Selasa, 23 Juli 2019

Music Technology Lifestyle

Hari Jadi Kota Solo, Kominfo Adakan Diskusi Umum Budaya di Monumen Pers Solo

Penulis :
Rabu, 18/02/2015 09.55.50 | Dibaca: 2289




Hari Jadi Kota Solo, Kominfo Adakan Diskusi Umum Budaya di Monumen Pers Solo

Mas Wahyu dalam sesinya di diskusi umum memberikan suasana humor yang meramaikan suasana //twitter.com/WahyuLiz/


Compusiciannews.com -Sosial Budaya- Pada hari Selasa (17/02), Kementrian Komunikasi dan Informasi bekerja sama dengan Monumen Pers Surakarta, menyelenggarakan sebuah diskusi umum yang dimana acara mengambil tema “Membangun Kebudayaan Indonesia yang Berkarakter Berbasis Potensi Lokal” yang menghadirkan beberapa narasumber, seperti Ibu Chitra yang merupakan perwakilan dari Dirjen Informasi dan Komunikasi Publik Kemkominfo, Bp Bambang Irawan yang mewakili dari Badan Promosi Pariwisata Indonesia dan juga merupakan dosen di Universitas Sebelas Maret Surakarta, kemudian ada Rini Yustiningsih yang merupakan redaksi dari media Solopos.com, dan ada 2 tokoh inspiratif bidang ekonomi kreatif, yaitu Satriyo Wibowo.,S.Sn yang mewakili Sekolah Musik Indonesia dan Wahyu Liz Adaideaja yang merupakan seorang pengusaha kreatif yang terkenal dengan humor-humornya yang mengocok perut.

Peserta yang hadir kebanyakan berasal dari para pelajar Sekolah Menengah Atas / Sederajat di kota Solo, seperti dari SMA Negeri 4 Surakarta,  SMA Negeri 5 Surakarta, SMA Negeri 8 Surakarta, SMK Negeri 2 Surakarta, dan SMK Negeri 7 Surakarta. Dan juga dari kalangan Mahasiswa yang berasal dari Universitas Sebelas Maret Surakarta. Moderator acara, Brian Barcelona merupakan seorang stand up comedian yang juga merupakan kontributor majalah RollingStone dan juga mahasiswa ilmu komunikasi semester akhir di Universitas Sebelas Maret Surakarta.

Diskusi yang berlangsung membahas mengenai potensi budaya lokal yang dapat menjadi karakter yang kuat dan dapat menjadi sebuah lahan kreativitas masyarakat untuk memperoleh peluang bisnis. Diskusi diawali dengan mendefinisikan budaya itu sendiri, 2 narasumber dari Kominfo dan Badan  Promosi Pariwisata Indonesia, Ibu Chitra dan Bp Bambang Irawan menjelaskan bahwa konteks budaya itu sebenarnya luas, tidak hanya mencakup pada hal-hal tertentu saja. Ibu Chitra menjelaskan bahwa pada dasarnya kebudayaan itu bersifat Tangible dan Intangible (Benda dan Tak Benda), yang berupa Benda, contoh : situs-situs peninggalan masa lampau dan benda-benda pusaka, kalau yang tak benda bisa berupa seni musik, seni tari, tata karma dalam keluarga atau masyarakat dan masih banyak lagi.

Bp. Bambang dalam sesinya lebih fokus pada budaya Jawa, karena bertepatan dengan hari jadi kota Solo yang ke 270 dan kota Solo sangat erat kaitannya dengan budaya Jawa. Beliau menjelaskan bahwa budaya Jawa sendiri merupakan budaya yang universal, karena memiliki 3 aspek yang bisa diaplikasikan ke semua lapisan masyarakat. 3 aspek itu mencakup Religius, Estetika dan Gotong Royong.

Wujud dari budaya Jawa itu sendiri, beberapa diantaranya adalah musik, kesenian tangan, sastra dll. Dan dalam mempromosikan budaya Jawa yang erat dengan identitas kota Solo ini, pemerintah kota sendiri sejak Jokowi masih menjadi walikota, telah mebuat sebuah event yang telah menjadi perhatian nasional bahkan internasional, melalui Solo Batik Carnival (SBC). Dalam event itu, hasil budaya Jawa dikreasikan sedemikian menarik, sehingga kreativitas dan potensi peserta yang mengikuti terasah secara maksimal dan hebatnya lagi, setiap peserta mengeluarkan biaya sendiri untuk event ini.

Satriyo Wibowo sebagai praktisi industri kreatif lewat instansi pendidikannya, Sekolah Musik Indonesia (SMI), fokus pada pengembangan Sumber Daya Manusia. Pria kelahiran Surakarta, 32 tahun lalu ini berpendapat bahwa untuk mempromosikan budaya lokal sehingga menjadi karakter yang kuat, perlu adanya pengembangan karakter setiap manusia itu sendiri.

SMI yang memiliki visi Rising New Generation of Indonesia sebenarnya berbicara mengenai sekumpulan orang yang mau dikembangkan pola pikir dan karakternya supaya dapat berkontribusi besar bagi bangsa, salah satunya adalah mempromosikan budaya lokal sehingga menjadi karakter yang kuat bagi suatu bangsa.

Juga perlu sebuah visi, karena hidup harus tergerak dengan adanya visi dan potensi diri adalah kendaraan yang dapat kita pakai untuk mencapai visi itu dan maka dari itu, generasi muda bangsa harus perlu mengetahui potensi diri yang dimiliki.

Rini Yustiningsih perwakilan dari Solopos.com mengutarakan pentingnya media informasi dalam mempromosikan budaya lokal sehingga dikenal hingga nasional maupun internasional. Narasumber terakhir adalah Wahyu Liz Adaideja, narasumber yang satu ini adalah narasumber yang paling nyeleneh dari yang lain. Dengan membawa humor-humor yang sangat menghibur selama sesi, membuat sesi dari pria yang kerap dipanggil mas Wahyu ini menjadi sesi yang paling disorot oleh para peserta yang hadir.

Dalam sesinya, dia lebih berbicara mengenai passion atau dia menjelaskan sebagai kemampuan yang menjadi sebuah panggilan hidup dalam pengembangan budaya lokal ini. Dia mengemukakan bahwa semuanya diawali dari sebuah passion atau potensi diri yang menjadi panggilan hati, jika kita sudah menemukan itu dan mengembangkannya, sudah pasti kesuksesan akan dapat diraih.

Mas Wahyu ini terkenal sebagai seseorang yang selalu membawa boneka ciptaannya, yaitu si Cuprit dan rencananya akan dijadikan komik serta film animasi dan misinya adalah dapat menggeser komik-komik luar dan film animasi asing. Dia juga menulis buku yang berjudul Emprepeneur (From Emperan to Empire) dan peraih penghargaan Inspirasi Indonesia Sejati 2011

“Passion dan industri tidak bisa dipadukan, karena industri sudah berbicara mengenia uang dan hal itulah yang mebuat para seniman jadi susah berkarya,” Ucap pria berblankon dan berjazz hitam asal kota gudeg ini saat didatangi oleh tim Compusiciannews.com seusai acara diskusi umum. “Yang saya kerjakan selama ini hanya mengembangkan ide-ide saja dan untuk industry ada pihak kedua yang membantu saya.” pungkasnya

 

 

loading...




nilai



Berita Terkait :

Komentar Anda