Sabtu, 20 Juli 2019

Music Technology Lifestyle

Noe "LETTO": Musik Perlu Strategi

Penulis :
Senin, 02/06/2014 10.05.04 | Dibaca: 7482




Noe "LETTO": Musik Perlu Strategi

www.kenduricinta.com


CompusicianNews.com -Industri- Umumnya kita tahu, Noe ini hanyalah seorang vokalis pop komersial. Tapi siapa sangka, ia punya wawasan luas di bidang musik dan industrinya, dan sudah tentu perkembangan teknologinya. Pandangannya tentang musik terbilang lumayan, walau ia tak pernah sekolah formal, tapi hanya belajar dari buku, internet, dan pergaulan. Beberapa waktu yang lalu, di studionya di kawasan Kadipiro, Yogyakarta, Compusician mengadakan obrolan santai dengan Noe. Ia menjelaskan pandangannya mulai dari terminologi, pendidikan, industri, sampai filosofinya. Obrolan kami ini punya motto “Multum in Pauco.” Apa artinya? Sedikit tapi bermutu!

 

Compusician (CN): Menurut Anda, Apa pengertian teknologi musik dan musik teknologi?

Noe Letto (NL): Menurutku “teknologi musik” itu nyawanya tetap musik, tapi dibantu teknologi. Maksudnya mempermudah pekerjaan musik karena adanya macam-macam teknologi. Misalnya perpindahan clavinova ke piano. Itu teknologi musik. Sekarang ini lebih dipermudah lagi dengan adanya sequencer, komputer, dan lain lain. Nah, kalau “musik teknologi” sebaliknya, nyawanya ada di teknologi. Bloom bikinan Brian Eno misalnya (www.generativemusic.com). ReacTable dengan basis sintesis yang sering dipakai Bjork (www.wired.com). Seperti Dj juga termasuk, karena mereka harus mengumpulkan material, tidak bisa on-spot langsung bikin. Intinya kalau teknologi musik berarti kalau tanpa teknologi nggak akan terjadi musik. Nyawanya ada di teknologinya, itu teknologi musik.

CN: Bagaimana sisi edukasinya?

NL: Sangat membantu. Contohnya yang ada di dunia games. Pada 2010 yang lalu dirilis GuitarRock3 namanya. Ini seperti Guitar Hero yang sangat populer. Jadi intinya bagaimana orang bisa mengenal teknologi musik dengan pendekatan games yang mengedukasi. Dalam GuitarRock3 tersebut mediumnya adalah gitar yang dimodifikasi sedemikian rupa. Mereka ngegames tapi nggak sadar kalau lagi belajar skill seperti di gitar pada umumnya. Ada juga yang di iPad, di situ ada game yang bisa membantu untuk belajar partitur (notasi). Tapi kamu nggak sadar juga kalau sedang belajar elemen-elemen dasar dari partitur seperti membaca ritme, tempo, dinamik, dan seterusnya, masih banyak lagi.

CN: Edukasi di lingkup formalnya?

NL: Itu bisa membantu kalau memang ada. Tapi kalau menurutku musik sebagai seni itu lebih baik bebas. Setiap orang punya pilihan, dan itu sesuka hati masing-masing. Sementara kalau kita ngomong pendidikan untuk kepentingan industri, ini perlu juga untuk keperluan efisiensi, supaya ada standarisasi. Kita butuh itu untuk efisiensi pekerjaan, walaupun tidak mutlak. Banyak sekali yang tidak berada di jalur formal malah jauh lebih berhasil. Nah, pendidikan formal berjenjang itu juga bisa berdampak. Apa dampaknya? Kita jadi mudah mengukur orang lain dengan standar kita. Akibatnya, sebagai manusia jadi tidak utuh dilihat sebagai manusia. Jadi kurang dihargai.

CN: Apakah perlu pendidikan teknologi musik sejak dini, dimulai usia SD misalnya?

NL: Ngoyoworo kalau sejak dini. Menghabiskan tenaga, energi.

CN: Sebabnya?

NL: Itu kan butuh strategi yang bagus, dana yang cukup, SDM yang mumpuni untuk menggarapnya, dan lain-lain. Aku melihatnya seperti ini: bahwa belajar musik itu berangkat dari minat. Kalau nggak ada minat ya dikasih apa saja nggak bakalan jadi. Misalnya kalau mendekati anak-anak, itu bisa dimulai dari game yang menyenangkan. Anak-anak akan senang, bisa belajar dengan fun karena dekat dengan dunianya. Ini akan alamiah. Menurutku tidak perlu dirancang sedemikian rupa. Anak-anak kenal Play Station, juga tidak sepenuhnya negatif. Dari situ secara alamiah berkenalan dengan teknologi musik juga.

CN: Tapi kan mereka belum ada focusing?

NL: Itu bukan dibebankan kepada yang belajar tapi pada pendidiknya. Jadi pendidiknya harus paham dulu. Pendidik harus bisa memberi stimulus pada anak didiknya. Ini sudah lumrah.

CN: Kerjasama dengan pemerintah untuk pendidikan teknologi musik?

NL: Haha...apalagi...Itu susah. Sebenarnya mereka kan punya dana, tapi “dicuri” sendiri. Ini sebenarnya tugas pemerintah juga, kan? Untuk mengikuti perkembangan teknologi musik sebagai sarana edukasi.

CN: Yang terjadi di Amerika secara umum?

NL: Teknologi musik untuk membantu pendidikan musik di sana sudah berkembang walaupun masih “bayi” juga. Umumnya kan pendidikannya masih metode lama, yang menekankan pada skill. Belum spesifik ke teknologi musik. Ini masih beranjak, dan masih dieksplorasi.

CN: Sekarang tentang industri, apa batas kreativitas dan idealisme

musik di Indonesia sekarang?

NL: Kalau untuk berkomentar itu aku tidak berangkat dari abu-abu, hitam-putih, jahat-baik dan sebagainya. Misalnya, kalau kamu mau masuk kraton ya harus taat peraturan kraton, misalnya pakai beskap. Walaupun itu sesungguhnya bukan ekspresimu. Tapi apakah dengan masuk kraton kamu akan kehilangan dirimu? Nah, idealisme bukan berarti seratus persen “mauku.” Kalau aku masuk industri, musikku harus dinikmati orang banyak tanpa harus mengobral.

CN: Berarti harus kompromi?

NL: Bukan kompromi. Kalau kompromi itu cenderung manut, kita jadi nggak punya sikap.

CN: Jadi?

NL: Kalau kita mengambil keputusan/berbuat sesuatu, itu kan pertimbangannya banyak. Ketika ngomong yang ideal adalah seneng orane (suka apa tidak). Kalau komersial adalah payu orane (laku apa tidak). Keduanya harus dipertimbangkan supaya menemukan yang paling pas. Jadi bukan mengkotakkan bahwa idealisme itu cenderung tidak laku, atau komersial itu mengobral. Harus ada proporsi di antara keduanya.

CN: Kolapsnya industri musik di Indonesia secara fisik. Apa komentarnya?

NL: Ini jelas karena efek teknologi internet. Yang kedua adalah mental. Orang kita, kalau mau jujur jauh di lubuk hati seneng mengonsumsi yang gratisan. Kalau bisa gratisan kenapa harus beli? Begitu. Nah, itu kalau mau menggali ke akar-akarnya adalah mental bangsa. Misalnya kita melihat pembantu rumah tangga bukan sebagai profesi profesional. Mereka juga manusia yang perlu kita hargai setara, bukan untuk disuruh atau diperbudak. Atau ketika kita melihat karya musik. Itu karyannya orang lain, harus dihargai, bukan dibajak. Ini soal penghargaan manusia satu dengan yang lain. Sementara, yang jadi persoalan adalah regulasi di Indonesia ini tidak memastikan industri musik jalan. Kalau dihitung kasar sesungguhnya kita bisa punya omset 6 trilyun jika mau membidik strategi music publishing, seperti jingle, iklan, dan dunia broadcasting pada umumnya. Di luar negeri itu jalan.

CN: Strategi setelah kolaps?

NL:  Sekarang jualannya single, bukan album, karena tidak ada langkah lain. Jualan satu lagu atau sepuluh lagu ya sama saja. Kalau di luar kan ada iTunes, yang merupakan online store. Prosesnya credit card dan segala macam. Di Indonesia seperti itu nggak jalan. Korea misalnya, beberapa tahun yang lalu merubah sistem transaksi lagu. Barang menjadi jasa, istilahnya subskripsi. Perpindahan dari pembelian ke jasa. Sebulan bayar sekian untuk dapat musik. Sekarang industri kita mengembangkan itu juga melalui provider seluler.

CN: Keuntungannya?

NL: Yah timbangane raono (daripada nggak ada). Hehehe...

 

loading...




nilai



Berita Terkait :

Komentar Anda