Mengurai Industri Musik Indonesia

 

Compusiciannews.com -Industri- Saat ini banyak acara acara musik di televise yang ditayangkan pagi-pagi dan menghadirkan penyanyi atau band pendatang baru dan saat mereka mulai bernyayi selalu diikuti oleh gerakan tangan oleh audiens yang menonton. Band atau penyayi itu beraksi layaknya bintang rock kawakan. Meski penonton di studio dan dirumah juga tahu kalau mereka hanya membawakan lagu  dengan lipsynch.

Sudah bukan heran lagi saat ini dimana penyanyi dan band pendatang baru bisa menggarap lagu seperti itu padahal kenyataannya, mereka hanya bisa 3 kunci nada. Hal ini tidak dipungkiri bahwa ada jasa jockey dibelakang para penanyi dan band itu yang ahli di bidang mixing dan mastering jadi para penyanyi band itu hanya melancancarkan aksi panggung saja di hadapan penonton, pernyataan ini diungkapkan oleh seorang ketua umum Rhythm Foundation, Gerry Rangga, sebuha komunitas asal Bandung, Jawa Barat yang menaungi musisi segala genre.

Dalam proses perekaman lagu ada empat tahap yang harus dilewati. Pertama yaitu tracking merekam beberapa komponen musik dalam lagu. Biasanya terdiri dari tiga shift, yaitu untuk merekam suara drum, vokal, serta bas, dan gitar. Setelah melalui proses editing, kemudian dilakukan balancing untuk mengatur peak frekuensi setiap instrumen musik agar seimbang. Dilanjutkan dengan mixing yang cukup sulit untuk memadukan hasil perekaman agar menghasilkan lagu yang diinginkan. Belum cukup sekedar mencocokkan komponen musik, terakhir dilakukan mastering. Proses ini menyeimbangkan suara yang keluar dari kanan kiri speaker.

Untuk menghasilkan satu lagu membutuhkan jasa teknisi musik yang tidak murah harganya. Keempat proses tersebut biasanya memakan biaya hingga di atas Rp. 50.000.000,00. Dengan perincian biaya rekaman studio Rp. 300.000,00 setiap shift, sedangkan untuk satu lagu ada tiga shift yang harus dijalani. Bila ada sepuluh lagu yang direkam, berarti band tersebut harus mengeluarkan Rp 9.000.000,00 hanya untuk rekaman. Ditambah proses mixing dan mastering yang membutuhkan tenaga ahli khusus, memakan biaya Rp 30.000.000,00 per paket sepuluh lagu. Pembayaran music director sendiri Rp 20.000.000,00. Total mencapai Rp 59.000.000,00 belum termasuk biaya tetek bengek lainnya seperti konsumsi.

“Mengapa proses mixing dan mastering itu mahal? Ya karena ilmunya diperoleh dari luar negeri, belum ada tuh di Indonesia,” Gerry menjelaskan.

Untuk menghasilkan satu lagu setidaknya dibutuhkan waktu enam jam. Bisa dibayangkan untuk mencetak satu buah album rekaman yang terdiri dari dua puluh sampai dua puluh empat lagu, berapa lama waktu yang dibutuhkan dan modal yang dikeluarkan.

 

Mengorek Keuntungan dalam Alunan Nada

Silakan anda mengetik kata kunci “titip edar” di Google. Sekian artikel dan situs web yang menjajakan jasa titip edar muncul di layar monitor. Dalam situs web Alfa Records misalnya tertulis, “Pada awalnya, 'Alfarecords' hanya konsentrasi pada bidang distribusi rekaman, dengan menawarkan sistem jasa ‘titip edar’ bagi label, produser, ataupun artis yang ingin album rekamannya beredar di toko-toko musik nasional.”

Dari keterangan di atas, ‘titip edar’ menempatkan label rekaman sebagai distributor bukan produsen. Produksi album menjadi tanggung jawab musisi, sementara label rekaman cukup menyediakan jalur untuk promo album ke radio, stasiun televisi, atau tampil di beberapa tempat.

Shatria Dharma selaku Artist & Repertoire Manager dari Sony Music juga mengakui hal ini. “Jadi semua yang mendanai itu adalah band yang bersangkutan. Kalau di Sony itu mekanismenya hanya ada dua, full sign dan titip edar.”

Lelaki yang akrab disapa Aden ini menceritakan bahwa biaya produksi album rekaman yang harus dikeluarkan bahkan bisa mencapai sepuluh milyar rupiah. Kisaran harga ini bergantung dari jenis promosi yang digunakan serta produksi rekaman yang dilakukan (tracking-balancing-mixing-mastering). Biaya rekaman yang demikian mahal membuat label-label rekaman besar enggan membiayai produksi album, alih-alih meminta band yang bersangkutan membiayai sendiri.

Sistem ‘titip edar’ ini dimulai sejak 2006 ketika ada sebuah band yang tenar berkat memproduksi sendiri album rekamannya dan menggunakan jasa label rekaman untuk distribusi. Sistem ‘titip edar’ yang digunakan band ini akhirnya dipandang sebagai cara yang jitu. Biaya rekaman yang mahal membuat label berpikir dua kali untuk membiayai produksi lagu. Belum mereka harus bertaruh album tersebut laku di pasaran atau tidak. Bahaya pembajakan turut menyumbang kerugian bagi label rekaman. Sehingga sistem titip edar dipandang dapat mengurangi resiko kerugian yang besar.

“Itu masalahnya, di Indonesia produser masih dianggap sebagai orang yang membiayai modal. Sementara di luar negeri produser adalah orang yang bisa membaca lagu mana yang dirilis duluan dari album, susunan lagu dalam album, pokoknya memutar otak agar album tersebut sukses,” kata Gerry.

Produser musik di Indonesia lebih memilih untuk menimpakan resiko kegagalan tersebut kepada musisi melalui sistem ‘titip edar’, bukan memikirkan cara untuk menyukseskan album rekaman. Lelaki lulusan Universitas Padjadjaran ini juga menyayangkan tidak adanya seleksi yang dilakukan oleh label rekaman, meski sistem “titip edar” ini diberlakukan.

 

Rona Musik Indonesia

Dunia musik di Indonesia menurut sebagian pihak tidak lagi semenarik dulu, mulai dari keseragaman genre dan gaya yang dibawakan pelaku musik hingga kualitas lirik yang sederhana. Hal ini dibuktikan dari hasil riset yang disebarkan melalui internet kepada 589 responden mahasiswa yang tersebar ke seluruh Indonesia, 61% menyatakan kecewa terhadap tren musik saat ini.

“Musik di Indonesia makin lama makin nggak bisa dijual, ini akibat perubahan perilaku dari masyarakat Indonesia sendiri, dulu pasti beli piringan hitam atau kaset tapi sekarang udah ada internet tinggal search terus download,” kata Wendy Putranto, Executive Editor majalah Rolling Stone Indonesia.

Akibat langsung dari kesukaan masyarakat Indonesia mendapatkan yang gratis tanpa menghargai jerih payah orang lain menjadi pisau bermata dua bagi para pelaku musik. Di satu sisi, antusiasme masyarakat kian bersemi dalam menyambut karya idolanya. Sedangkan di sisi lain tindakan free download music membunuh keinginan para pelaku industri untuk mengorbitkan karya musisi yang bermutu.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *