Sabtu, 20 Juli 2019

Music Technology Lifestyle

Sangkakala, Musik Sebagai Propaganda

Penulis :
Senin, 02/03/2015 14.38.02 | Dibaca: 3152




Sangkakala, Musik Sebagai Propaganda

compusiciannews.com


Compusiciannews.com -Komunitas- Sangkakala, sebuah band musik bergenre rock di Yogyakarta ini berdiri di tahun 2005 silam, dengan beranggotakan Baron Kapulet Araruna (Blankon) sebagai Vokalis, Eight Ball sebagai penyayat Gitar Elektrik, Rudy Atjeh sebagai pembetot Bas Elektrik dan Tatsoy sebagai penabuh Bedug Inggris, dan band ini sebelumnya berasal dari sebuah festival band rock di Yogyakarta dan nama Sangkakala ini dipilih karena saat itu sedang krisis nama band lokal dan akhirnya mereka pilih nama Sangkakala karena makna dari kata itu adalah suara atau audio yang menggelegar karena jenis music rock yang cukup memeiliki kecendurungan kearah Heavy Metal.

Berbicara mengenai genre musik, mereka lebih mengacu pada genre secara global, yaitu rock dikarenakan mereka masih memainkan distorsi dan beberapa jenis suara yang dimiliki juga bukan jenis suara metal, selain itu mereka dari awal juga tidak mengkategorikan jenis musik mereka.

“Kita hanya memainkan musik ala Sangkakala tapi secara global masih dalam genre Rock.” Kata salah satu personil yang kerap disapa Blankon ini.

Selama 10 tahun mereka berjalan, band yang terdiri dari mahasiswa Fakultas Seni Rupa, Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta ini telah membuat 1 album, meskipun bagi band yang sudah berjalan selama itu dibilang kurang produktif, namun dijelaskan bahwa mereka juga memiliki banyak projek yang mereka lakukan setiap tahun, yaitu projek macanista.

Projek macanista ini terdiri dari berbagai macam karya, salah satunya adalah film dokumenter yang bernama Movie Metalithikum, selain itu juga mereka ada beberapa karya berupa gambar kaligrafi yang cukup unik dan indah.

Diakui Blankon bahwa selain mereka berempat dalam band, ada anggota lain yang fokus pada karya-karya seni itu jadi mereka tidak hanya terpaku pada sebuah musik atau audio yang mereka bawakan dan mereka juga menganggap musik yang mereka suguhkan sebagai media propaganda dalam menunjukan karya-karya mereka.

“Karena beberapa dari kami adalah mahasiswa seni, jadi kami tidak hanya bermusik saja, tapi juga mengerjakan projek-projek macanista yang dimulai sejak 2011 lalu.” Kata Rudi Atjeh yang memainkan basis elektrik.

Projek ini diakui Rudi Atjeh mereka pakai sebagai penggalangan dana dengan memamerkan semua hasil-hasil karya Sangkakala, khususnya saat mereka harus launching album dan saat itu mereka tidak ada dana.

Mereka juga mengaku setiap mereka mengadakan event, persiapannya cukup rumit, mulai dari pembuatan banner dan beberapa hal ini termasuk karya-karya yang mereka ingin pamerkan, sehingga seakan seperti acara ekslusif Sangkakala sendiri dan mereka juga akui bahwa mereka lakukan itu sebagai bentuk rasa memiliki sebuah event dan hal itu membuat beberapa EO tertarik dengan event yang mereka buat karena karakter atau cirri khas mereka yang cukup kuat.

Sebutan macanista diambil karena gaya dandanan mereka seperti band-band jaman era 80an yang kebanyakan menggunakan symbol harimau saat itu, selain itu karena personelnya berasal dari beragam daerah di Indonesia dan Indonesia punya harimau, akhirnya mereka sepakat menggunakan gambar harimau sebagai simbol band mereka dan macanista bagi masyarakat yang mendengarkan dan menikmati musik mereka.

Dan mereka mengaku setiap kali perform, para macanista inilah yang mempengaruhi tempo permainan mereka, semakin macanista “menggila” dan ramai, mereka bermain semakin heboh. “Jadi kalau Sangkakala manggung, harus ada macanista tanpa macanista, kita garing.” Kata Blankon.

Dalam hal mendistribusikan informasi untuk setiap acara, diakui Sangkakala bahwa mereka jarang menggunakan media sosial karena pada kenyataannya memang masyarakat kurang responsif untuk menanggapi hal-hal yang ada di sosial media, seperti di twitter.

Namun anehnya, para macanista sejati selalu tahu kapan Sangkakala mengadakan event dan itu mungkin dapat dijadikan sebuah hal yang dipelajari bagi para komunitas lain bagaimana mereka dapat membangun hubungan yang erat dengan penggemar mereka.

Untuk lagu-lagu yang dibuat, mereka lebih fokus pada masalah sosial dan edukasi. Edukasi yang mereka berikan kebanyakan mengarah pada karya-karya yang dibuat dan untuk masalah sosial, ada salah atu lagu mereka yang berjudul “Tong Setan” yang menceritakan kehidupan para pekerja di “Tong Setan” yang kerap diadakan di setiap acara pasar malam.

Karena band ini cukup concern dengan pendidikan yang mereka selipkan dalam musik yang mereka akui sebagai media propaganda untuk memberikan sebuah pengajaran mengenai karya seni yang mereka buat, tim Compusician sempat menanyakan bagaimana prospek mengenai bidang seni, baik itu musik atau hal-hal lain yang berkaitan, kedepannya nanti dan bagaimana mereka menyakinkan ke masyarakat bahwa sebenarnya ada prospek besar untuk bidang seni, untuk pertanyaan ini, Blankon cukup dalam menjelaskannya, dia berkata bahwa  itu sudah masuk dalam dunia bisnis dan untuk Sangkakala, belum ada cara yang jitu bagaimana mengarahkan kesana, namun dia berkata bahwa memang ada peluang besar.

Dan untuk masalah meyakinkan kepada masyarakat mengenai prospek yang besar itu, Blankon menjawab cukup dengan terus berkaya sebaik mungkin dan tunjukan hasilnya kepada masyarakat, itu sudah cukup memberikan sebuah definisi mengenai prospek bidang seni musik dan lainnya kepada masyarakat.

“Kalau ngomongin prospek besar yang membawa kesuksesan, setiap orang punya standar dan definisi yang berbeda-beda, bagi masyarakat umum, standar pekerjaan yang berprospek besar dan sukses dalam pikiran mereka ya menjadi PNS.” pungkas Blankon yang ditemui bersama personel lainnya di basecamp mereka di area Patang Puluhan, Yogyakarta. Berikut ini salah satu gig dari Sangkakala, 'Tong Setan'

 

loading...




nilai



Berita Terkait :

Komentar Anda