Senin, 22 Juli 2019

Music Technology Lifestyle

Jazz’in Lebaran #6 Metamorfosa Jazz di Solo 7 Tahun Terakhir

Penulis :
Sabtu, 02/08/2014 17.09.57 | Dibaca: 3592




Jazz’in Lebaran #6 Metamorfosa Jazz di Solo 7 Tahun Terakhir

Liputan


CompusicianNews.com – Komunitas- Belum hitungan 10 tahun Solo Jazz Society (Sojazz) ada di tengah masyarakat Solo untuk urusan musik jazz. Dua garda depan yang membidani lahirnya ini, Aditya Ong dan Ganggeng Yudana—didukung kawan-kawan lain, pada mulanya, awal 2007, hanya mempunyai alasan sederhana, mereka sangat mencintai jazz dan ingin membentuk semacam ruang kreativitas bagi para musikusnya, sekaligus apresiasi bagi masyarakat. Ini alasan yang masuk akal bagi aktivitas musik yang selalu butuh ditonton, baik sebagai hiburan maupun wawasan. Solo sebelumnya tidak terbiasa dengan jazz, dan posisi jazz tidak sedemikian melekat seperti layaknya karawitan, kroncong, campur-sari—yang lebih dulu mempunyai sejarah sosial yang panjang.

Sedikit demi sedikit, dari event Jazz in Sriwedari, Jazz in Segaran, Museum, Sar Gede, Jazz Ethnic, hingga Solo City Jazz, musik jazz mulai menemukan atmosfirnya bagi masyarakat Solo. Sojazz kemudian mempunyai agenda-agenda rutin pula semacam pentas di pusat perbelanjaan, dan pusat keramaian publik di tengah kota. Hubungan emosional antara masyarakat Solo dan musik jazz kemudian mulai menemui bentuknya, hingga yang terbaru: Jazz’in Lebaran #6, yang menyedot ribuan pengunjung berbagai lapis sosial selama sehari penuh (31/7)

Yang tampil dalam event kali ini: Bengawan Chamber Orchestra, Music Nutrient, SoJazz Jr, Butterfly, Matthew Trio, B-Fusion, Igna & Friends, Membahayakan, Vills In, 123 Band, Band Souljazz, Side Project Sragen, IPO Trio, SHP Trio, Asetya, Daniel Hibrianto, Cati, Delight Semarang, Ari trio feat Roy, Adit Ong Trio, HYP Project, JPG Quintet, dan Dony Koeswinarno. Mereka membawakan lagu/karya standar disamping karya-karya mereka sendiri.

Event pementasan hanyalah salah-satu parameter untuk mengukur sejauh mana musik berkembang di suatu tempat/wilayah. Usaha ini harus terus di-ikuti dengan kegiatan atau program lain yang sifatnya lebih jangka panjang, seperti diskusi reguler, rekaman dan rilisan album jazz, siaran apresiasi di media massa, program pendidikan ke sekolah-sekolah/komunitas serta kontinyu, dan lain sebagainya.

Kita memang belum terbiasa dengan kegiatan di luar event/pementasan yang sebetulnya dampaknya jauh lebih penting dan tahan lama,—misalnya, dari rekaman-rekaman yang dibuat akan bisa menjadi celengan untuk membikin “Museum Jazz Solo” di suatu saat nanti, berisi artefak orisinal karya-karya jazz asli bikinan wong Solo  dari mulai Embong Rahardjo, Didiek SSS, hingga Adit Ong, Ganggeng, Daniel, Cati, dan semua pendukung aktif jazz di Solo yang penuh semangat.

Semoga jazz di Solo tidak sekadar hura-hura, melainkan representasi kebudayaan yang sesungguhnya.

loading...




nilai



Berita Terkait :

Komentar Anda