Solo Cello Kodaly yang Menegangkan

 

Compusiciannews.com -Sosial Budaya- Alfian Adytia, cellist (pemain cello) muda berbakat dari Yogyakarta, malam itu (9/3) suskes membuat merinding para audiens di Perpustakaan Bank Indonesia, Surabaya, yang secara khusus memang datang untuk menyimak penampilannya dalam acara Pertemuan Musik Surabaya edisi Maret 2015. Alfian memainkan Sonata untuk Solo Cello tanpa iringan ini dengan cukup sempurna. Dan kemudian ia membahasnya. 

Kodaly membuat karya Sonata untuk Cello tanpa iringan Op.8 ini pada 1915, dimainkan pertama kali pada 1918 oleh Jeno Kerpely, dan diterbitkan secara cetak pada 1921. Karya ini merupakan salah satu karya penting untuk cello tanpa iringan setelah “6 Suita” dari Bach yang diselesaikan pada 1723. Pada tahun yang sama ketika membuat Sonata ini Kodaly juga menulis karya untuk solo cello dengan titel Capricio, yang didasarkan atas lagu rakyat Hungaria, namun karya tersebut tidak diterbitkan.

Seperti ciri pada musik-musik Kodaly umumnya, pada Sonata ini Kodaly juga menggunakan idiomatik musik tradisional Hungaria, yang terutama diwakili harmoni, melodi, maupun ritme. Namun begitu, Kodaly tetap menggunakan kaidah formal dari penjabaran bentuk Sonata yang baku pada umumnya.

Beberapa keistimewaan dari karya Sonta untuk cello ini adalah penalaan skordatura, perluasan/keunikan gaya komposisi untuk cello, serta teknik-teknik yang cukup sulit. Maka karya ini sangat penting sebagai pijakan untuk menggali kaidah estetik sebuah komposisi (untuk cello), maupun penguasaan teknik dan interpretasi bagi pemain.

Sebagian besar pemain cello menganggap bahwa karya ini merupakan “ujian besar”, dan daripadanya akan mampu menimbulkan pengakuan khalayak ketika mampu memainkannya.

Karya ini telah melampaui zona waktu cukup panjang: 100 tahun! Dan telah banyak cellist telah merekamnya secara serius, antara lain: Erling Blöndal Bengtsson, Natalie Clein, Rohan de Saram, Antony Cooke, Gisela Depkat, Pierre Fournier, Alban Gerhardt, Matt Haimovitz, Frans Helmerson, Yo-Yo Ma, André Navarra, George Neikrug, Truls Mørk, David Pereira, Yuli Turovsky, Alisa Weilerstein and Pieter Wispelwey.

Dan seorang cellist yang dianggap paling produktif adalah Janos Starker karena ia merekam Sonata ini selama beberapa kali serta memenangkan Grand Prix du Disque, penghargaan untuk rekaman musik, yang kemudian itu berhasil meningkatkan debutnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *