Random Access Memories, Menjelajah Sistem Analog Era 70-an dan 80-an

 

 

Compusiciannews.com – Studio – Membutuhkan waktu hampir empat tahun dan dana lebih dari satu juta dollar, predikat album terlaris 2013 nyatanya pantas disandang Random Access Memories milik Daft Punk.

Ketika kebanyakan media mainstream jarang mengulas urusan produksi sebuah album, namun pengecualian terjadi pada album yang memang fokus pada urusan sound ini.

Sejak dua album klasik pertama mereka, Homework (1997) dan Discovery (2001), Daft Punk dianggap sebagai yang terbaik di musik dance elektronik. Mereka telah membuat musik 70-an dan 80-an menjadi lebih spesial.

Menurut Daft Punk, era 70-an dan 80-an adalah ‘puncak ketrampilan dalam rekaman suara’. Sehingga, melalui Random Access Memories, Daft Punk ingin kembali bernostalgia pada metode rekaman era tersebut.

Sebuah konsekuensi, Daft Punk harus menggelontorkan dana besar untuk menyewa studio yang penuh dengan peralatan analog dan bekerja sama dengan musisi besar di era 70-an dan 80-an. Peter Franco dan Mick Guzauski adalah dua nama yang mereka pilih. Guzauski telah bekerja di beberapa album yang bahkan menjadi referensi bagi Daft Punk, seperti Earth, Wind & Fire, dan Michael Jackson. Ia juga pernah bekerja sama dengan Eric Clapton, BB King, Mariah Carey, Michael Bolton dan The Corrs.

Duo Perancis, Thomas Bangalter dan Guy-Manuel de Homem Christo memang secara terbuka mengkritisi scene musik elektronik yang mereka lihat sebagai ‘pemujaan teknologi’. Mereka lantang mengkritisi musik yang dibuat dengan laptop, yang sebenarnya bukan instrument musik. Menurut mereka, satu-satunya cara menangkap suara, rasa dan pikiran sebuah band adalah dengan kembali pada sistem analog dan metode kerja album era 70-an dan 80-an.

Proses penggarapan album di mulai tahun 2008 dengan melakukan banyak tes pada pita analog. Banyak hal dilakukan seperti merekam materi ke Pro Tools dan kemudian mentransfernya ke tape dalam berbagai level yang berbeda, lalu membawanya kembali ke Pro Tools. Mereka mencoba membandingkannya dengan materi yang direkam langsung ke tape lalu ke Pro Tools.

“Kami ingin melihat kombinasi yang berbeda tentang apa dan bagaimana tape dapat menghasilkan sound tertentu. Salah satu kesimpulannya, kami lebih menyukai sound yang didapat setelah menggunakan tape dan baru ke Pro Tools”, ungkap Franco.

Bukan sekedar menemukan sound dari masa lalu, tetapi lebih pada usaha untuk mendapatkan sound terbaik di era modern. Analog menjadi bagian besar dalam proyek Random Access Memories, dan itulah perbedaan besar yang dibuat Daft Punk. Selama rekaman dengan musisi secara live, Thomas dan Guy-Man juga memutuskan untuk menghindari penggunaan plug-in.

“Plug-in meniru apa yang dilakukan analog, tapi mereka tidak pada level yang sama. Orang-orang menggunakan plug-in yang sama dan itu tidak menarik bagi kami,” tambah Franco.

Rekaman dengan sistem analog membuat Daft Punk merasa spesial dan hidup. Pada sesi awal, Thomas dan Guy-Man menggunakan banyak keyboard seperti [Sequential Circuits] Prophet 5, [Roland] Jupiter 6, Juno 106, dan Yamaha CS80. Sedang untuk urusan mengedit Pro Tools, Daft Punk dibantu oleh engineer Pro Tools, Dan Lerner.

Sebagian proses rekaman dilakukan di Conway Studio C, Los Angeles dan sebagaian besar lainnya di Paris. Banyak pihak menyebutkan bahwa Random Access Memories bisa jadi album terbaik sepanjang abad 21. Bahkan, single pertama mereka ‘Get Lucky’ yang menampilkan legenda disko Neil Rogers pada gitar dan penyanyi Neptunes Pharrell Williams pada vokal langsung menjadi global hits 2013.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *