Kamis, 18 Juli 2019

Music Technology Lifestyle

Ketika Romantisme Penggemar dan Musisi Tergerus Zaman

Penulis :
Kamis, 16/04/2015 12.00.00 | Dibaca: 2177




Ketika Romantisme Penggemar dan Musisi Tergerus Zaman

http://jkt48tasikmalaya.com/?p=325


Compusiciannews.com - Sosial Budaya - Bagi seorang penggemar, bisa bertemu dengan musisi idolanya adalah sebuah kesempatan berharga. Bisa foto bersama, minta tanda tangan, hingga sekadar mengirim selembar surat jadi kemewahan yang luar biasa.

Namun, romantisme antara penggemar dan musisi macam ini mungkin tak lagi banyak terjadi di tahun-tahun belakangan. Ya, ketika Facebook muncul sekitar tahun 2004 dan kemudian disusul Twitter di tahun 2006, hubungan antara penggemar dan idolanya pun berubah jadi serba instan dan virtual.

Cukup dengan Like Fan Page idola di Facebook atau follow akun pribadi idola di Twitter, kita sebagai penggemar bisa dengan mudah mengetahui aktivitas atau kabar terbaru dari mereka.

Facebook dan Twitter ibarat “jembatan” yang menghubungkan dunia si penggemar dengan idolanya. 24 jam dalam 7 hari, seorang penggemar bisa leluasa menyapa atau bertanya kabar pada idolanya dengan hanya bermodalkan telepon pintar dan jentikan jari.

[email protected], apa kabar? masih tettep senyum kan?”

[email protected] gak cuma modal cantik, suaranya juga luar biasa!”

Lalu, apa jeleknya hubungan penggemar dan idola di era ini? Mungkin tak ada efek negatif yang begitu kentara. Tapi, para penggemar yang tumbuh di era ini bisa jadi tak merasakan betapa serunya berburu alamat basecamp penyanyi atau musisi idola demi bisa mengirim surat atau kartu ucapan pada mereka.

Generasi sekarang juga bisa jadi tak mengerti betapa asyiknya berburu poster gratisan di majalah dan tabloid lalu memajang wajah sang idola di dinding kamar. Ya, buat apa berburu poster gratisan ketika Google Images cukup memuaskan mata penggemar yang ingin memandang foto-foto idolanya.

Dan yang paling kentara tentu saja perkara bagaimana penggemar bisa menikmati karya-karya musisi favoritnya. Jika sekarang penggemar begitu dimudahkan dengan adanya toko musik digital seperti iTunes hingga pemutar gratisan layaknya Deezer dan YouTube, penggemar di era sekarang mungkin tak merasakan perjuangan menyisihkan 20 hingga 50 ribu rupiah demi bisa membeli kaset atau CD fisik.

Kemajuan teknologi memang hampir pasti lebih banyak memberi dampak positif daripada dampak negatif. Namun terkadang, kemajuan teknologi seperti “memaksa” orang-orang untuk menerima perubahan yang sebenarnya tak sepenuhnya mereka inginkan. Salah satunya, perubahan hubungan antara penggemar dan idolanya yang di era dulu lebih terasa intim dan romantis.

loading...




nilai



Berita Terkait :

Komentar Anda