Rabu, 20 Februari 2019

Music Technology Lifestyle

Perkusi Untuk Perdamaian

Penulis :
Rabu, 06/08/2014 11.27.00 | Dibaca: 3478




Perkusi Untuk Perdamaian

www.flickr.com/kunokini


CompusicianNews.com -Sosial Budaya- Hampir setiap orang mengenal dan mendengar perkusi, entah karena itu menunjuk alat musik yang dipukul (benda), atau segala yang perkusif (sifat), yaitu bunyi yang bisa dihasilkan dengan dipukul, entah apapun bendanya. Sifat perkusif sudah ada sejak zaman pra-sejarah, dimana hentakan kaki dan tepukan tangan adalah sarana magis untuk memanggil dewa-dewa yang menyatu dengan suara dan tari-tarian primitif-komunal. Seiring dengan meningkatnya kebudayaan manusia dan teknologinya, yang dibarengi kebudayaan berburu, kita bisa melihat kreasi dari kulit dan kayu yang kemudian jadi instrumen membranofon, seperti bedug dan kendang misalnya. Perkusi kemudian tidak hanya dipukul saja, tetapi bisa dikocok (marakas) maupun ditangkupkan (simbal).

Sudah tentu perkusi sangat panjang sejarahnya, dan hingga kini telah bermigrasi ke seluruh benua. Kita bisa menemukan djembe misalnya, di banyak tempat, yang asalnya adalah hasil kreasi orang Konon, Sierra Leone, di Afrika Barat yang menebang pohon djem dan menjadikannya alat musik. Saat ini, djembe termasuk alat musik perkusi yang populer di Indonesia karena murah dan mudah dimainkan, bahkan menjadi souvenir dalam banyak variasi.

Perkusi Indonesia pun, dalam ragam bentuknya, adalah buah dari persebaran (diaspora) beberapa negara penting pelopor disseminasinya. Afrika, Turki, dan Portugal adalah titik-berangkat kunci jika kita hendak mempelajari lebih jauh sejarahnya. Tradisi perkusi Nusantara yang juga hibrida Cina, India dan Persia, akhirnya tumbuh di Jawa, Sunda, Banyuwangi, Bali, Sumatera, Kalimantan, Makassar, Papua, Nias, Maluku, Ternate, dari Sabang hingga Merauke. Musiknya: Jidor, Kromong, Talempong, Taganing, Gondang, Ceng-ceng, Ciblonan, Kulintang, Angklung, dan seterusnya. Instrumen Gong saja mempunyai banyak sebutan di berbagai daerah: gong, go’ong, ogung, dan ogong. Indonesia sangat kaya akan perkusi.

Tetapi, tidak semua di antara kita menyadari bahwa ternyata setiap manusia berbakat menjadi pemain perkusi. Tesis ini setidaknya bisa dibuktikan dari organ jantung yang dipunyai setiap manusia. Jantung adalah cikal-bakal pulse, yang kemudian dalam musik diistilahkan menjadi beat atau ketukan. Beat itu kemudian diisi dengan ritme-ritme atau filler tertentu, yang kemudian menciptakan yang kita sebut irama: samba, bossa, rumbha, swing, slow rock, dan seterusnya. Perkusi jelas sebuah tiruan dari kronik biologis manusia. Kadang-kadang kita menggerakkan kaki mengikuti irama musik, atau memukul-mukul meja sesuka kita, dan tak sadar kita sedang bermain perkusi dalam kadar yang ringan. Maka dari itu, perkusi, sebagai sebuah kebudayaan musik, jauh lebih potensial ketimbang lain-lainnya.

 

Perkusi saat ini tumbuh begitu menggembirakan di Indonesia. Ini setidaknya bisa dilihat dari banyaknya kelompok dan komunitas perkusi yang terus mengembangkan khasanah kebudayaan ini, baik melalui pertunjukan, pelestarian lagu-lagu daerah, pembuatan instrumen, penciptaan karya, pelatihan, workshop, hingga kajian-kajian serius.

Berdasarkan data penulis, terdapat seratusan kelompok dan komunitas perkusi yang tersebar di berbagai kota besar seperti Jakarta, Bandung, Solo, Yogyakarta, Surabaya, Makassar, Pekanbaru, Banyuwangi, Bali, dan lain-lain, dan tak ketinggalan pula di daerah-daerah seperti Pasuruan, Tegal, Banyumas, Cilacap, Banjarnegara, yang juga memiliki kelompok/komunitas perkusi yang begitu bersemangat, yang beranggotakan berbagai lapis usia, dari anak SD hingga orang-tua. Dalam sifatnya, hadirnya kelompok atau komunitas perkusi ini lebih kepada strategi daripada sebuah aktivitas berujung panggung belaka.

Peristiwa demi peristiwa yang terjadi di wilayah perkusi ini menarik untuk kita catat bersama sebagai sebuah aktifitas (kebudayaan) musik perkusi yang meninggalkan jejak penting yang selama ini jarang dilakukan oleh perguruan tinggi yang memiliki program perkusi.

Jejak penting tersebut antara lain, pertama, bertemunya komunitas perkusi lintas daerah untuk saling sharing maupun menimba ilmu perkusi. Kedua, mewujudkan asimilasi gaya baru, dimana para peserta yang kemudian kembali ke habitat masing-masing “diwajibkan” makin menyebarluaskan perkusi sebagai kebudayaan musik potensial. Ketiga, tumbuhnya kesadaran baru atas perkusi dan kebudayaan/cara pikir manusia, menyangkut kesadaran teknik, sejarah, falsafah dan sosial.

Ini juga bisa menjadi PR besar bagi seluruh masyarakat perkusi Indonesia—baik para guru yang mengajarkan perkusi barang-bekas kepada anak-anak, para pengamen kendang koplo, pengamen calung progresif Malioboronan, para wiyaga “perkusif” dalam karawitan, kelompok marching band, golongan pemain perkusi akademik dan para dosennya, grup perkusi world music yang sudah mapan dan sudah keliling dunia—untuk bersama-sama berani menghapus konsepsi tunggal atas fenomena perkusi yang beragam dan sangat bertumbuh di Indonesia.

Hari ini kita mencoba menerawang masa depannya, dan memberikan asumsi sederhana, bahwa kekuatan perkusi yang bergemuruh ternyata tidak hanya soal musik dan karyanya yang eksklusif, tetapi kontekstualisasi di masyarakat untuk menyebarkan nilai kemanusiaan yang penting dan belakangan makin terlupakan, yaitu kebersamaan untuk menjunjung tinggi keberagaman dan perdamaian lintas suku dan golongan. Politik dan Agama sepertinya tidak mampu menciptakan semua ini, musik (perkusi) justru sanggup mengatasinya.

loading...




nilai



Berita Terkait :

Komentar Anda