Selasa, 23 Juli 2019

Music Technology Lifestyle

Peran Musik dalam Konflik Indonesia – Malaysia

Penulis :
Jumat, 25/08/2017 11.35.54 | Dibaca: 926




Peran Musik dalam Konflik Indonesia – Malaysia

Kostum Band Nidji saat tampil di panggung Malaysia kapanlagi.com


Compusiciannews.com -Sosial Budaya- Indonesia dan Malaysia adalah 2 negara dengan kepribadian yang bisa dikatakan hampir sama, baik dari segi kesukuan, budaya dan bahasa.

Namun pada kenyataannya, 2 negara serumpun ini memiliki sejarah konflik yang cukup panjang, dari era 60an dimana Indonesia dan Malaysia yang dulunya bernama Federasi Malaya, berseteru merebut kawasan Kalimantan Utara (Sarawak dan Sabah) yang akhirnya secara resmi kawasan itu diambil alih oleh Federasi Malaya dengan persetujuan PBB dan pada tanggal 16 September 1963, Federasi Malaya berubah menjadi Malaysia.

Sejumlah konflik lainnyapun terjadi antara 2 negara serumpun ini, dari perembutan area, masalah TKI hingga klaim budaya dan akhir-akhir ini, konflik Indonesia dan Malaysia kembali mencuat dimana bendera Indonesia terpampang terbalik di buku panduan SEA Games 2017 yang diadakan di negeri Jiran itu.

Kata-kata kutukan terhadap Malaysia kembali keluar dari para netizen Indonesia dan munculah tagar yang sekarang ini viral, yaitu #ShameOnYouMalaysia

Bagaimana peran musik dalam hal ini? Musik adalah jembatan yang paling universal. Fakta membuktikan sebesar apapun konflik yang terjadi diantara 2 negara ini dapat diredakan dengan musik. Musisi-musisi tanah air banyak yang dikenal luas oleh masyarakat negeri Jiran itu. Noah, contohnya, setiap kali mereka menggelar konser disana, selalu dipenuhi penonton.

Pada tahun 2008 silam, band yang sebelumya bernama Peterpan ini sukses menggelar konser dengan tajuk Jelajah Malaysia yang digelar di 4 kota besar di Malaysia, yaitu : Kuala Lumpur, Tawau, Kuching dan Johor Baharu.

Tidak ada keresahan yang terlihat  padahal relasi Indonesia dan Malaysia kerap memanas akibat maslaah perbatasan wilayah, sentiment rivalitas dan gesekan berbagai isu

Animo masyarakat Malaysia terhadap Peterpan (sekarang ini Noah) tergambar lewat angka penjualan album dan jumlah penonton saat konser. Menurut peneliti budaya populer bernama Ariel Heryanto mencatat dalam bukunya yang berjudul Budaya Populer di Indonesia, Mencairknya Identitas Pasca-Orde Baru, sebelum 2007 diperkirakan sudah 200 ribu album Peterpan terjual di Malaysia.

Tidak hanya Peterpan yang sekarang bernama Noah yang merebut telinga masyarakat Malaysia, namun band-band lain seperti Sheila on 7, band asal Yogyakarta itu berhasil menduduki peringkat pertama Hits of the World untuk lagu Kisah Klasik Untuk Masa Depan yang dirilis Billboard chart Malaysia pada tahun 2001 lalu dan pada tahun 2003, Album 07 berhasil merah penghargaan musik negeri Jiran yang bernama Anugrah Planet Muzik Malaysia 2003 untuk kategori album terbaik.

Band Nidji, juga sangat populer di negeri Jiran dan bahkan saat konflik kain Batik yang diklaim Malaysia, band Nidji menggelar konser disana dengan mengenakan baju Batik Indnesia pada Januari 2010 lalu dan ketegangan dari konflikpun tidak terasa selama konser, justru para audiens terlihat cukup antusias mendengarkan setiap alunan musik yang disuguhkan, begitu kutipan dari KapanLagi.com mengenai reportase konser di Malaysia tahun 2010 lalu.

Dari fakta ini terlihat bahwa musik merupakan jembatan penengah yang universal dalam segala kondisi. Sebesar apapun sebuah konflik, selalu ada cara untuk meredakannya dan salah satunya lewat musik

loading...




nilai



Berita Terkait :

Komentar Anda