Sabtu, 20 April 2019

Music Technology Lifestyle

Seminar Musik dan Kreativitas di ISI Yogyakarta

Penulis :
Jumat, 05/12/2014 13.03.21 | Dibaca: 3087




Seminar Musik dan Kreativitas di ISI Yogyakarta

Seminar Erie Setiawan


CompusicianNews.com -Pendidikan- “Setiap orang lahir kreatif.” Kredo tersebut hanyalah asumsi untuk memberikan energi kepada manusia, yang maknanya adalah, bahwa Tuhan tidak menciptakan manusia tanpa ketrampilan, tanpa akal-budi, tanpa adanya daya cipta untuk terus bertahan hidup. Inilah bedanya dengan binatang, yang hanya membuat sarang dalam bentuknya yang “itu-itu” saja. Sementara manusia bisa mere-kreasi sesuatu, mewujudkan sesuatu menjadi lain, dari yang sebelumnya tak ada menjadi ada. Ada istilah modifikasi dalam dunia otomotif. Kendaraan bermotor yang tadinya bentuknya standar bisa dibuat aneh-aneh.

Lalu jika kita letakkan ini ke dalam konteks musik, apa representasi yang sesungguhnya dari kreativitas di dalam musik? Kita mengenal istilah aransemen, komposisi. Apakah serta-merta orang yang bekerja di sebaliknya (arranger, komponis), disebut orang kreatif? Apa parameter dari kreativitas? Apa proses kreatif itu? Dan apa hubungan kreativitas dengan musik pendidikan?

Tiga pertanyaan yang terakhir disebut adalah yang mencoba dipecahkan dalam seminar dengan tema “Kreativitas dan Musik”, yang merupakan seminar intern dan digagas oleh Jurusan Musik ISI Yogyakarta (4/12). Menghadirkan tiga pembicara yang pas untuk memberikan pandangan tentang masalah tersebut: Pardiman Djoyonegoro (Kreator di Accapella Mataraman), Gatot D. Sulistiyanto (Komponis), dan Dr. Fortunata Tyasrinestu (Pedagog), dengan Moderator Gathut Bintarto (Dosen). Masing-masing menyampaikan pemikirannya sesuai dengan pengalaman empiris yang mereka tekuni.

Pardiman Djoyonegoro, yang telah lama berkecimpung di zona yang ia sebut “musik cangkem” menyampaikan pemaparan yang cukup menarik, dimana ia membedah tentang langkah-langkah yang paling penting dalam proses kreatif, mulai dari menemukan ide, mengajukan hipotesis, hingga pada tahap eksekusi. Kelompok yang dipimpin Pardiman, Accapella Mataraman, selama ini memang konsisten untuk membuat musik dengan media mulut. Bahkan guyonannya: “Hanya Accapella Mataraman yang menerima suara fals.” Pardiman yang lulusan Jurusan Karawitan ISI Yogyakarta ini memang piawai dalam hal kreativitas sejak dulu. Saat ini ia juga masih intens melatih anak-anak mendalami gamelan di sanggarnya.

Lain cerita dengan apa yang disampaikan oleh Gatot Sulistiyanto, seorang komponis muda yang selama ini dikenal bekerja di dua bidang: praktis dan teknis. Gatot adalah komponis yang menciptakan karya, dan ia juga seorang penata-suara yang mendalami masalah pendengaran dan akustik untuk pencapaian kualitas musik. Gatot menyampaikan beberapa tesis seputar esensi dari kreativitas. Apakah kreativitas itu sifat, sikap, tindakan, atau wujud keahlian musik? Pertanyaan ini menarik untuk kita telusuri lebih jauh.

Jika kita bedah secara terminologi, kreatifitas ini memiliki kata dasar serapan dari create, maka di-Indonesiakan menjadi kreat, kemudian if, untuk menunjuk sifat (yang menjadi pokok), lalu itas untuk meneguhkan bahwa itu wujud (kata benda). Kreativitas itu bisa kita pahami secara umum sebagai wujud yang memiliki sifat “selalu mencipta, selalu berbuat sesuatu, selalu tak kehabisan akal”, maka orang-orang kreatif di dunia ini adalah orang yang tak pernah kehabisan akal dan selalu punya cara untuk memecahkan masalah.

 

Sebagai penyeimbang bagi kedua pembicara (Gatot dan Pardiman)—yang keduanya adalah “orang lapangan” dihadirkan pula Dr. Fortunata Tyasrinestu, yang sehari-harinya bekerja di lingkungan pendidikan formal sebagai pedagog. Menarik pula apa yang disampaikan Tyasrinestu, yang lebih menyampaikan aspek teoritik dan memaparkan teori-teori kreativitas.

Yang perlu digaris-bawahi dari apa yang disampaikan Tyasrinestu adalah kisi-kisi kepribadian kreatif, yang ia tulis antara lain: bebas dalam berpikir, mempunyai daya imajinasi, bersifat ingin tahu, ingin mencari pengalaman baru, mempunyai inisiatif, bebas dalam pendapat, mempunyai minat luas, percaya pada diri sendiri, tidak mau menerima pendapat begitu saja, dan tidak pernah bosan. Beberapa parameter tersebut bisa kita jadikan tolok ukur untuk melihat pula sejauh apa kita kreatif?

Seminar yang berlangsung hampir tiga jam ini ditanggapi oleh berbagai peserta, dan sampai pada satu inti-sari yang penting untuk kita cermati bersama, bahwa kreativitas itu selalu mengintai kita setiap hari, kemunculannya ter-integrasi dengan sikap hidup sebagai upaya memecahkan masalah untuk terus bertahan hidup. Dalam dunia musik, tahap yang penting lagi sebelum menjadi kreatif adalah “imajinasi”, dimana tanpa imajinasi, kreativitas tak akan pernah ada.

loading...




nilai



Berita Terkait :

Komentar Anda