Kamis, 18 Juli 2019

Music Technology Lifestyle

Film 'Turah' Dipilih untuk Mewakili Indonesia pada Oscars 2018

Penulis :
Senin, 25/09/2017 10.00.21 | Dibaca: 984




Film 'Turah' Dipilih untuk Mewakili Indonesia pada Oscars 2018

CNN


Compusiciannews.com - Film - Academy Awards atau yang dikenal dengan Piala Oscars, bisa dibilang adalah penghargaan paling bergengsi terhadap film-film terbaik yang ditayangkan di berbagai dunia. Kali ini, Indonesia ikut berpartisipasi dalam Academy Award ke-90 tersebut, dan mengirimkan film terbaiknya, “Turah” sebagai calon jawara. Academy Awards ke-90 rencananya akan diselenggarakan pada 4 Maret 2018 di Dolby Theatre Hollywood, Los Angeles, California, Amerika Serikat.

Dengan demikian, film Turah akan bersaing dengan film-film terbaik dari negara lain, seperti Happy End (Michael Haneke, Austria), Thelma (Joachim Trier, Norwegia), hingga First They Killed My Father (Angelina Jolie, Kamboja). Meskipun kompetitor Turah cukup sulit ditaklukkan, Indonesia tak boleh patah harapan, sebab para juri telah mengirimkan kandidat terbaiknya.

Terpilihnya film Turah merupakan kesepakatan bersama Persatuan Perusahaan Film Indonesia, yang merupakan perpanjangan tangan dari Academy of Motion Pictures Arts and Sciences (AMPAS). Putusan tersebut disampaikan oleh Christine Hakim. Berdasarkan keterangannya, sebelum menentukan film yang akan mewakili Indonesia, Christine Hakim beserta sineas lain sudah melakukan proses penjurian lebih dulu. Ada 13 juri yang sepakat untuk memiliki film Turah sebagai wakil negara Indonesia di Oscar 2018 mendatang.

Juri-juri tersebut antara lain: Alim Sudio, Benni Setiawan, Fauzan Zidny, Firman Bintang, Jenny Rahman, Marcella Zalianty, Mathias Muchus, Reza Rahadian, Roy Lolang, Tya Subijakto, Wina Armada, dan Zairin Zain. Masih menurut Christine Hakim, ada banyak pertimbangan mengapa film Turah terpilih. Salah satu alasan yang terkuat adalah bagaimana Turah dengan luwesnya menampilkan potret kemiskinan yang memang menjadi problem banyak negara.

"Salah satu kekuatan dari film itu (Turah) adalah kejujuran dan kesederhanaan. Apa itu dari segi tematik tapi juga dari penggarapannya," tambahnya.

Film ini berani menampilkan kejujuran pada saat banyak film hanya menawarkan kepalsuan. Kekuatan film Turah adalah kejujuran dan keluguan dialognya di antara kemunafikan dan krisis kemanusiaan.

Dari segi cerita, film Turah menggambarkan tentang problema sosial masyarakat di Kampung Tirang di pesisir utara, dekat dengan Pelabuhan Tegalsari, Kota Tegal Jawa Tengah. Perkampungan tersebut merupakan salah satu wilayah miskin, terpencil, dan memiliki akses yang terbatas ke listrik dan air bersih. Listrik hanya menyala pada malam hari saja, sementara air bersih sulit diperoleh, dan masyarakatnya harus disibukkan pula oleh persaingan hidup dengan sesamanya.

Konflik pun terjadi di daerah yang serba sulit tersebut. Ditampilkan sepenuhnya dalam bahasa Tegal, penonton benar-benar akan merasakan rasa kemanusiaannya terketuk ketika menonton Turah. Potret kemiskinan yang jarang terlihat dan jarang diekspos selama ini akan ditampilkan dengan gamblang. Orang-orang di dalam film tersebut, seperti terjebak di dalam lubang kemiskinan dan tak mengerti bagaimana harus mengeluarkan diri dari sana, tak punya arah, dan tak punya harapan.

Film ini disutradarai oleh Wicaksono Wisnu Legowo, dan diproduksi oleh Fourcolours. Film yang berdurasi 83 menit ini dirilis pada 2016 lalu, tepatnya bulan Agustus. Terkait keikutsertaan Turah di dalam ajang internasional, ketua Umum PPFI Firman Bintang mengharapkan pemerintah dapat memberikan dukungan nyata terhadap film tersebut. Salah satunya adalah bantuan biaya promosi dan iklan terhadap film tersebut.

"Dengan demikian gaung film Indonesia yang dikirim ke Oscar 2018 menjadi lebih besar dan terdengar ke banyak jaringan dan pelaku film di seluruh dunia, yang dampaknya berimbas pada kemajuan industri film nasional," katanya

 

loading...




nilai



Berita Terkait :

Komentar Anda