Rapper Tunarungu Asal Finlandia Ngerap Dengan Bahasa Isyarat

 

Compusiciannews.com – Sosial Budaya – Tepatnya pada Senin (4/5) lalu, rangkaian gelaran Asian Literary Festival 2015 digelar di Kota Solo. Sebelumnya, acara serupa pun digelar pada Kamis (19/3) di Teater Kecil, Gedung Teater Jakarta, Taman Ismail Marzuki.

Uniknya, acara ALF di Jakarta ketika itu terasa spesial setelah sebuah penampilan memukau dari seorang rapper tunarungu asal Finlandia, Mark Vuoriheimo atau yang akrab disapa Signmark. Ketika itu Signmark tampil dengan dua orang penyanyi dan Mark menuturkan lirik lagunya dengan bahasa isyarat.

Terbukti, keterbatasan ternyata tidak menghalangi langkah Mark untuk berkarir di dunia musik. Pria tunarungu berusia 36 tahun tersebut ingin membuktikan bahwa musik bisa dinikmati siapa saja, bahkan oleh mereka yang memiliki keterbatasan seperti dirinya.

Dengan menggunakan bahasa isyarat, Mark mencoba menerjemahkan beberapa lagu populer seperti lagu milik Madonna, Bon Jovi, Metallica, hingga lagu-lagu religi kesukaannya. Lagu-lagu tersebut dia pelajari sendiri dari kaset dan Mark mengaku jatuh cinta pada musik.

Kecintaan Mark pada musik bermula dari kebiasaan dirinya yang suka melihat kakek dan neneknya yang hobi berduet. Sang nenek bernyanyi sambil bermain piano, sedangkan kakeknya piawai memainkan harmonika. Lantaran melihat kakek dan neneknya, Mark pun memahami lagu dengan membaca gerak bibir sang nenek.

Ketika remaja, kesukaan Mark pada dunia musik semakin kuat. Ia pun mengaku paling suka menonton acara musik di MTV dan Mark bertekad bahwa kelak akan membuat video musik untuk lagu-lagunya sendiri.

Karir bermusik Mark kemudian dimulai setelah mengikuti sebuah kontes musik di Eropa “Eurovision Song contest. Lantaran mendapat dukungan dari penduduk Finlandia, Mark berhasil mewujudkan mimpinya untuk tampil di televisi.

Menjadi juara dalam ajang kontes yang diikuti menghantarkan Mark hingga berhasil keliling dunia. Ia bekerja sama dengan banyak musikus. Mementaskan musik dalam bahasa isyarat dan bahasa Inggris membuat penampilannya didokumentasikan banyak stasiun televisi di puluhan negara.

Mark mengaku bahwa proses membuat musiknya memang tidak mudah. Ia harus pintar-pintar memilih produser yang memiliki visi sama dan tentunya mengerti akan kekurangan dirinya. Pertama, ia akan membuat lirik lalu menentukan tempo dan beat musiknya bersama produser. Getaran dan gerakan tangan menjadi alat bantunya dalam bermusik. Ia juga membaca bibir seseorang ketika mendengar musik atau menyanyikan lagu.

Selain bermusik, Mark ternyata punya prestasi lain yaitu menulis buku. Ia pun tercatat sebagai pemegang gelar master di bidang pendidikan. Bagi dia, sulitnya menemukan produser justru jadi sebuah tantangan.

“Ini bukan semata-mata soal uang, tapi siapa yang mau bekerja dengan hati dan prinsip.” ungkap Mark.

Di tahun 2009, Mark diganjar penghargaan The Outstanding Young Person of the World. Label besar sekelas Warner Music pun bersedia merekam karya-karya Mark. Di tahun 2014 lalu, Mark sukses mengeluarkan album baru berjudul Silent Shout yang juga tersedia di iTunes.

Mark mengaku memilih hiphop dan rap karena jenis musik inilah yang dianggapnya bisa melampaui batas hingga merambah soal seni, budaya, politik, dan kehidupan masyarakat.

“Hiphop adalah musik yang memberikan hak dan persamaan. Soal keadilan dan hak semua komunitas pun diperhatikan di sana,” tutur Mark.

Melihat Mark mungkin memunculkan beragam rasa dalam hati kita. Ada rasa bangga, namun perasaan miris pun tidak bisa diabaikan begitu saja. Seorang Mark berhasil membuktikan bahwa musik memang pada dasarnya tidak punya batasan. Siapa saja boleh dan bisa bermusik asalkan punya kemauan dan kecintaan yang besar.

Belum pernah melihat aksi rapper tunarungu, Mark Vuoriheimo alias Signmark? Simak video ini!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *