Sabtu, 20 April 2019

Music Technology Lifestyle

Cinderella, Film Dongeng Disney Tanpa Adegan Musikal

Penulis :
Jumat, 27/03/2015 12.29.51 | Dibaca: 4086




Cinderella, Film Dongeng Disney Tanpa Adegan Musikal

compusiciannews.com


Compusiciannews.com -Film- Tim Produksi Cinderella menunjukkan bahwa dalam membuat remake suatu fairytale tidak perlu modifikasi dan improvisasi yang berlebihan. Disney Princess yang satu ini sangat monumental. Film animasinya sendiri diproduksi Disney pada tahun 1950. Sulit rasanya melupakan kisah putri sepatu kaca ini, karena dongengnya terus-menerus diceritakan dari generasi ke generasi. Sudah pasti, mayoritas penontonnya adalah kaum wanita. Dari posternya saja, Cinderella di bawah arahan sutradara Kenneth Branagh ini sudah menyampaikan warnanya dengan jelas: simple but elegant. Dibandingkan melakukan mengubah cerita, Branagh lebih memilih pendekatan historis yang setia pada kisah aslinya.

Semua pasti sudah tahu kisahnya, Ella adalah seorang anak yang tinggal bersama Ibu Tiri & 2 saudari tiri: Drisella & Anastasia. Bukannya dianggap sebagai keluarga, Ella malah diperlakukan seperti pembantu, bahkan dijuluki “Cinderella” karena mukanya sering terkena abu jelaga. Namun Ella terus berpegang pada nasihat almarhum ibunya: have courage and be kind (Milikilah keberanian & hati yang baik). Sehingga ia tidak pernah berbuat jahat pada siapapun, bahkan ia sangat baik terhadap binatang, dari angsa sampai tikus rumah. Kebaikan hati & kecantikannya lah yang mempesona Pangeran. Dengan bantuan Ibu Peri Pelindung, Ella dapat datang di pesta dansa, bertemu Pangeran dan ketinggalan sepatu kacanya. Pangeran bersikeras menemukan gadis yang kakinya pas dengan sepatu tsb. Akhirnya… They live happily ever after.

Karena sesuai dengan kisah aslinya, bagi yang familiar dengannya tentu tidak akan mendapatkan kejutan apapun. Pemilihan casting menjadi hal yang krusial disini. Lily James mampu menghidupkan tokoh Cinderella dengan sangat baik. Ia cantik, tampak memelas sekaligus menggemaskan, dan langsing. Sang Pangeran Richard Madden dengan mata birunya juga mampu mempesona. Namun yang paling memberikan pengalaman berkesan tetaplah Cate Blanchett yang hanya dengan sekali menoleh saja sudah tampak bersahaja. Duo Sophie McShera & Holliday Grainger juga berhasil tampak menyebalkan.

Jika ditimbang dari mutu cerita, Cinderella tidaklah terlalu dalam. Terlalu dangkal rasanya jika seorang pangeran bisa langsung jatuh cinta setelah bertemu dengan wanita cantik yang bersikeras menyelamatkan rusa. Tapi Branagh berhasil membuat romansa mereka menjadi sesuatu yang berarti; di mana “menerima apa adanya” menjadi issue yang lebih ditonjolkan. Penonton juga dibiarkan melihat bagaimana kebencian Ibu Tiri sejak awal terbentuk dari iri hati dengan adegan-adegan pendek yang mudah ditangkap (seperti ketika Ibu Tiri mengintip Cinderella berpelukan dengan Ayahnya).

Tidak seperti Disney Princess yang lainnya, kali ini tidak ada adegan drama musikal di dalamnya. Para pemerannya tidak bernyanyi-nyanyi ala Disney. Meskipun begitu, soundtrack dan audio film ini sungguh memanjakan telinga. Apalagi, visual film ini juga sangat menyegarkan di mata. Jangan lupakan gaun biru yang indah itu! Cinderella ini adalah suatu karya seni yang indah. Secara keseluruhan, nilai 8/10 @ristiirawan. Karena siapa yang butuh fairytale yang ruwet? Yang kita nantikan ketika menonton dongeng, hanyalah keindahannya… so they live happily ever after.

 

Cinderella_2015_poster

MESSAGES BEHIND THE MOVIE

Pesan dibalik film Cinderella ini bisa diambil dari 2 sisi, positif dan negatif. Dari segi positifnya, film Cinderella ini mengajarkan kita untuk selalu baik hati, bahkan kepada orang yang berbuat jahat sekalipun kepada kita karena kebaikan akan selalu membawa berkah dan mujizat bagi umat manusia, yang dimana dalam gambar ini diilustrasikan dalam bentuk Magic. Namun dari segi negatifnya, seakan film ini mengaarkan kepada kita untuk menerima nasib begitu saja tanpa ada usaha yang berarti dan seakan kebahagiaan seorang wanita hanya sebatas bertemu dengan pangeran tampan dan untuk membuat pangeran tampan jatuh cinta, seorang wanita harus berdandan secantik mungkin.Seakan, kisah ini mempertanyakan sebuah ketulusan cinta yang sebenarnya. 

loading...




nilai



Berita Terkait :

Komentar Anda