Teknologi 3D di Industri Musik Dunia

 

CompusicianNews – Industri – Teknologi baru telah memberikan model bisnis baru yang telah ada yang akan memperkaya para pelaku musik dan membuat mereka memiliki gaya hidup yang boros lewat hasil penjualan album mereka.

Mp3 player yang terkenal dari Apple menyebabkan perusahaan musik digital menurunkan biaya untuk konsumen dan menjual kembali CD-CD yang tidak laku untuk penjualan berikutnya. Penjualan album di UK yang merupakan pasar terbesar ketiga di dunia yang mencatat sekitar 10%  dari pasar global telah turun selama 6 tahun berturut-turut.

Jumlah penjualan tahun lalu bangkit untuk pertama kalinya sejak 2003 didukung dengan penjualan lewat pengunduhan, menurut badan industri BPI. Tapi sepertinya penjualan tidak dapat secara penuh merestorasi keadaan. Jumlah penerimaan global untuk musik termasuk pengunduhan atau download jatuh hingga 25% dari US$ 38.6 Milyar di tahun 1999 ke US$27.5 Milyar ditahun 2008, menurut International Federation of the Phonographic Industry (IFPI)

Tapi pada waktu yang sama, saat industri musik rekaman mengalami kemerosotan, konser musik semakin berkembang (3D) dengan penampilan LIVE yang menjadi parameter untuk menghasilkan proporsi yang jauh lebih besar dibanding pendapatannya. Kebanyakan saat ini musisi banyak melakukan touring dalam rangka mempromosikan album baru dibanding hanya sekedar memenuhi kebutuhan.

Di UK, dimana festival musim panas sudah sangat mapan dan terdapat banyak event dibanding  negara lain di dunia barat, selama decade terakhir terlihat adanya kebangkitan konser musik. Penjualan tiket berkembang hingga 9,4% antara tahun 2008 dan 2009 menurut laporan yang ada, perkembangan ini telah menambah royalty untuk artis atau penyanyi.

Rata-rata pertumbuhan melambat tapi hal ini dapat diberikan suatu rangsangan merencanakan memfilmkan lebih banyak konser dalam 3D, mereplikasi konser untuk audiens yang baru. Kedatangan 3D dapat menandai momen saat teknologi modern masuk dalam industri musik dibanding merehatkan penjualan.

Setelah percobaan yang berhasil dengan memifilmkan live sport dalam 3D, ada rencana yang besar untuk melakukan hal sama untuk konser musik dengan harapan memperoleh penerimaan tambahan yang sama dengan keuntungan yang dihasilkan film dan industri pertelevisian.

Black Eyed Peas akhir-akhir ini mengumumkan akan rencana mereka untuk membuat film 3D yang akan disutradarai oleh sutradara film terkenal yang sudah menjadi movie director untuk film-film box office terkenal seperti Titanic dan Avatar, dia adalah James Cameron dan dijadwalkan akan dirilis tahun 2014, film ini akan diproduksi oleh rumah produksi 3eality Digital, perusahaan produksi di Amerika Serikat yang didirikan oleh Sandford “Sandy” Climan, mantan agen Hollywood yang mewakili Robert de Niro dan Redford.

Melalui metode ini, industri musik dapat melawan pembajakan karena film 3D hampir tidak mungkin ditiru dan harganya cukup mahal untuk direproduksi.

Climan  percaya bahwa dengan pasar konser 3D akan menghasilkan banyak keuntungan  saat ditanyangkan di Bioskop karena sudah pasti penggemar berat dari artis-artis yang ada di fim konser 3D akan tergoda untuk menonton karena mungkin beberapa fans tidak mampu bayar tiket konsekarena tiketnya terlalu mahal.

Untuk teknologi perlu berkembang sehingga audiens tidak perlu menggunakan 3D glass atau kaca mata 3D saat menonton di layar sehingga dengan mata telanjang, audiens dapat merasa nonton konser yang sesungguhnya dan saat ini, industri hiburan sedang mengusahakan teknologi ini tapi masih dapat diaplikasikan beberapa tahun kedepan.

Membuat film 3D sangat mahal karena membutuhkan banyak kamera untuk dapat memperoleh gambar artis dari segala sudut tapi seiring berjalannya waktu, budgetnya pasti akan turun dan masih dapat mengharapkan banyak musik dan video difilmkan dengan cara 3D.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *