Potensi Keroncong Kabupaten Bantul

 

CompusicianNews.com -Komunitas- Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta, patut berbangga dengan potensi musik keroncong yang dimiliki masyarakatnya saat ini. Pada hari Kamis hingga Jumat lalu (Pendapa Parasamya, Bantul, 18-19/09) diselenggarakan pula oleh Himpunan Artis Musik Keroncong Indonesia (HAMKRI) Kabupaten Bantul—bekerja-sama dengan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kab. Bantul—sebuah hajatan festival, yang dimana tampil sedikitnya 17 grup wakil dari 17 Kecamatan yang ada di Bantul. Ini merupakan festival (kompetisi) kedua setelah tahun 2011 silam.

Meskipun tidak semua yang tampil merupakan grup profesional yang telah matang baik skill maupun penampilan, kuantitas ini boleh ditengarai sebagai petanda positif. Artinya, ini adalah potensi yang (sangat) bisa dikembangkan, asal dengan cara/strategi yang tepat. Haryono, Ketua HAMKRI Kab. Bantul mengakui bahwa beliau bersyukur dan menaruh perhatian penuh pada peluang kebudayaan ini. Beliau tentu saja membutuhkan bantuan berbagai pihak, baik Pemerintah, insan keroncong itu sendiri, para pengamat musik, dosen, guru musik, serta masyarakat pendukungnya.

Festival (Kompetisi) bukan satu-satunya

Apakah diadakannya festival (kompetisi) adalah cara yang masih relevan dipakai untuk pengembangan? Ini sebuah pertanyaan reflektif bagi HAMKRI Kab. Bantul, dan bisa juga bagi lembaga-lembaga kunci lain yang berkaitan dengan eksistensi musik keroncong, khususnya di Daerah Istimewa Yogyakarta.

Sebuah kompetisi bisa penting, selagi tujuannya adalah “mencari kedalaman” kualitas dan menemukan strategi pengembangan berikutnya. Tetapi kompetisi menjadi tidak penting apabila dalam berbagai penyelenggaraannya hanya untuk tujuan membandingkan kualitas grup satu dengan yang lain. Efek negatif yang terjadi adalah kompetisi menjadi semacam “adu jago”—bahkan tidak jarang pula menjadi pemicu iri-hati, perselisihan, hingga pudarnya persahabatan. Maka dari itu, pengadaan kompetisi perlu dikaji ulang dengan seksama melalui evaluasi yang matang untuk menemukan cara lain yang sekiranya lebih tepat.

Sudah tentu pengembangan yang dimaksudkan HAMKRI bukan sekadar memberi penghargaan berupa thropy dan uang “pembinaan” bagi setiap grup, yang nilainya tidak seberapa. Pengembangan yang semadyanya adalah bersifat jangka panjang, bukan jangka pendek. Apa cara lain yang bisa dilakukan selain kompetisi? Banyak.

Kegiatan semacam “Lokakarya” bisa menjadi penyeimbang yang bisa dicoba diseriusi untuk ke depan. Berdasarkan catatan Dewan Juri yang dipasrahi memberikan pengamatan pada festival yang telah berlalu kemarin masih banyak ditemui berbagai kendala (tetapi sekaligus ini potensi besar) yang bisa memicu ide-ide pengembangan yang lebih konkrit.

Masa depan

Lokakarya tentang pengembangan “teknik bermain musik keroncong” adalah yang pertama. Rata-rata grup yang tampil dalam festival masih belum memenuhi level standar cara menabuh keroncong yang benar. Sebab itu, pembinaan berupa mendatangkan tenaga ahli langsung secara gerilya untuk memberikan workshop keliling ke kecamatan-kecamatan, hingga sekolah-sekolah untuk regenerasi, sangat diperlukan. Bermain musik dalam ansambel keroncong bukan hal yang mudah, meskipun tidak terlampau sulit apabila tlaten. Begitupun dengan bernyanyi lagu-lagunya.

Lokakarya tentang “aransemen” adalah yang kedua. Apabila aransemen adalah salah satu upaya “re-kreasi” untuk menghindari stagnasi pada musik keroncong, maka aransemen pun mengandung “ilmu-ilmu” yang bisa ditularkan, dibagikan, dan dikembangkan. Ahli untuk aransemen musik keroncong, khususnya di Yogyakarta memang masih terhitung sedikit. Tetapi yang sedikit itu sangat bisa diberdayakan pikirannya untuk memberikan sumbangsih lebih konkrit, yaitu memberi workshop secara berkala bagaimana membuat aransemen yang bertujuan membuat lagu asli menjadi terlihat lebih indah dan menarik, tanpa menghilangkan “roh” musik keroncong.

Ketiga adalah lokakarya tentang “tata suara”. Ini hal yang sepele tapi sering dilupakan begitu saja. Bermain keroncong di rumah dalam situasi latihan biasa dan bermain di panggung terbuka yang ber-pengeras suara adalah dua karakter yang butuh penyikapan berbeda. Rata-rata grup yang tampil masih belum menyadari pentingnya posisi yang terbaik antara mikrofon dan alat musik. Sehingga ini sangat membebani penata suara. Lokakarya tentang “tata suara” bisa pula ditujukan kepada para penata suara untuk mendalami kaidah yang tepat dalam mereka-daya bunyi musik keroncong melalui pengeras suara. “Tidak mudah untuk ngesound musik keroncong,” banyak penata suara mengakui. Namun ini bisa dipelajari, dan di Yogyakarta ada yang berkompeten.

Keempat adalah lokakarya “cipta lagu”, yaitu pentingnya workshop tentang bagaimana membuat lagu yang bagus, dan hasilnya akan menambah perbendaharaan karya-cipta baru lagu-lagu keroncong, tidak hanya menyenandungkan yang lawas-lawas saja.

Kelima adalah “rekaman”. Perlunya para grup untuk menjajal pengalaman rekaman adalah salah satu tolok ukur untuk melihat seberapa jauh produktivitas musik keroncong mampu tersebar tidak hanya melalui panggung. Adanya rekaman musik, dimanapun itu, adalah satu-satunya pengakuan yang paling mapan, apalagi di zaman teknologi yang mudah dan media internet yang semua serba cepat menyebar ini. Dan lain-lain lagi menjadi hak saudara-saudari untuk menambahkan yang belum disebut.

Semua yang berkaitan dengan pengembangan musik keroncong ke depan bisa pula dipadatkan dengan adanya penulisan dan penerbitan buku-buku atau tutorial panduan belajar musik keroncong yang sama-sekali masih kosong. Ini lebih ringan dan efisien untuk biaya. Tetapi siapa mampu? Banyak. Dan mari pelan-pelan memetakan dan memulai usaha mulia ini demi kemajuan musik keroncong, musik asli Indonesia dan telah diakui dunia.

Oleh: Erie Setiawan selaku Dewan Juri Festival 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *