Selasa, 19 Juni 2018

Music Technology Lifestyle

Musik Keras Picu Pola Makan Tidak Sehat? Ini Faktanya

Penulis :
Jumat, 01/06/2018 09.51.04 | Dibaca: 84




Musik Keras Picu Pola Makan Tidak Sehat? Ini Faktanya

groupon.com.au


Compusiciannews.com -Sains- Mencoba berbagai hidangan di bermacam-macam restoran ditemani alunan musik nan merdu bisa menjadi salah satu kegiatan favorit Anda, tapi faktanya, volume musik di restoran bisa mempengaruhi apa yang ingin Anda pesan dan bisa jadi bukanlah pilihan tepat untuk kesehatan Anda.

Pada sebuah penelitian terbaru yang dilakukan oleh Profesor Dipayan Biswas dari University of South Florida’s Muma College of Business bersama tim, ditemukan bahwa konsumen memilih makanan yang sangat berbeda berdasarkan musik yang dapat didengar.

Menurut hasil penelitian yang diterbitkan di The Journal of the Academy of Marketing Sciences, volume musik terbukti mampu mempengaruhi detak jantung dan antusiasme. Secara alami, musik yang lebih keras memicu semangat, stimulasi, dan stres, sementara musik yang lembut memberikan efek menenangkan. Pelanggan yang diperdengarkan musik pada volume tinggi memesan makanan yang sangat tinggi akan kandungan kalori pula. Sebaliknya, mereka yang diperdengarkan musik yang lebih lembut secara rutin memilih makanan yang lebih sehat.

“Musik bisa mempengaruhi sistem fisiologis kita,”, jelas Biswas pada situs TODAY Food. “Kau cenderung akan menari jika mendengar musik yang keras. Tingkat semangat yang tinggi mempengaruhi kita memilih makanan tidak sehat.”

Untuk melaksanakan bagian utama penelitian, Biswas beserta tim menyewa sebuah kafe di Stockholm, Swedia selama beberapa hari untuk melakukan penelitian kepada ratusan subyek. Ketika pelanggan kafe membaca dengan teliti berbagai menu yang dikategorikan sebagai pilihan “sehat”, “tidak sehat”, dan “netral” (kopi dan teh), para peneliti memainkan playlist yang terdiri dari berbagai macam genre musik seperti rock kontemporer, pop, dan musik klasik secara berulang selama beberapa jam. Pada hari tertentu, mereka memainkan lagu pada 55 desibel (dB) dan di lain hari volume musik dinaikkan menjadi 70dB.

Ketika Biswas meninjau penjualan kafe, ia menemukan sebanyak 20 persen pelanggan memesan makanan tinggi kalori saat musik disetel lebih keras, apapun lagu yang diputar. Fenomena tersebut dikaitkannya pada kebutuhan manusia untuk mencari kenyamanan ketika stres. Ia juga mencatat bagaimana pola ini memungkinkan restoran atau supermarket memanipulasi perilaku konsumen saat berbelanja. Guna memperdalam penelitian mengenai teori tersebut, Biswas menerapkan tipe tes yang sama di toko bahan makanan terdekat di negara yang sama dan mendapati konsumen membeli lebih banyak kue kering, keripik, dan daging merah saat musik diputar pada volume 70dB. Namun ketika volume diturunkan menjadi 50dB, konsumen cenderung membeli sayuran, buah-buahan, biji-bijian, dan sebagainya.

Sebelumnya, pada penelitian yang dilakukan oleh Charles Spence dari Oxford University, dibuktikan bahwa bagaimana atmosfer dan alat makan yang lebih berat bisa menguah persepsi otak kita terhadap makanan, bahkan membuat makanan terasa lebih lezat. Kontras dengan penelitian oleh Biswas yang berfokus pada volume musik, Spence menemukan bahwa mendengarkan musik pop, seperti lagu “Baby” yang dipopulerkan oleh Justin Bieber, memberikan pengalaman yang kurang nyaman bagi banyak pelanggan, sementara  musik opera khas Italia yang menemani saat menikmati pizza atau pasta di atas meja dengan taplak bermotif kotak-kotak merah putih terbukti memberikan pengalaman yang lebih berkesan bagi pelanggan.

loading...




nilai



Berita Terkait :

Komentar Anda