Sekilas Mengenal Lebih Dekat Tentang Musik Gambang Kromong

 

Compusiciannews.com – Sosial Budaya – Gambang kromong dikenal sebagai musik tradisional betawi. Tercipta dari permainan orang-orang tionghoa peranakan dengan instrumen su-kong, the-hian, dan kong-a-hian, bangsing (suling), kecrek, dan ningning dipadukan dengan gambang yang menggantikan fungsi iang-khim, semacam kecapi tionghoa tetapi dimainkan menggunakan pengetuk dari bambu pipih.

Baru tahun 1880-an, orkestra gambang ditambah kromong, kendang, kempul, gong, dan kecrek dan tersebar luas hingga daerah Bogor, Tangerang dan Bekasi. 

Nada dan laras

Gambang kromong memiliki 5 nada (pentatonis) yaitu sol (liuh), la (u), do (siang), re (che), dan mi (kong). Larasnya adalah salendro khas tionghoa yang disebut salendro cina atau salendro mandalungan. Instrumen gambang kromong diatur mengikuti salendro cina tadi. Selain itu, pemusik gambang kromong atau panjak harus mampu membaca not-not yang ditulis dalam bahasa tionghoa untuk memainkan lagu-lagu pobin.

Lagu pobin

Lagu pobin merupakan lagu gambang kromong yang paling tua. Berisikan permainan instrumen musik tanpa dinyanyikan. Lagu pobin sudah jarang dibawakan. Hanya beberapa judul yang masih bisa ditemukan diantaranya khong ji lok, peh pan thau, cu te pan, cai cu siu, cai cu teng, seng kiok, serta lagu pobin lainnya. 

Lagu dalem

Lagu dalem merupakan lagu yang dinyanyikan dalam bentuk pantun melayu betawi. Memiliki irama tenang dan jernih dan dinyanyikan untuk mengetahui kualitas vokal seorang penyanyi. Di antara lagu-lagu dalem yang dapat dinyanyikan masnah dan ating (sebagian) yaitu poa si li tan, peca piring, semar gunem, mawar tumpa, mas nona, gula ganting, tanjung burung, nori kocok (burung nori), dan cente manis berdiri.

Wayang cokek

Wayang cokek adalah perpaduan istilah melayu “anak wayang” yang berarti aktris, dan cokek dari dialek hokkian “chioun-khek” yang berarti menyanyi. Sehingga istilah wayang cokek berarti aktris yang menyanyi.

Lagu sayur

Lagu sayur diciptakan untuk ngibing atau menari bersama tamu. Oleh karena itu lagu sayur terdengar lebih riuh. Lagu-lagu sayur diantranya kramat karem (pantun dan biasa), onde-onde, gelatik ngunguk, surilang, jali-jali (versi ujung menteng, kembang siantan, pasar malem, kacang buncis, cengkareng, dan jago), stambul (satu, dua, sere wangi, rusak, dan jalan), persi (rusak, jalan, kocok), cente manis, kodehel, balo-balo, renggong manis, kakang haji, renggong buyut, jepret payung, lenggang kangkung, kicir-kicir, dan siri kuning.

Kegiatan menari wayang cokek dan pasangannya disebut ngibing cokek, memakai selendang yang disebut cukin (hok) atau soder (sunda). Maraknya ngibing mengindikasikan budaya tionghoa peranakan semakin terpengaruh dengan budaya lokal.

Liau kulon dan liau wetan

Gambang kromong telah berkembang menjadi dua liau atau gaya yaitu liau wetan meliputi jakarta timur yang terpengaruh budaya sunda gunung (topeng) dan tanjidor, dan liau kulon meliputi jakarta barat hingga tangerang yang kental budaya betawi. Liau kulon sering memainkan lagu jali-jali, stambul dan cente manis. Sedangkan liau wetan lebih suka lagu kicir-kicir, lenggang kangkung dan siri kuning.

Tari

Lagu-lagu sayur diciptakan untuk mengiringi orang ngibing. Bahkan ada tari atau ibing khusus pada lagu tertentu. Contohnya adalah lagu balo-balo yang diibingkan dengan wayang cokek dan pasangannya berdiri saling membelakangi pada bagian tertentu. Lagu onde-onde dengan saling bergantian turun naik dan meloncat-loncat sambil berjongkok untuk lagu glatik ngunguk.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *