Resensi Film: Chappie

 

Compusiciannews.com -Film- Kali ini, menyorot di sebuah kota yang kepolisiannya didukung oleh polisi droid dari sebuah perusahaan senjata. Polisi droid ini sukses membuat tingkat kejahatan turun. Droid ini diciptakan oleh Deon Wilson (Dev Patel) Semua pihak bahagia, hanya 1 yang iri, yaitu Vincent Moore (Hugh Jackman). Vincent sendiri menciptakan robot besar “Moose” yang dioperasikan oleh pilat manusia dari jarak jauh. Deon terus berupaya membuat droid yang punya kesadaran, sehingga bisa berkreasi. Namun ide Deon ditolak mentah-mentah oleh perusahaannya, sehingga ia terpaksa melanggar protokol untuk mencapai ambisinya. Keadaan menjadi runyam, ketika satu-satunya droid yang memiliki kesadaran ini diculik oleh sekelompok mafia, Ninja & Yo-Landi (Yolandi Visser). Droid bernama “Chappie” (Sharlto Copley)  ini memiliki karakter seperti anak kecil, yang harus diajari agar mengerti. Jadi bagaimana nasib robot yang harus belajar memahami manusia ini? Tonton sendiri ya ­čÖé

Neill Blompkamp sebagai sutradara tampaknya memilih untuk mengeksplor proses yang dialami Chappie. Chappie sendiri menjadi robot yang lucu, menggemaskan, dan membuat penonton bisa menyayanginya. Yang unik juga efek suara yang dihasilkannya sebagai robot. Prosesnya sendiri persis seperti anak manusia belajar, namun lebih cepat. Hubungan Chappie dengan Ninja, dan terutama Yo-Landi berhasil dieskspos dengan baik; bahkan cukup mengharukan. Banyak adegan “drama” yang menarik simpati, salah satunya adegan Chappie kena bully. Namun dalam film dengan genre seperti ini, penonton tidak mengharapkan hal seperti itu. Penonton yang datang mengharapkan pertarungan yang seru, sehingga mungkin tidak akan sabar menghadapi adegan drama yang terlalu bertele-tele.

Bagian awal sampai hampir akhir film ini sebenarnya semuanya sudah terlalu basi untuk sebuah film robot. Yang cukup mencengangkan dari cerita film ini ada di bagian akhir, yang menjelaskan bahwa film yang distutradarai Blompkamp & Terri Tatchell berusaha keras menyiarkan apa yang menjadi imajinasi mereka. Terlalu memaksakan diri untuk mengungkapkan imajinasi juga tidak baik, karena film ini kurang landasan teori. Akibatnya, hal-hal ilmiah yang terjadi di film ini tampak tidak nyata dan tidak masuk di akal. Selain hal ilmiah yang tidak logis, ada juga hal sepele yang aneh, seperti: Bukankah seharusnya untuk sekelas pencipta droid yang laku keras dia sudah bergelimang harta? Bukannya bekerja di kubikel dalam perusahaan dan tampak miskin. That's strange.

Karakter yang diperankan Patel, Copley, Ninja, dan Yolandi justru bagus; yang dipertanyakan adalah karakter Hugh Jackman sendiri di film ini,  tidak memberikan kontribusi berarti. Tidak dibutuhkan seorang Jackman untuk memerankan karakter Vincent di sini. Sungguh disayangkan, ide cerita ini bisa jadi lebih baik, seandainya tidak terlalu mengingatkan kita pada “Robocop”. Robocop masih jauh lebih kuat di unsur cerita. Nilai total adalah 5/10 @ristiirawan.

MESSAGES BEHIND THE MOVIE

Bagi orang yang percaya dengan afterlife, di mana kita akan menerima “tubuh baru”. Film ini juga berbicara tentang hal ini, yaitu memberikan gambaran kemungkinan bahwa “tubuh baru” kita ke depannya nanti adalah robot.
Pesan tersembunyi tapi tersirat juga bahwa ada teriakan-teriakan ke Sang Pencipta, “Kalau Anda menyayangiku, kenapa memberikan aku tubuh yang bisa mati? Kalau begitu, berarti Anda tidak menyayangiku.” Manusia di dunia ini tidak abadi. Berusaha melawan hal tsb, manusia mencari solusinya lewat ilmu pengetahuan dan teknologi. Pesan yang ada di film ini justru berkebalikan dengan taglinenya: “Humanity's Last Hope Isn't Human”. Karena harapan yang ditunjukkan di film ini, memang bukan manusia, tapi robot yang DICIPTAKAN manusia. Do you agree? Choose wisely ­čÖé

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *