Jumat, 19 April 2019

Music Technology Lifestyle

Kemajuan Digital Memecah Belah Industri Musik?

Penulis :
Kamis, 24/04/2014 01.21.28 | Dibaca: 1687




Kemajuan Digital Memecah Belah Industri Musik?


CompusicianNews.com - Industri - Digitasi musik telah membantu merevolusionalkan bisnis hiburan. Tapi kefrustrasian antara industri musik dan teknologi masih penuh dengan masalah musik streaming dan masa depan label rekaman yang menjadi bahan utama perdebatan.

Radiohead frontman, Thom Yorke, memperbaraui serangannya pada layanan musik streaming, Spotify, sebagai “keputusasaan dari bangkai yang sekarat” dan bagaimana mereka menghancurkan hubungannya dengan label-label besar.

Banyak pemegang hak paten telah melindungi produksi musik mereka, termasuk Yorke yang menyebutkan bahwa kerugian mereka karena layanan streaming yang diperoleh per lagu tidak sebesar dibanding jumlah yang dihasilkan dari pengunduhan.

Bagaimanapun, dalam pembelaannya, Spotify menunjukan bahwa mereka sudah membayar kepada pemegang hak paten sejumlah uang dan akan memberikan hasil keuntungan dari layanan ini untuk dikembalikan kepada industri musik.

Spotify juga berkata bahwa pembajakan telah berkurang hingga 25% sejak diluncurkan aplikasi mereka di Swedia 6 tahun yang lalu.

Band asal Inggris, Keane yang sudah berkarir di industri musik selama kurang lebih 10 tahun tidak melihat hal ini sebagai suatu masalah.

Vokalis Keane, Tom Chaplin, berkata “Itu hanyalah dunia dimana kita tinggal. Saya rasa orang-orang suka memilih-milih musik dan saya pun melakukannya. Saya selalu membuat playlist dari lagu-lagu yang saya gemari, kapanpun dari album-album saya yang berbeda”.

Pianis Keane, Tim Rice Oxley, juga tidak begitu khawatir. Ia menyebutkan, “Menurut saya konser musik adalah hal yang paling berharga dalam musik. Ini adalah sesuatu yang tidak dapat ditiru atau dibajak dengan teknologi apapun”.

Disamping tantangan yang sedang berjalan, banyak kalangan dalam industri musik berargumen mengenai kemajuan digital yang lebih konstruktif daripada destruktif. Kemajuan digital ini dapat mengembangkan bakat artis-artis pendatang baru untuk dapat bangkit dan tersohor tanpa bantuan label besar dan hal ini merupakan kehancuran untuk struktur hirarki yang masih tradisional, khususnya perusahaan label rekaman.

Echotape yang memilih sebagai band independen telah menjadi sorotan dengan bantuan media sosial, aplikasi gratis dan self-distribusi platform. Video pertama mereka telah dibayar sekitar Rp 800.000 untuk pertama kali saat ditayangkan.

“Saat memulainya, kami menyadari bahwa kami harus melakukan segala sesuatunya karena kami tidak akan langsung ke perusahaan label  dan meminta bantuan keuangan”, kata drummernya, Mike Bufford.

“Jadi kami semua menabung. Kami membeli iMac, kami memperoleh UAD (kartu yang digunakan untuk menjalankan audio plugin), speaker Genelec yang akan menghasilkan kualitas suara yang bagus yang kami butuhkan untuk rekaman. Kami tidak perlu harus membayar untuk menyewa studio,” pungkas Bufford.

Pemain bass, Dan Morris menambahka, “Semuanya tidak memerlukan biaya banyak, kami hanya bekerja lewat gadget-gadget dan media sosial.”

Dengan tool Sel-Distribution Platform ini dimana setiap orang dapat secara independen dapat melakukan produksi musik sendiri. Masa depan perusahaan label pun dipertanyakan dan kemungkinan banyak perusahaan label yang harus siap gulung tikar karena mereka tidak akan dipakai lagi.

Paul Smernicki, direktur Digital Universal Musik di UK mengakui tanda-tanda kehancuran perusahan label rekaman ini, namun dia berkata bahwa perusahan label tidak akan mati total jika mereka mampu berkompetisi. Mr. Smernicki juga berkata baru-baru ini, Universal, perusahan label yang dia pimpin telah meluncurkan layanannya sendiri di Swedia yang memungkinkan para artis pendatang baru dapat di-streaming-kan ke jaringan label juga.

Dengan banyak label yang bergabung di revolusi ini, maka daripada menghabiskan waktu dan tenaga untuk melawan, lebih baik meminimalisir perdebatan dari perusahaan label tradisional yang mungkin masih bisa berlanjut.

loading...




nilai



Berita Terkait :

Komentar Anda