Melihat Kembali Makna Musikalitas

 

Compusiciannews.com- SosialBudaya. Apa menariknya berdiskusi soal musikalitas (sense of music)? Baru-baru ini saya diwawancarai seorang mahasiswa dari ISI Padangpanjang yang tengah mengerjakan skripsi mengenai musikalitas dalam konteks musik punk dan hubungannya dengan musikologi. Ini menarik, dan saya lantas bertanya, apakah musikalitas ini sesuatu yang eksklusif, jadi berbeda tergantung “untuk (main musik) apa”? Ataukah sebaliknya, musikalitas adalah universal, jadi teorinya sama dan bisa dipakai di seluruh belahan bumi? Yang lebih menarik lagi, apakah musikalitas berhubungan dengan konteks budaya? Musikologi tidak bisa menjawab pertanyaan yang terakhir, kecuali kita mengawinkannya dengan antropologi (etnografi), atau memakai etno-musikologi.

Musikalitas seringkali dipadankan dengan bakat musik, tetapi sesungguhnya makna dan sifatnya lain. Bakat musik sering dikatakan sebagai “klop”-nya proses musikal, sementara musikalitas bisa dikatakan “bakat yang terus diolah”, sehingga menjadi sense, ada ukuran kepekaan “yang disadari penuh”—dan kadarnya bukan insting (insting saja ada ilmunya!). Representasi dari musikalitas itu sendiri tidak hanya soal ketrampilan motorik, dan tidak hanya berhubungan dengan pelaku musik yang aktif (contoh: musisi), melainkan pendengar/awam pun juga bisa memiliki sense of music ini dari kemampuannya mendengarkan musik secara baik (receiver), dan mengerti bagaimana musik harus dimanfaatkan untuk tujuan yang tepat pula.    

Berbagai teori muncul menanggapi banyak perdebatan tentang “asal-usul” musikalitas, maupun bagaimana cara mengolahnya, dan apa hubungan musikalitas dalam konteks budaya. Membahas klasik dan jazz saja sudah berbeda, belum lagi karawitan, yang latar belakang genius meaning-nya sangat dipengaruhi disiplin tinggi soal Rasa (dengan “R” besar) dalam konteks teori maupun mat dalam konteks praktis (keduanya sama-sama berujung pada kualitas kenikmatan)—letak sens yang sesungguhnya. Musik klasik terikat oleh disiplin membaca (sight reading), dan jazz terikat oleh disiplin mendengarkan dan imitation (playing by ear), soal pembiasaan call and response. Lalu bagaimana mengukurnya? Apakah musikalitas perlu diukur? Tentu saja ini kompleks, dan kita harus meminta bantuan kepada ilmu neurosains yang mampu membaca apa yang sedang dikerjakan “syaraf-syaraf” kita. 

    

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *