Musik Dangdut dan Pesta Demokrasi Indonesia

 

Compusiciannews.com -Sosial Budaya- Tahun 2018 hingga tahun 2019 adalah masa-masa dimana Indonesia akan memasuki masa demokrasi, yaitu pemilihan kepala daerah atau Pilkada dan pemilihan presiden atau Pilpres pada tahun 2019 mendatang.

Seperti pada biasanya, menjelang pemilihan umum selalu diikuti dengan masa kampanye dimana setiap kandidat calon pemimpin yang akan dipilih akan menyuarakan gagasannya untuk membangun daerah lebih maju lagi dan meyakinkan masyarakat untuk mau memilih sang calon untuk menduduki kursi kepemimpinan.

Berbagai cara dilakukan oleh masing-masing kader untuk melakukan kampanye, dan salah satunya adalah panggung hiburan atau konser dengan menggadeng beberapa penyanyi terkenal. Musik dangdut dipilih sebagai sarana kampanye oleh para kader, seperti yang dilakukan oleh Calon Gubernur Jawa Timur Saifulah Yusuf atau yang dikenal dengan nama Gus Ipul.

Gus Ipil menggadeng pendanggut Via Vallen dan Nella Kharisma, pendangdut pendatang baru yang sedang viral di kalangan masyarakat saat ini dan bahkan sedang menjjadi sorotan karena lagu-lagu mereka yang berjudul Sayang dan Bojo Galak

Musik dangdut keprap sekali meramaikan panggung kampanye dan apa sebenarnya hubungan antara kampanye partai politik dan bintang dangdut dengan politik di Indonesia?

Musik dangdut pada awal kemunculannya lebih dikenal dengan alunan musik melayu. Ia diyakini lahir dari percampuran irama zapin melayu, gambus, dan India. Hingga pada 1970-an Rhoma memperbaruinya dengan percampuran irama musik pop dan rock dari Barat. Hal tersebut menjadi sesuatu yang besar, musik yang dibawakan oleh Rhoma Irama mendapat tempat khusus di hati para pendengarnya. 

Tema-tema yang diangkat dalam lagu-lagu dangdut seringkali memang berkisar di wilayah kehidupan sehari-hari dan terutama pada masyarakat kelas bawah. Hal inilah yang menyebabkan musik dangdut kemudian menyandang citra sebagai musik kampungan. Tetapi, di luar pandangan itu, catatan dari liputan yang dilakukan Majalah Tempo pada 1979 menyebutkan bahwa irama dangdut yang dibawakan oleh Rhoma Irama laku keras di pasaran. Keadaan ini mengubah arah produksi musik Indonesia, sehingga sempat ada masa di mana semua pemusik digiring untuk memproduksi musik berirama melayu atau dangdut.

Jadi bisa dikatakan bahwa musik dangdut meskipun dinilai seperti musik kampungan oleh kebanyakan orang, namun musik inilah yang bisa melekat di hati rakyat dan hal ini juga yang dipakai oleh para politisi di masa-masa pemilu ini.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *