Music Messenger ‘Booming’, Bagaimana Bisa?

 

Compusiciannews.com -Industri- Dimulai dari 6 orang di Israel yang dimana mereka jenuh dan mencari cara bagaimana musik itu dapat didistribusikan ke sesame teman dengan mudah tanpa harus menyalin tautan dari YouTube dan akhirnya dengan usaha keras mereka dan memanfaatkan waktu yang ada, Music Messenger lahir. Setahun kemudian, mereka dilirik oleh Gee Roberson, manager dari penyanyi rap dan RnB, Nicki Minaj dan Lil Wayne, kemudian disusul oleh investor asal Rusia yang juga pemilik dari klub sepak bola Inggris Chelsea, Roman Abramovich.

“Seseorang menyebut Gee Roberson, dan saat itu kami harus mencarinya di Google, karena kami bukan dari dunia seperti itu, kami cinta musik tapi saat itu kami tidak punya ide, turun dari pesawat, dan kami dipertemukan dengan Ash Pornouri, manager dari band Avicii, serta DJ asal Perancis, David Guetta. Dalam 3 minggu, kami dapat mencapai kesepakatan untuk ronde pertama.” Kata David Strauss dalam wawancaranya dengan tim Billboard, dia salah satu pendiri dari Music Messenger.

Kesepakatan itu menghasilkan US$ 5 Juta dan diberikan pada bulan Agustus 2014 silam.

Bisnis ini bukanlah suatu yang revolusioner, mengirimkan lagu ke teman-teman dengan smartphone anda juga sudah dilakukan oleh platform lain, seperti Boomio, Rithm, Undrtone, Radeeus dan munggkin masih banyak platform lain yang memiliki bisnis yang sama. Tapi kenapa Music Messenger yang hanya memiliki 1 juta pengguna dapat mengalahkan Rithm, yang diluncurkan bulan Juli  2014 lalu dan memiliki 3 juta pengguna, dalam hal peringkat? Rtihm berada di posisi 534 dari urutan aplikasi berbasis musik dan Music Messenger saat ini verada di posisi 20 di App Store Apple, bagaimana itu bisa terjadi?

Tim yang terdiri 6 orang ini cukup menyadari mengenai kondisi pasar global itu dan tim yang terdiri dari O.D. Kobo, Shai Azran, Eyal Cohen, Uzi Refaeli, Jordan Tanner dan Strauss berbasis di Israel, dimana layanan streaming terbesar di dunia, Spotify tidak tersedia disana, namun layanan pesan instan gratis WhatsApp, yang telah diakusisi Facebook sebesar US$19 Milyar, sangat populer di negeri asal 3 peradaban agama itu.

Pilihan musik streaming mereka hanya YouTube dan yang paling mudah bisa terhubung ke situs web adalah Smartphone.

“Kami dulu selalu menyalin tautan YouTube di WhatsApp,” kata Strauss. Kemudian mereka mengembangkan ide dengan membuat aplikasi yang mengkolaborasi YouTube dan WhatsApp dan berakhir dengan kesepakatan investasi sebesar US$ 35 juta dari Abramovich, Roberson, Benny Anderson dari band ABBA, Tiesto, will.I.am, Nicki Minaj dan David Guetta.

“Kami menyederhanakan proses mendengarkan dan megirimkan musik.” Sesederhana itu.

Tim akan mengembangkan bisnisnya hingga ke Tiongkok pada musim panas tahun ini, dan rencananya akan bekerja sama dengan perusahaan smartphone terbesar di negeri kain sutera itu.

“Meskipun di Tiongkok, YouTube tidak bisa diakses karena di-block oleh pemerintah, namun kami masih dapat bermitra dengan penyedia-penyedia konten streaming disana, seperti Tencent, Baidu dan Tudou. Dengan kami melakukan kerja sama ini, harapannya pengguna di Tiongkok atau warga Tiongkok di seluruh dunia dapat mengakses lagu-lagu mandarin dalam sejarah musik Tiongkok.”

Aplikasi ini mengunakan API (Application Programming Interface) yang Open Source dan dengan API inilah anda dapat berbagi data, seperti audio dan gambar, dan uga dari YouTube dan SoundCloud serta penyedia-penyedia Streaming lainnya. Pengguna juga dapat berbagi playlist dan menambah album art.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *