Selasa, 23 Oktober 2018

Music Technology Lifestyle

Seminar Budaya FISIP UNS Ajak Audiens Mengenal Nigeria

Penulis :
Senin, 04/06/2018 10.20.59 | Dibaca: 590




Seminar Budaya FISIP UNS Ajak Audiens Mengenal Nigeria

Silas Maro Emovwodo, Mahasiswa Asing Asal Nigeria Membagikan Informasi Mengenai Nigeria dan Afrika Photo by: Hanida R


Compusiciannews.com -Sosial Budaya- Himpunan Mahasiswa Program Studi Hubungan Internasional (Himaters) Fakultas Ilmu Sosial dan Politik Universitas Sebelas Maret Surakarta (UNS) mengadakan sebuah seminar budaya pada hari Rabu (30/5) bertajuk Surakarta Chronicles: The Diary of a Young Black Man in Indonesia. Seminar tersebut menghadirkan seorang mahasiswa asing berkebangsaan Nigeria, Silas Emovwodo, sebagai narasumber yang membagikan pengalamannya selama menuntut ilmu di Indonesia.

Acara yang dihadiri mahasiswa dan dosen program studi Hubungan Internasional itu mengajak para hadirin untuk mengenal lebih jauh tentang benua Afrika, khususnya negara Nigeria, berikut sosial-budaya, ekonomi, serta politiknya. Beberapa fakta mengenai Nigeria pun turut disebutkan oleh sang narasumber, antara lain Nigeria memiliki 250 dari total 3.000 kelompok etnis yang tersebar di seluruh Afrika dan ibukota sektor Ekonomi Nigeria, Lagos, merupakan kota terbesar di seluruh di seluruh Afrika dengan populasi 21 juta jiwa

Tak sampai di situ, Silas juga mengungkap tentang stereotip orang berkulit hitam di mata orang Indonesia juga beberapa persamaan yang dimiliki Nigeria dan Indonesia, yang mungkin belum banyak diketahui orang seperti sistem pemerintahan dan kesamaan dari segi sejarah.

Surakarta Chronicles: The Diary of a Young Black Man in Indonesia bertujuan untuk mengubah stereotip dan cara pandang masyarakat terhadap Afrika. “Ada banyak hal yang perlu diketahui orang tentang Afrika lebih dari sekedar kemiskinan dan politik apartheid-nya.” ucap Silas. “Orang berkulit hitam atau keturunan Afrika kerap dikaitkan dengan aksi kriminal... tapi tidak jarang juga orang kulit putih, orang beragama yang melakukan kejahatan. Sementara agama, keturunan, dan sebagainya hanya berperan sebagai identitas bagi suatu kelompok. Jadi bisa disimpulkan, sebenarnya hanya ada dua orang di dunia ini: orang baik dan orang jahat,”.

Menanggapi salah satu pertanyaan audiens mengenai kontribusi pemuda pada negara di masa mendatang mengingat Nigeria dan Indonesia sama-sama memiliki populasi penduduk usia muda dan usia produktif yang tinggi dan menghadapi permasalahan sosial dan ekonomi yang mirip, Silas menyatakan bahwa kita perlu mendorong pemerintah untuk membuat kebijakan-kebijakan jangka panjang yang mampu mengakomodasi pemuda sebagai roda penggeraknya.

“Kita harus mendorong pemerintah sekarang untuk membuat kebijakan-kebijakan jangka panjang yang tepat. Jadi, ketika pemerintahan telah berganti, kita sebagai generasi muda bisa melanjutkannya dengan turut berkontribusi langsung demi kemajuan negara,”.

 

loading...




nilai



Berita Terkait :

Komentar Anda