetapi rasanya tidak pada kesempatan ini. Pada intinya, coretan ini mengingatkan kepada kita bahwa musik masih harus lebih banyak diperhatikan (ilmunya), dan tidak hanya dimainkan saja. Musik sangat bisa digali dari macam-macam aspek, dan bisa berjodoh dengan ilmu lain. Tinggal gabungkan saja, maka jadilah sosiologi musik, filsafat musik, psikologi musik, sejarah musik, antropologi musik, industri musik, dan seterusnya. Saat ini semua itu sepi.

Pada suatu malam di tempat kerja, saya merenung sendirian, dan tengah mbatin, para intelektual musik kita pada ngluyur ke mana ini? Musik miskin penulisnya. 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *