Rabu, 20 Februari 2019

Music Technology Lifestyle

Musik itu Apa?

Penulis :
Kamis, 02/10/2014 11.00.00 | Dibaca: 2974




Musik itu Apa?

Scan


CompusicianNews.com -Pendidikan- Pertanyaan mengenai apa itu musik memang sangat mengusik perhatian banyak orang, terutama para filsuf seperti Plato, Aristoteles, Schopenhauer, Nietzche, hingga Adorno. Musik tak pernah berhenti diperbincangkan, terutama diletakkan dalam konteks filsafat dan metafisika untuk dipersoalkan kembali mengenai hakikatnya (ontologis), tentang pertanyaan inti dan tajam seperti apa, mengapa, dan bagaimana. Hingga pada suatu ketika (1952), John Cage, komponis Amerika, membuat karya dengan judul 4’33” (empat menit tigapuluhtiga detik) yang sangat aneh dan membingkin jengkel para penontonnya. Bayangkan, tidak ada bunyi apapun dalam karyanya, selain seorang David Tudor (pianis) yang duduk diam di kursi sambil memandang stop watch dan menunggu hingga waktu habis. Terang saja penonton muntab. Ini ibarat kita memesan cap cay tapi hanya dikasih bumbu-bumbunya saja.

John Cage membuat revolusi besar atas (konsep) musik di tengah pengertian formal mengenai musik yang umumnya dipahami sebagai bunyi yang disusun secara sistematis. Karya John Cage yang dipandang aneh dan gila pada waktu itu seolah hendak menyampaikan sesuatu, bahwa musik tak harus berbunyi. Bukankah ini aneh sekali dan sangat menyimpang dari kebiasaan kita mendengar musik yang sudah tentu harus ada bunyinya (memiliki syarat adanya nada, irama, melodi, dan seterusnya)? Namun, John Cage, yang belajar tentang filosofi Zen Budhism, punya argumen kuat yang tidak bisa dilawan siapapun: “Diam dan waktu adalah inti dari musik, tanpa ada diam dan waktu kita tidak akan pernah bisa menciptakan musik,” ujarnya. Dan memang benar, seperti cahaya yang ada karena kegelapan. Apakah kita bisa membuat musik tanpa adanya diam dan waktu? Gampangnya, apabila kita memutar mp3 pasti ada petunjuk tentang durasi, yang menjelaskan bahwa musik yang kita dengar akan berbunyi sepanjang waktu yang sudah ditentukan.

Ada ilustrasi singkat untuk membantu kita memahami. Ada dua orang, yang satu melihat pameran lukisan, dan yang satunya menonton konser musik—pada waktu yang sama keduanya sama-sama pergi ke toilet selama 5 menit. Sesudah itu keduanya kembali lagi, ke ruang lukisan dan ke ruang konser. Apakah lukisan berubah? Tidak. Apakah musik berubah? Iya. Si penonton (pendengar) musik hanya kumanan bagian coda dari lagu yang dibawakan. Inilah kenapa musik sangat terikat waktu, sementara lukisan terikat ruang.

Melalui buku ini Karina Andjani, penulisnya, mencoba mempertanyakan kembali apa itu musik lewat sebuah kajian yang cukup mendalam atas karya 4’33” John Cage tersebut. Ia menyebutnya kajian tentang sunyi dan bunyi. Karina, perempuan muda dari Jakarta ini adalah lulusan program filsafat Universitas Indonesia dan seorang Chopin Addict, penggemar berat karya-karya piano klasik Frederic Chopin, dan ia juga seorang pianis yang bersentuhan langsung dengan musik secara empiris. Maka, kajian musik dari seseorang yang memiliki pengalaman langsung sebagai pemain musik akan memiliki nilai lebih dibanding kajian musik yang dilakukan oleh orang di luar disiplin musik yang tak pernah punya pengalaman musikal sama sekali dan hanya sekadar meneropong dari luar.
Buku setebal 150 halaman ini berisi empat bab utama, dan satu bab pembuka. Bab pertama berisi penjelasan yang umum mengenai fakta dan fenomena musik selama ini. Bab kedua mengulas perkembangan seni (musik) avant-garde, musik kontemporer, dan sosok John Cage. Bab ketiga adalah aneka pandangan konseptual tentang musik dari segi filsafat musik dan ontologi musik. Bab keempat berisi telaah serius atas karya 4’33” dalam kerangka pikir filsafat dan ontologi musik. Bab kelima adalah kesimpulan.

Karina bersikukuh pada sebuah kesimpulan, bahwa 4’33” bukan musik, tetapi karya seni. Ia tidak melihat adanya kecukupan segi musikal mendasar untuk dapat menganggap itu sebagai karya musik. Karina menganggap 4’33” hanyalah pertunjukan konseptual dan teatrikal yang “berisi” gagasan-gagasan tentang musik. Diam pun bagi Cage dalam karyanya tersebut, menurut Karina, bukan merupakan sesuatu yang absolut. Suara selalu ada, dalam hening sekalipun, dan kita pun tak bisa mencegahnya, terlepas dari suka atau tidak (hal. 106).

Harsawibawa pada akhir (epilog/pascawacana) buku ini memaparkan tanggapan dengan menganalisa beberapa contoh karya musik yang penting dari masa ke masa sejak Montoverdi, Bach, Mozart, Beethoven, Wagner, hingga Alban Berg. Menurut Harsawibawa buku ini adalah buku pertama di Indonesia yang secara amat sangat serius membicarakan hakikat sebuah karya musik dan penciptanya, meskipun kajian tentang John Cage bukan merupakan hal baru. Karina melakukan dua hal sekaligus: (1) ia melakukan analisis atas sebuah karya musik—suatu hal yang biasa dikerjakan para musikolog, dan (2) Karina memperlihatkan implikasi dari analisis tersebut yang masuk dalam permasalahan filsafat—suatu hal yang bisa dikerjakan para filsuf (hal. 143-144).

Bagi para awam yang penasaran akan musik buku ini memang sulit dimengerti, terutama karena pembahasannya sangat teoritik dan mengandung banyak istilah “asing”, butuh minimal kamus bahasa ilmiah dan kamus musik sebagai panduan untuk membaca. Namun, bagi peminat filsafat (dan musikologi), buku ini adalah sebuah gebrakan pencerahan yang cukup menarik di tengah langkanya kepustakaan musik yang membahas ilmu pengetahuan (musikologi) di sebaliknya, dan di tengah langkanya kepustakaan filsafat yang membahas musik.

 

loading...




nilai



Berita Terkait :

Komentar Anda